
Allea terlihat segar setelah selesai membersihkan diri pagi ini. Ia pun lanjut ke dapur ingin membuat sarapan, tapi ia berniat membuat makanan yang di sukai juga oleh suaminya. Mengingat beberapa hari ini Sandy tak pernah sarapan lantaran morning sickness yang dialaminya karena Allea ternyata hamil. Tapi Sandy tak menyadari dan Allea belum memberitahunya, rencana tengah malam ini akan Allea beritahu karena bertepatan dengan ulang tahun Sandy.
"Bikin apa ya yang bisa masuk ke perutnya? Kasian kalo mual terus gak sarapan..." gumam Allea sambil menyapukan pandangan ke isi kulkas.
"Aku tanya aja kali ya? Tanya ke papa yuk, mau makan apa pah?" gumam Allea sambil mengelus perutnya lalu tertawa kecil.
Allea merasa exited sekaligus takjub setelah tau sekarang diperutnya ada kehidupan yang harus ia jaga. Sesuatu yang cukup lama mereka tunggu-tunggu.
"Sayang, mau sarapan apa?" seru Allea sembari melangkah ke kamar mereka.
Tapi Allea mempercepat langkahnya menuju kamar mandi begitu mendengar Sandy muntah.
"Sayang...kamu muntah lagi ya?" Allea mendekat dan memijit pelan pundak suaminya.
"Gak muntah koq sayang, cuma mual. Aku barusan selesai gosok gigi, kenapa sekarang sensitif banget ya? Biasanya gak begini.." jawab Sandy setelah membasuh mulut.
Allea memeluk Sandy dari samping. "Maaf ya, gara-gara aku..kamu jadi gini.."
"Maksudnya gimana sayang, koq gara-gara kamu?"
Allea tersadar sudah kelepasan bicara, bisa-bisa gagal rencana membuat surprise untuk suaminya. Duh, Allea...bego banget sih! Batinnya merutuki diri.
"Eh...enggak, maksudnya kan ini pasta gigi aku yang pilih. Jadi mungkin kamu gak cocok pake ini, makanya mual pas dipake, gitu.." jawab Allea berkelit.
"Oowh...ya bukan karena itu sayang, kan kita udah lama pake ini. Perut aku aja nih yang gak beres!" jawab Sandy. Allea lega Sandy tak curiga.
"Ya udah, sekarang kamu pengen sarapan apa? Masih mual?"
Sandy mengangguk. "Lumayan. Aku lagi pengen makan lontong sayur padang yang di depan kantor. Gak papa ya, aku gak sarapan dirumah?"
Allea tersenyum nyaris terkikik mendengarnya, ternyata bukan hanya 'konon' suami bisa mengalami ngidam. Sekarang ia melihatnya sendiri di depan mata, suaminya sendiri pula.
"Kamu gak marah kan hari ini aku gak sarapan lagi?" ulang Sandy.
"Enggaklah, gak papa. Tapi minum teh jahe ya, biar mualnya berkurang, sama makan buah aja gimana?"
"Iya deh dikit aja buahnya.." Allea mengangguk. "Aku ganti baju dulu ya, nanti aku susul"
"Oke.."
"Eh sayang..?" panggil Sandy membuat Allea melongok lagi ke pintu. "Kamu gak kuliah?"
"Ehm...hari ini dosennya gak ada!" jawab Allea nyengir.
Sandy membulatkan bibirnya. "Kalo besok bisa ijin lagi gak?" tanya Sandy lagi.
"Emangnya ada apa? Koq aku disuruh bolos?" Allea berlagak polos.
Sandy tertegun karena mengira istrinya lupa hari ulang tahunnya.
"Ya gak papa, aku pengen ajak kamu pergi jalan-jalan aja" jawab Sandy tak menaruh curiga pada wajah polos istrinya.
__ADS_1
"Biasanya nunggu weekend kalo mau pergi?"
"Emang kamu gak ingat besok hari apa?" selidik Sandy.
"Ya ingatlah!" Sandy menarik ujung bibirnya. "Hari jumat kan?!" sambung Allea membuat senyum di wajah suaminya sirna seketika.
"Iya...jumat" lirih Sandy menghela nafas pasrah lalu membiarkan Allea pergi.
Ia tak tau, Allea setengah mati menjaga ekspresi wajahnya menahan tawa, agar Sandy mengira ia benar-benar lupa hari ultahnya. Allea juga sengaja tak masuk kuliah karena ingin menyiapkan surprise untuknya tengah malam nanti.
🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺 🌺
Sorenya, Allea sudah memesan cake dengan dekor full keju dipermukaannya. Cake favorit mereka dari jaman pacaran dulu, kali ini jadi birthday cake dengan kepingan coklat ditengah sebagai papan ucapannya dan beberapa buah strawberry memutar di sisinya. Allea tersenyum membaca tulisan diatas kue itu 'hello papa, happy birthday'. Ia makin tak sabar menunggu Sandy pulang. Tak lupa pula Allea memesan beberapa tangkai mawar sebagai pelengkap kejutan nanti malam. Sebuah jam tangan mewah pun sudah terbungkus rapi sebagai kado yang ia siapkan jauh beberapa hari yang lalu. Kacamata antiradiasi baru untuk suaminya pun menjadi bagian kado juga buat malam nanti. Allea sengaja membelikannya lagi karena ia tau kacamata Sandy patah beberapa hari lalu dan Sandy terlihat kurang nyaman di depan laptop tanpa memakai kacamata.
