Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
78. Fase Keputusasaan


__ADS_3

Setelah selesai makan dicafe itu, mereka melanjutkan obrolan. Allea pun menjawab pertanyaan Rania soal Amira dan Sandy. Sama seperti Mario dan semua keluarganya, mereka tak percaya akan berita itu. Allea pun menceritakan pula soal Amira yang menuntut Sandy menikahinya dan mertuanya yang juga menyuruh Sandy menikahi Amira secara siri.


"Wahh...jangan sampai kak Sandy menikahi perempuan itu, Al! Aku gak percaya, pasti semua ini cuma akal-akalan dia aja!" kata Nayla berapi-api.


"Iya Al, sepertinya gak mungkin kak Sandy melakukan itu apa lagi ke Amira!" tambah Rania.


Allea menghela nafas sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jarinya.


"Ya kalo mau dipikir secara logika juga aku gak percaya. Tapi waktu itu kan kak Sandy sedang terpengaruh alkohol. Kamu ingat kan Nay, waktu aku temukan dia dan mobilnya di tanah kosong itu?" Nayla mengangguk pada Allea. "Kak Sandy mabuk berat, kejadiannya tepat malam sebelumnya waktu kita hiking. Jadi aku juga percaya gak percaya" jelas Allea.


"Tapi koq bisa pas gitu ya kalo dipikir?" kata Rania seperti berpikir.


"Maksudnya?" Allea mengernyit tak paham.


"Itu Al, kenapa mereka bisa pilih waktu yang pas saat kamu gak ada, ini kebetulan atau...gimana ya? Bingung juga.." Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Gak tau juga sih. Oh iya, aku duluan ya, ada urusan penting. Maaf aku gak bisa ikut gym hari ini.." Allea bersiap pergi.


"Hati-hati ya kalo gitu, kalo butuh apapun jangan sungkan telpon aku.." kata Rania yang langsung dapat anggukan Allea.


"Eh Al, tunggu aku mau cerita nih.." cegah Nayla.


"Aduh, pending dulu Nay. Besok kapan-kapan aja ya, bye guys.."


"Lho Al, ini penting, aduh..main kabur aja sih!"


Nayla menggaruk kepalanya kasar sambil terus memandangi Allea yang berjalan cepat keluar dari cafe. Padahal ia ingin bercerita soal melihat Andre dan Amira di mall waktu itu.


Β Β Β Β  πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ πŸƒ


Di PT Prayoga Gemilang. Sandy menghempaskan tubuhnya ke sofa setelah menerima laporan dari orang yang mengurus mobil Ananta. Ponsel Ananta memang ada tapi dalam keadaan mati dan tak bisa menyala. Mungkin karena terlalu lowbatt atau apa ia juga tak paham. Hal ini tentu saja membuatnya makin sulit menemukan bukti dari hasil tes kemarin. Sandy sudah meminta tolong untuk dibawa ketempat service gadget, ia berharap masih bisa mendapatkan bukti foto tes itu saat ponsel Ananta menyala nanti. Meskipun ia sendiri tak tauΒ  berapa lama harus menunggu sampai ponsel itu normal lagi.

__ADS_1


Ia menghela nafas lalu mengusap tengkuknya yang terasa berat. Dilihatnya sekilas ponselnya, belum ada balasan dari Allea soal ajakannya pulang ke apartemen mereka malam ini. Padahal ia sudah teramat kangen bisa tinggal bersama lagi di apartemen. Ponsel Sandy bergetar tanda panggilan masuk. Yang ia harap dari Allea tapi malah Amira yang menelpon. Sandy menggeram kesal, dua kali panggilan ia abaikan tapi tetap aja Amira terus menelponnya. Hingga mau tak mau Sandy akhirnya menjawabnya.


"Hallo? Kenapa?"


πŸ“±: 'Sayang...koq suara kamu bete gitu sih?' Amira terdengar manja seperti biasa.


"Cepat bilang, ada perlu apa menelpon? Aku lagi banyak kerjaan ini!"


πŸ“±: 'Jangan galak-galak dong, aku cuma mau bilang makasih kemarin udah dikasih layanan spa terbaik buat aku n' baby. Baby kita pasti tambah sehat kalo papanya perhatian gini..'


Sandy mengepalkan tangannya menahan kesal mendengar ucapan Amira yang menyebut kalo itu bayi mereka.


"Iya, gak masalah. Ada lagi?"


πŸ“±: 'Jadi kapan kita akan menikah? Aku barusan tanya ke pihak rumah sakit. Kata dokter papa kamu udah lebih baik koq. Berarti kita bisa kan nikah dalam waktu dekat?'


Degg!


"Iya...aku pikirkan dulu waktunya ya. Aku pengen pastikan papa keluar dulu dari rumah sakit" jawab Sandy datar.


πŸ“±: 'Pokoknya aku gak mau ditunda-tunda terus. Kalo bisa bulan ini kita udah resmi jadi suami istri!'


"Ya gak bisa gitu dong, aku masih punya Allea yang harus aku pikirkan!"


πŸ“±: 'Kalo gitu cepat ceraikan dia atau bagaimana tolong segera kamu putuskan dong, San!'


Sandy menghela nafas panjang, mendengar kata cerai benar-benar membuatnya frustasi. Tentu saja ia tak mau kalo harus berpisah dari Allea. Cintanya masih sangat besar untuk Allea sampai kapan pun.


