Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
87. Galau


__ADS_3

"Aku sadar, ini memang bukan anak Sandy. Tapi aku mohon...setelah anak ini lahir aku gak akan ganggu kalian, aku gak akan menuntut apa pun! Aku janji!"


"Jangan harap aku mau melakukan hal itu!" sahut Sandy tegas sambil menyandarkan tubuhnya di badan mobil.


"Terus gimana nasib anak ini, San? Aku mohon sedikit belas kasihan kalian.." ratap Amira membuat Allea makin bingung.


"Harusnya kamu minta belas kasihan pada bapak anak kamu. Kejar dia, suruh tanggungjawab, jangan salah alamat gini!" Sandy buru-buru menimpali lagi karena takut Allea luluh.


"Sandy please. Aku mohon sekali untuk hal ini dan kita bisa selesaikan semua secara baik-baik tanpa harus ada polisi"


"Maaf, keputusan Allea sama denganku." kata Sandy lalu menutup  pintu mobil setelah menarik paksa Amira mundur.


Allea tak bisa berkata-kata, rasa benci pada wanita di depannya seolah perlahan menguap. Berganti rasa iba, ia tak tega melihat air mata Amira. Sebagai sesama wanita seolah ia tau rasanya, hamil tanpa ada laki-laki yang mau bertanggungjawab dan hanya mau mencicipi enaknya saja. Tapi mendengar penawaran konyol Amira barusan tentu saja ia tak rela kalo Sandy harus mengakui sebagai ayah dari anak yang Amira kandung biarpun cuma di media. Terlebih itu jelas bukan benihnya, tapi Allea juga kasihan memikirkan nasib bayi itu.


"Aku tunggu keputusan kamu 3x24 jam, kalo gak ada konfirmasi...siap-siap aja kamu! Orang tua kamu juga akan aku kabari hal ini, aku tau mereka ada dimana!" ancam Sandy lalu memasuki mobilnya meninggalkan Amira yang masih tersedu.


Sandy kembali melajukan mobilnya menjauh dari tempat itu. Kali ini ia pacu dengan kecepatan sedang. Meski begitu Allea tetap terlihat ragu-ragu memulai bertanya terlebih melihat wajah kesal Sandy. Tapi rasanya ia tak betah saling diam seperti itu.


"Sayang...apa kamu serius dengan yang kamu bilang tadi?" tanya Allea hati-hati.


"Iya, aku serius. Sangat serius!"


"Apa kamu..gak pengen mikirin ulang? Aku ngeliat Amira koq kasihan ya.." Allea memainkan jarinya. "Memang benar aku juga benci dan sakit hati dengan semua yang udah dia lakukan, tapi..tadi aku melihat di matanya ada penyesalan. Kalo dia udah mengakui semuanya mungkin cukup, gak usah kita perpanjang lagi sampai ke ranah hukum" kata Allea panjang.


Sandy langsung menoleh dan menepikan mobilnya.


"Berarti kamu juga rela kalo aku mengakui anak perempuan itu?"


Allea menggeleng cepat. "Tentu saja enggak sayang. Maksud aku soal lapor ke polisinya, tapi..aku juga kepikiran sih nasib anak dia nanti misal-"


"Sayang, stop!" potong Sandy mengangkat telunjuknya di depan Allea. "Stop kamu mikirin itu semua. Soal anak dia itu bukan urusan kita, yang penting sekarang aku butuh mereka buat bersihin nama baik aku karena itu juga menyangkut nama perusahaan papa. Udah bagus aku gak seret dia sekarang juga ke polisi!"


Allea tertunduk. "Apa kamu gak iba sama anaknya? Anak itu gak bersalah..dia gak minta dilahirkan" sungut Allea.


"Tentu aja aku kasihan karena aku juga suka sama anak-anak. Tapi itu bukan kewajiban aku, aku cuma akan mengurus dan tanggungjawab ke anakku sendiri nanti. Anak aku dengan kamu.." jawab Sandy menatap Allea dalam lalu menjalankan kembali mobilnya.


Allea tersipu, ia merasa bahagia mendengarnya tapi ia juga tak bisa lepas memikirkan nasib anak Amira nanti misal ibunya masuk bui.


      🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂


Pak Roby sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, karena kesehatannya berangsur membaik. Untuk itu sore ini Allea bersemangat ingin mengajak Sandy ke rumah mertuanya. Ia merasa bersalah tak bisa menemani mertuanya pulang dari rumah sakit. Untungnya kak Sherly masih stay disini dan suaminya juga datang tiap weekend. Jadi masih ada yang bisa menggantikan mengurus papa mertuanya saat ia dan Sandy sibuk. Papa mamanya sendiri pun kadang ikut bergantian menjaga saat masih di rumah sakit.


Tapi Allea sedikit kesal karena sedari tadi Sandy tak kunjung selesai dengan pekerjaannya. Padahal sudah hampir dua jam lalu Allea datang menghampiri ke kantor.

__ADS_1


"Sayang.."


"Hmm..?" jawab Sandy tetap fokus membolak-balik file di depannya.


"Ayo, koq gak selesai-selesai sih dari tadi? Kita kan mau ke rumah papa" rengek Allea.


"Iya sabar, dikit lagi nih. Lagian kak Sherly juga belum telpon koq"


"Ya kan lagi sibuk ngurusin papa dirumah, mana sempat pegang ponselnya?"


"Gak juga, biasanya kan dia bakal brisik telpon-telpon. Lha ini dari tadi ponsel aku sepi-sepi aja"


Allea mengerucutkan bibirnya, bersamaan dengan itu pintu ruangan Sandy diketuk sedikit keras dan langsung terbuka sebelum si empunya menyilakan masuk. Mereka pun spontan menoleh, muncullah Mario dengan senyum lebarnya.