Sementara di kantor, Sandy sedikit kecewa pada Allea yang ia anggap lupa hari ultahnya. Terlebih seharian ini Allea tak menghubunginya untuk sekedar menanyakan kesibukannya. Padahal biasanya Allea menelpon, menanyakan perutnya sudah baikan atau belum dilanjut menanyakan makanan apa yang bisa masuk ke perutnya. Tapi seharian ini nihil tak ada satu pun chat terlebih telpon, makin ambyar sudah moodnya hari ini. Ditambah ia harus lembur menyelesaikan pekerjaannya karena besok ia ingin ijin tak masuk kerja. Ia tetap akan mengajak Allea pergi merayakan ultahnya di suatu tempat biarpun istri cantiknya itu lupa hari lahirnya. Ananta sudah mengurus semuanya dan ia tinggal mengajak Allea saja.
[Sayang, aku lembur. Mungkin pulang hampir tengah malam] tulis Sandy pada chatnya.
Allea tak langsung membalas, ia sengaja hanya mengintipnya saja karena juga sedang sibuk mengemas kado. Tak berapa lama Sandy chat lagi.
[Sayang, kamu lagi ngapain sih?! Koq chat aku gak dibuka?]
Allea terkikik sendiri membayangkan wajah masam suaminya disana.
Padahal lebih dari itu, saat menjelang malam Allea hanya sekali membalas chat Sandy dan berkata sedang ada teman datang ke apartemen. Sandy makin merasa disisihkan, ia frustasi saat Allea ditelpon pun tidak menjawab. Ia serasa ingin cepat sampai apartemen, dengan segera ia selesaikan sisa pekerjaannya. Tapi dengan pikiran yang tidak bisa fokus tetap jadinya kacau dan tak kunjung selesai.
"Huuuffhh...astaga, Alleaaa..." Sandy menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi sementara kepalanya mendongak sambil memejamkan mata.
Ia mengatur nafas lalu memijit keningnya beberapa kali agar pikirannya sedikit jernih.
Beberapa saat kemudian, ia kembali mengatur nafas sebelum tenggelam lagi didepan laptopnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.40 saat Sandy melajukan mobilnya untuk pulang. Pekerjaan akhirnya selesai, untung ada Ananta yang selalu setia di dekatnya. Bahkan mereka turun bersama dari gedung kantor sebelum memasuki mobil masing-masing dan berpisah. Jalanan yang mulai lengang membuat Sandy leluasa menaikkan kecepatan mobilnya. Tepat semenit sebelum jam 00.00 ia sampai di depan pintu apartemen. Wajah lelahnya makin tak bersemangat saat ia mencoba menekan bell tapi tak ada respon dari Allea.
"Pasti udah tidur.." gumamnya.
Untung ia punya akses juga untuk membuka pintu apartemennya. Jadi dengan mudah ia bisa masuk, tapi ia heran saat menemukan semua ruangan gelap. Biasanya lampu kecil yang temaram tetap dinyalakan, tapi malam ini ia hampir tak bisa melihat.
"Kenapa mati semua?"
Sandy berjalan perlahan melewati ruang tamu, ia mengernyit saat melihat lilin kecil di meja. Begitu ia mendekat ternyata ada setangkai mawar dan tulisan tangan Allea.
"Happy birthday suamiku tercinta.."
Sandy tersenyum, dibawanya mawar itu setelah mencium harumnya. Ia melangkah ke ruang tengah, terlihat ada lilin lagi, kali ini dengan sebuah kotak yang tak terlalu besar tapi juga tidak kecil dengan setangkai mawar lagi. Sandy mengambil kotak itu, ada tulisan lagi diatasnya.
"Hadiah kecil buat suami hebatku, jangan lupa dibuka dulu sebelum menemukan mawar selanjutnya ya.."
Sandy menyunggingkan senyum lagi, begitu melihat isi kotak itu jam tangan yang sudah lama ia inginkan.
"Astaga Allea...ternyata kamu gak lupa, sayang.." gumamnya.
__ADS_1
Sandy meneruskan langkah berniat masuk ke kamar tapi ia melihat lilin lagi di meja makan mini mereka, lengkap dengan mawar dan sebuah kado lagi, kali ini berbentuk panjang dan pipih.
"Jangan lupa, buka juga yang ini sebelum masuk kamar. Semoga suka ya! Love you.." tulis Allea di notenya.
Sandy tersenyum sambil menggelengkan kepala begitu membuka kado dan melihat kacamata antiradiasi di dalamnya. Ia tak menyangka istrinya menyiapkan semua ini, bahkan Allea tau apa yang ia butuhkan. Ia mulai mengerti, Allea pasti sengaja hari ini membuatnya kesal karena akan memberinya surprise. Hatinya makin tak sabar ingin melangkah ke kamar. Tapi saat akan memutar handle pintu kamar Sandy melihat satu lilin lagi di dekat sofa depan kamar. Kali ini hanya mawar dan kado berbentuk panjang lagi, hampir sama seperti bungkus kacamatanya tadi tapi tak ada note seperti kado lainnya. Sandy mendekat mengambilnya dan mulai membuka.