"Udah dulu ya, tolong kasih aku waktu berpikir!" jawab Sandy lalu mematikan panggilan.


Sandy melempar ponselnya ke meja depan sofa lalu kembali menghembuskan nafas sambil membanting punggungnya di sandaran sofa. Kepalanya serasa mau pecah memikirkan semua itu yang seakan gak ada ujungnya. Bagaimana perasaan Allea kalo tau apa yang Amira katakan barusan? Ia pun tak siap kalo harus menikahi Amira dan jika Allea benar-benar meninggalkannya nanti. Sandy kembali memijit pelipisnya yang berdenyut, pikirannya seakan buntu dan ingin menyerah. Tapi keputusan untuk menyerah juga malah akan semakin menyiksanya nanti. Karena menyerah itu artinya ia terpaksa memilih hidup bersama Amira dan menduakan Allea.

__ADS_1


πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚


Di waktu yang bersamaan. Begitu sampai di hotel tempat kejadian Sandy dan Amira, Allea iseng menemui bagian HRD dan meminta ijin untuk melihat CCTV pada tanggal itu. Tapi seperti yang ia duga, sudah tak ada lagi karena telah terhapus dan telah diambil oleh yang berkepentingan dengan kejadian saat itu. Di cafe tempat Sandy diberi minuman pun sama ia tak mendapatkan apa-apa.


'Sebenarnya siapa yang telah mengambilnya?' batin Allea penasaran.


Allea lalu keluar hotel dan melihat sekitar kanan kiri. Sebelah kanan hotel ada sebuah tempat es krim gelato. Yang di depannya ada tempat parkir sejajar dengan tempat parkir hotel ini. Allea mengamati sekitar parkiran gelato, tapi sepertinya ia tak melihat ada CCTV. Allea berjalan mendekati seorang tukang parkir.


"Maaf pak, di area parkir sini ada CCTV-nya gak ya?"


"Dulu ada tapi sudah beberapa bulan rusak dan belum di perbaiki. Itu tadinya disana tempat CCTVnya"


"Owh..gitu ya?" Allea mengikuti arah yang ditunjuk si bapak tukang parkir.


"Iya mbak. Maaf ada apa ya? Apa kehilangan sesuatu disini?"


"Owh...enggak pak. Terimakasih kalo gitu.." kata Allea.


Tulang parkir pun mengangguk dan pergi. Allea kembali melihat titik bekas CCTV yang ada di parkiran gelato. Sayang sekali, harusnya misal CCTV masih menyala, ia bisa meminta rekaman pada hari itu. Karena kebetulan letak CCTV itu pas sekali mengarah ke depan hotel. Tempat keluar masuk kendaraan yang ada di hotel. Ia ingin tau, siapa yang membawa mobil Sandy ke tanah kosong waktu itu. Allea pikir, pasti orang itu ada hubungannya dengan Amira.


Allea lalu berjalan lagi ke sisi kiri hotel, disana hanya ada bangunan setengah jadi. Ada juga beberapa pekerja disana, tapi mana mungkin ia menanyai mereka satu per satu. Apa lagi sudah sebulan lebih kejadian itu berlalu. Allea melajukan motornya pelan dan berhenti di kursi taman depan hotel. Ia duduk melamun memandangi ruko-ruko di depannya dan kendaraan yang lewat berseliweran di jalan yang tak seberapa lebar itu. Allea memikirkan cara apa lagi yang bisa ia coba untuk membantu suaminya menemukan bukti. Kalo sampai berlarut dan belum juga bertemu titik terang ia khawatir Amira akan semakin mendesak Sandy untuk menikahinya. Terlebih kalo kondisi mertuanya makin membaik, pasti papa Roby juga tetap akan meminta suaminya menikahi Amira secara siri. Dalam hati Allea sebenarnya gak mau berbagi suami. Ia ingin cinta Sandy cuma untuknya seorang. Biarpun Sandy sendiri juga jelas menolak, tapi kalo papanya mendesak ia bisa apa? Pasti suaminya tak ingin mengulang kejadian papanya drop lagi hingga mengancam nyawanya. Ia jadi ingat chat Amira yang begitu menyakitkan hatinya waktu itu.


'Kamu pilih di madu atau di cerai?'


Kata-kata itu terngiang kembali di telinga Allea. Terbayang wajah angkuh Amira yang mungkin sebentar lagi akan tersenyum penuh kemenangan. Ia berhasil merebut Sandy darinya bahkan akan memberinya anak seperti yang Sandy inginkan. Bukan seperti dirinya, yang bahkan belum diijinkan hamil lagi.


'Ya Tuhan...apa sebaiknya memang aku mengalah saja?' batin Allea.


Perlahan air matanya mengalir, ia pun terisak sambil menunduk menyangga wajahnya dengan kedua tangan. Baru membayangkan aja rasanya sakit begini, bagaimana misal nanti benar terjadi..?? Allea makin terguncang dalam tangisnya. Ia tak peduli lagi keadaan sekelilingnya. Tanpa ia tau, ditempat lain suaminya pun hampir putus asa memikirkan masalah ini. Allea juga tak tau jauh di depannya ada yang mengawasinya sejak ia datang tadi. Melihat Allea makin menangis, orang itu pun berjalan mendekat.


"Allea...kamu ngapain nangis disini?"

__ADS_1


__ADS_2