
Allea tersenyum melihat Sandy saat membukakan pintu. Sandy pun balas tersenyum lalu berjalan masuk sambil merangkul istrinya. Allea mengernyit melihat wajah kusut suaminya, tak seceria biasanya.
"Kenapa suami sayangku? Mukanya koq kusut gini?" goda Allea mencubit pelan pipi suaminya.
"Gak papa sayang cuma capek" jawab Sandy tersenyum tipis lalu menciumi pipi dan leher Allea, menghirup aroma tubuh Allea yang segar.
"Oo...mau dibikinin minum apa?"
"Teh jahe boleh deh"
Allea ganti tersenyum. Sejak ia hamil muda dan Sandy menggantikannya ngidam suaminya itu jadi suka dengan minuman teh jahe buatannya. Katanya selain enak juga bisa mengurangi mual yang Sandy rasakan.
"Okey habis ini aku buatin deh" jawab Allea sambil membantu lepas jas Sandy.
"Dia gak rewel kan hari ini?" tanya Sandy mengelus pelan perut Allea.
"Enggak Papa...dia kan pinter!" jawab Allea membuat Sandy lagi-lagi mengulas senyum lalu mencium perut Allea sebentar.
"Eh, ini koq kaya bukan jas yang tadi buat berangkat kerja sih?"
Allea mengernyit sambil mengangkat jas Sandy di depan wajahnya. Si empunya jas pun menghela nafas, terbayang lagi kejadian tadi siang saat Mario 'meracuni'nya dengan aroma parfum. Dengan wajah kesal Sandy mengadukan yang ia alami tadi siang pada istrinya. Allea geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Kalian ini ya, kalo udah ketemu kadang bercandanya masih kaya anak kecil, ih!"
"Mario tuh sengaja sayang, bukan bercanda! Rese dia tuh!" jawab Sandy sewot.
"Tau dari mana?"
"Papa tuh yang bocorin soal aku ngidam. Tadi habis meeting papa cerita koq, sebelum Mario naik sempat ketemu papa terus mereka ngobrol macem-macem gitu!" jelas Sandy jadi terbawa kesal lagi.
"Terus jasnya yang tadi pagi mana?"
"Aku tinggal di kantor sayang, orang bau busuk!"
Allea terkekeh mendengarnya, jadi ini mungkin sebab suaminya berwajah kusut. Allea menghela nafas merasa lucu, kini wangi parfum pun bagi Sandy seperti hal yang menjengkelkan.
"Ya udah, kamu mandi dulu nanti aku siapin tehnya ya.."
Sandy pun mengangguk lalu dan langsung menuju ke kamar mandi. Allea juga berjalan menuju dapur setelah membereskan jas kerja suaminya. Ia pun lalu sibuk membuat teh jahe dan membawanya ke ruang tengah ketika Sandy sudah terlihat segar selesai mandi.
"Ini sayang, teh jahe kamu"
"Tengkyu sayang.." sambut Sandy menyambutnya meneguknya perlahan.
Allea meraih remote tv dan menyalakannya, tangannya sibuk mencari channel yang ia sukai tapi kemudian sebuah berita menarik perhatiannya. Sampai-sampai ia menyimak begitu serius sambil tetap berdiri.
"Duduk sayang!" kata Sandy sambil membuka ponselnya, mengecek kembali email terkait pekerjaan hari ini.
__ADS_1
Allea bergeming tak menanggapi suaminya hingga akhirnya Sandy ikut menoleh ke arah tv.
'Korban kecelakaan telah telah terindentifikasi, keduanya dinyatakan meninggal dunia ditempat karena mobil terjun ke jurang. Korban terdiri dari 1 pria dan 1 wanita bernama Amira Natania dan Marco Prasetya. Jenazah keduanya saat ini masih ada di rumah sakit dan menunggu di ambil oleh pihak keluarga..'
Sandy dan Allea sama-sama tertegun dan setengah tak percaya mendengarnya. Terlebih Allea yang sampai gemetar melihat dan mendengarnya. Kepalanya pun menjadi kliengan. Untung dengan cepat Sandy memegangi tubuhnya dan mendudukkannya ke sofa.