"Apa lagi ya ini? Banyak banget kadonya, dasar nakal...awas kamu Allea, habis ini aku ma.."
Sandy tak meneruskan kata-katanya, matanya membulat tak percaya melihat isi kado itu. Sebuah testpack dengan dua garis yang jelas, di bawah garis itu ada tulisan "Hello papa..."
Sandy mengucek matanya untuk memastikan ia tak salah lihat, tapi memang benar matanya tak salah.
"Allea...ini benar kamu hamil? Astaga..!"
Sandy tak sabar lagi, ia pun menerobos masuk ke kamar mencari istrinya. Ia begitu ingin memastikan testpack itu bukan sebuah prank.
"Allea?! Allea...sayang?!" seru Sandy.
Tapi Allea tak terlihat disana, Sandy melempar mawar-mawar dan semua kado di tempat tidur kecuali testpack tadi. Ia tetap memegangnya sambil mencari-cari Allea ke kamar mandi dan setiap sudut kamarnya yang luas itu tapi nihil. Saat akan keluar kamar ia ingat belum melihat ke balkon, Sandy pun melangkah kesana. Dan benar saja Allea ada disana dengan memakai gaun tidur dan outernya yang tetap terlihat sexy. Allea berdiri dengan tersenyum sambil membawa cake birthday. Sandy mendekat menyunggingkan senyum haru terlebih saat melihat ucapan yang ada di kue itu.
"Happy birthday suamiku sayang, happy birthday papa wanna be.." sambut Allea.
"Kamu beneran hamil, sayang? Ini gak lagi ngerjain aku kan?" tanya Sandy menunjukkan testpack dengan penuh harap sambil menggenggam tangan Allea yang bebas.
"Enggaklah sayang. Make a wish dulu, terus tiup lilin dong papa.." kata Allea.
Sandy tersenyum dengan mata berkaca-kaca, lalu memejamkan mata sebentar dan meniup lilinnya.
"Yeeayy...happy birthday sayangku!" kata Allea menaruh kue dimeja lalu mencium kedua pipi suaminya.
Sandy langsung meraih tubuh Allea dan memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di pundak Allea. Air mata Sandy pun jatuh, ia bahagia sekali rasanya. Di hari bertambahnya usia ia diberi kado seindah ini, kado yang sangat ia tunggu-tunggu yaitu kehamilan Allea buah cinta mereka. Setelah menunggu beberapa bulan akhirnya mereka diberi kepercayaan lagi. Ia serasa mendapat jackpot yang indah, bahkan lebih indah dibanding saat tau mereka akan bulan madu ke Cappadocia dulu.
"Sayang...kamu kenapa, koq malah sedih?" tanya Allea menyadari Sandy menangis.
"Kamu gak suka ya kadonya? Atau...masih kurang banyak?" seloroh Allea membelai rambut suaminya.
Sandy melepas pelukannya lalu duduk, tangannya melingkar di pinggang Allea yang berdiri di depannya, diapit kedua pahanya. Allea pun melingkarkan tangannya juga dileher suaminya.
"Gak koq sayang, aku senang...aku bahagiaa banget! Aku gak mau lagi kado yang lain, makasih ya..kamu udah kasih kado paling istimewa tahun ini!" kata Sandy mencium perut Allea.
"Iya sayang, tapi kan bukan cuma dari aku aja. Ini kan hasil kolaborasi kita?" kata Allea membuat Sandy terkekeh. Ia mendudukkan Allea di pangkuannya lalu memagut bibir Allea sebentar.
"Nakal ya kamu. Ide dari mana bikin surprise kaya gini? Kenapa gak undang keluarga sekalian, biar semua tau berita bahagia ini?"
"Karena aku pengen kamu tau lebih dulu daripada yang lain. Ehm, sebenarnya mama udah tau sih, kan sebenarnya aku udah periksa sama mama.."
"Oh ya? Koq gak ajak aku pas periksa?" tanya Sandy meletakkan tangan diperut Allea dan mengelusnya lembut.
"Sebenarnya pengen banget ajak kamu, tapi waktu itu takut kamu kecewa kalo hasilnya negatif. Tapi ternyata positif!"
"Sayang...jangan punya pikiran begitu. Apa pun hasilnya pasti aku terima koq, lain kali kalo ke dokter aku ikut ya?"
__ADS_1
"Iyaa...nanti kurang dari dua minggu disuruh periksa lagi. Kita periksa berdua aja ya, bisa kan?"
Sandy mengangguk antusias. "Pasti bisa, pokoknya aku akan khususkan waktu buat periksa baby kita!" jawab Sandy tak berhenti menyunggingkan senyum. Allea pun mengangguk lalu memeluk suaminya, ia sangat bahagia. Mereka pun menikmati malam yang begitu romantis itu dari balkon kamar mereka.