"Sayang...itu.." kata Allea menunjuk ke arah tv dengan wajah tegang. "Itu serius Amira gak sih? Emang lelaki teman Amira itu namanya Marco?" suara Allea pun ikut bergetar.
"Ssstt...kamu tenang dulu ya, nanti kita cari tau. Kamu minum dulu.." jawab Sandy berusaha menenangkan lalu menyodorkan gelas teh jahenya pada Allea. Allea tak menolak tapi hanya minum sekedarnya.
"Tapi kalo benar gimana dong? Kasian bayinya.." mata Allea mulai berkaca-kaca.
"Ya kita berdoa aja ya semoga bukan Amira yang kita kenal.." jawab Sandy membawa kepala Allea ke pelukannya.
"Tapi aku khawatir sayang..fealing aku koq jelek ya. Kasian Zeefana kalo.." bisik Allea menitikkan air mata.
"Sstt iya..iya sayang, tapi kamu juga gak boleh stress. Kasian bayi kita nanti, ya kan?" kata Sandy mengingatkan istrinya agar tak lupa ada hal paling penting yang harus dijaga pula. Allea pun mengangguk-angguk.
Sandy sebenarnya sudah tau dan ia yakin itu Amira. Berita itu adalah lanjutan berita yang ia lihat sekilas siang tadi di kantor. Ia hanya tak mau Allea stress yang nanti bisa berakibat tak baik pada calon bayi mereka. Jadi tugasnya sekarang adalah menenangkan Allea dulu sebelum nanti ia memberitahunya pelan-pelan.
Keesokan harinya..
Disinilah mereka sekarang, di sebuah pemakaman yang di penuhi oleh pelayat dan hiasi oleh isak tangis dari keluarga tak terkecuali Allea. Ia bersikeras ingin datang ke pemakaman setelah Sandy memberitahunya soal kebenaran berita kematian Amira karena kecelakaan itu tadi pagi-pagi sekali. Mobil yang Amira tumpangi bersama Marco menabrak pembatas jalan lalu terjun ke jurang. Saksi yang melihat mengatakan mobil mereka melaju tak beraturan sebelum menabrak pembatas. Ada kemungkinan Amira dan Marco tengah bertengkar di dalam mobil hingga membuat mobil mereka kecelakaan.
Sandy memperbolehkan Allea datang tapi tentu saja ia tak asal mengijinkannya begitu saja. Suaminya memperbolehkan ia datang ke pemakaman asal Allea sudah sarapan dan minum vitamin hamilnya dulu. Juga paling penting Allea bisa mengontrol emosi terutama jika melihat Zeefana nanti. Dan Sandy pun akan mengawalnya langsung sampai Allea kembali lagi ke apartemen. Kedua sahabat Allea pun ikut datang bahkan Nayla terlihat mengambil foto dan merekam dengan ponselnya saat proses pemakaman.
"Tidak ada lagi yang perlu di maafkan, tante. Saya dan kak Sandy sudah melupakan yang pernah terjadi.." jawab Allea menggenggam tangan wanita setengah baya itu.
"Kalo saja tante tau kemarin dia akan pergi dengan Marco, tante pasti melarangnya. Dan mungkin sekarang Amira masih hidup.."
"Tante...tante sabar ya, ikhlaskan Amira. Mungkin ini sudah jalannya, biar Amira tenang disana.."
Mama amira pun mengeratkan genggaman tangannya seolah meminta kekuatan pada Allea. Mereka pun terus bergenggaman tangan hingga tiba saatnya menaburkan bunga di atas makam Amira.
"Kita pulang sekarang sayang.." bisik Sandy selesai mereka menabur bunga. Allea pun mengangguk lalu berpamitan pada orang tua Amira. Mereka berjalan menuju mobil setelah berpisah dengan Rania dan Nayla. Sandy berjalan sambil merengkuh bahu istrinya. Tak ada obrolan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing yang masih belum percaya jika Amira telah tiada...
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
Dua minggu berlalu...
Nayla berjalan dengan ragu memasuki ruang kunjungan tahanan. Ini pertama kalinya ia berani menemui Andre setelah Amira meninggal. Karena apa? Karena Nayla gak siap melihat wajah berduka Andre. Biar bagaimana pun Amira dan Andre itu masih saudara, Andre pun tau berita meninggalnya Amira dari keluarganya. Bukan dari dirinya, terus terang Nayla tak tega menyampaikannya langsung. Hari ini pun Nayla mau tak mau harus datang karena Andre terus menelpon memintanya datang sejak kemarin.
Tapi ia senang saat melihat Andre tak begitu terpuruk seperti yang ia pikirkan. Nayla tersenyum lega dan Andre pun balas tersenyum tipis.
"Kenapa baru datang sekarang?" protes Andre begitu Nayla duduk di sebelahnya.
"Maaf...dari kemarin sibuk di kampus" dusta Nayla.
__ADS_1
"Week end koq sibuk di kampus?" Andre tak percaya. Nayla mengulum senyum.
"Iya, beneran! Eh, cobain deh ini aku tadi nemu dimsum enak dapat dari iG, aku bukain ya.." Nayla mengalihkan perhatian.
Andre pun mengangguk-angguk menurut saja saat Nayla menyiapkan makanan yang ia bawa. Tapi tak langsung melahapnya seperti biasa padahal aroma dimsum itu terlihat menggoda.
"Koq cuma dilihatin aja sih, dimakan dong! Udah gak suka dimsum?"
"Suka koq"
"Ya ayo dong di makan! Buka mulutnya cepetan, aaa..." Nayla menyuapkan sepotong dimsum sambil memaksa menyuruh Andre buka mulut. Beberapa kali suapan dimsum berhasil masuk ke mulut Andre. Andre pun tak menolak, entah kenapa ia suka cara Nayla memaksanya.
"Jangan aku terus dong yang makan, sini gantian kamu!" Andre merebut garpu dari tangan Nayla lalu ganti menyuapkan dimsum ke mulut Nayla.
"Ini kegedean, kamu ih!" kata Nayla membungkam mulutnya sambil menahan tawa.
"Ya biarin, kan aku udah tiga kali, kamu baru sekali! Sini lagi, buka mulut..!" canda Andre.
Nayla memasang muka galak lalu memukul lengan Andre sambil menunjuk mulutnya yang masih penuh. Andre pun terkekeh.
"Kamu mau bunuh aku?!" tuduh Nayla setelah menelan makanannya.
"Ya enggaklah...gak mungkin aku mau bunuh orang yang aku.." Andre menggantung kalimatnya.
"'Yang aku...' apa..?" kejar Nayla tiba-tiba jantungnya berdesir.
"Ehm...oiya, aku ada sesuatu buat kamu. Sebentar ya aku ambil dulu!" kata Andre mengalihkan lalu minta ijin masuk sebentar, ia tak berani menatap mata Nayla.
"Apaan sih Andre..suka gak jelas deh!" sungut Nayla.
Lalu terdengar chat masuk dari ponselnya. Dari Allea.
📱 : Nay, kalo kamu ada waktu besok bantuin aku nyiapin syukuran buat empat bulanan calon anak aku ya? Aku udah chat Rania juga nih. Thx aniwey..
[Iyaa..bumil, siap] balas Nayla.
"Nay, Allea hamil?"
Nayla tergeragap karena Andre tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya. Ia pun bingung harus mengiyakan atau bagaimana karena ingat pesan Allea padanya untuk sementara agar tak memberitahu pada siapa pun. Tapi Andre sudah terlanjur tau karena tak sengaja melihat Nayla membalas chat Allea dengan kata 'bumil'.
"Dre...kamu koq kepoin chat aku sih?"
"Bener gak, Nay? Jawab aku!" ulang Andre pelan tapi menatap tajam Nayla.
Nayla pun jadi mau tak mau mengangguk. "Iya, Dre...benar"
Andre seketika merasakan kakinya lemas tak bertulang mendengarnya. Ia pun terduduk di samping Nayla dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Dre...kamu kenapa? Andre?" Nayla mengguncang bahu Andre yang masih bergeming.