"Tamu gak ada akhlak woy, belum disuruh masuk main nyelonong aja!" celetuk Sandy.


"Lah elu nih yang jadi anak gak berahklak. Papanya pulang dari rumah sakit gak di sambut malah asik kerja. Mau di coret dari Kartu keluarga ya lu?"


"Lho tau dari mana lu?"


"Tadi gue gak sengaja ketemu pas antar mama gue check up. Katanya ponsel lu gak bisa dihubungi, makanya gue belain kesini! Tau Allea disini tadi gue telpon Allea aja.."


"Hah, masa sih. Dari tadi ponsel gue anteng aja koq, nih liat gak ada telpon masuk kan?" kata Sandy mengacungkan layar ponselnya di depan Mario. Mario lalu mengetuk pelan layarnya beberapa kali.


"Yaelah...ya pantes aja anteng. Hp lu mati, pak Dirut yang pinter!" celetuk Mario.


Sandy nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu buru-buru merecharge ponselnya.


"Baru inget semalam lupa gak di charge"


"Allea..Allea..gimana konsepnya sih bisa dapat suami macam begini, hp mati sampai gak tau padahal ada berita penting!" seloroh Mario lalu berdecak.


"Hehe..maklum ya kak, dulu milihnya waktu mati lampu soalnya" Allea menimpali membuat Mario tergelak.


"Dilem biru aja Al!" timpalnya.


"Eh, tamu gak diundang, gak usah jadi kompor ya lu!" sahut Sandy melebarkan matanya ke arah Mario.


Mario pun terkekeh merasa berhasil meledeki sohibnya. Allea menggelengkan kepala lagi melihat tingkah mereka.


"Eits...kalem dong pak boss, gue bawa kabar bagus nih.." Mario menyodorkan ponselnya ke depan Sandy.


Tampak satu halaman berita disana, Artis pendatang baru K.A tiba-tiba menyerahkan diri ke polisi. Dalam berita itu wajah si artis dipakaikan topeng tapi Sandy dan Mario tau kalo itu Andre.

__ADS_1


"Hah? Ini serius?!" Sandy lalu fokus ke berita di ponsel Mario.


Baguslah, belum juga dilaporin udah menyerahkan diri ke polisi, batin Sandy.


Allea melongok sekilas lalu kembali duduk di sofa lagi, tak berkomentar. Allea melanjutkan membuka-buka ponselnya pura-pura sibuk. Wajahnya sedikit terlihat kesal tapi hati kecilnya sebenarnya ada rasa kasihan. Namun ia berusaha menyingkirkan rasa ibanya itu, ia ingin Andre juga bertanggungjawab atas apa yang sudah ia lakukan. Misal nanti polisi memanggilnya untuk meminta keterangan, ia akan datang dan berkata apa adanya. Mungkin dengan semua pengalaman ini akan mendewasakan Andre nantinya, harap Allea dalam hati.


"Terus Amira gimana, San?" tanya Mario pelan.


Sandy angkat bahu. "Gue masih bingung, pengennya sih gue bawa juga ke jalur hukum, tapi kayanya dia gak tega.." bisik Sandy sambil melirik ke arah Allea.


"Kenapa?"


"Ya karena memikirkan anak yang dikandungnya, mungkin gitu ya perasaan sesama wanita?"


Kali ini Mario gantian angkat bahu. "Iya kali, tapi ya masa mau dimaafin gitu aja? Dia kan juga melakukan rencana pembunuhan pada sekretaris lu, San"


Iyaa...dan yang lebih gila lagi.." Sandy sedikit mendekat ke telinga Mario dan membisikkan sesuatu. Mata Mario melebar.


"Wah, emang ya tu perempuan! Koq ngelunjak gitu jadinya?"


"Makanya, kalo gue sih tetep pengen jalan terus. Tapi kalo istri gue gak tega gimana?"


Mario menoleh pada Allea yang tengah memasang muka jutek. "Allea gak keliatan begitu kayanya. Yakin Allea yang gak tega? Jangan-jangan elu lagi yang gak tega?" tuduh Mario.


"Sembarangan!"


Mario terkekeh. "Kan 'jangan-jangan', siapa tau elu lagi mikir-mikir untuk nerima permintaan Amira, buat ngakuin kalo itu anak elu. Secara dulu kalian pernah ada..!" goda Mario menggantung kalimatnya.


"Eh, jangan ungkit sejarah jaman batu ya! Gue aja udah lupa rasanya. Lagian udah pasti Allea akan menolak hal konyol kaya gitu!" kata Sandy kesal sembari menutup file-filenya.


"Ya kan isi hati orang siapa yang bisa baca sih? Emang kalo Allea mengijinkan elu mau, gitu ya?"


"Ribut aja yuk!" geram Sandy lalu menggulung lengan bajunya membuat Mario terpingkal karena berhasil menggodai sahabatnya hingga ngamuk-ngamuk.


"Ehem...kalo masih pada mau berantem aku duluan aja deh ke rumah papa!" tiba-tiba Allea menyela sambil berdiri bersiap menyangklong tas dipundaknya.


"Iya sayang, ini mau jalan. Siapa sih yang berantem?" jawab Sandy sambil mendekat ke Allea, merengkuh bahunya.


"Al gue ikut ya ke rumah pak Roby. Sekalian pengen jenguk, boleh kan?"


"Boleh aja kak"


"Nimbrung aja! Awas ya lu kalo disana ngomong macem-macem!" ancam Sandy berbisik ke Mario. Allea menyikut pelan perut Sandy.

__ADS_1


"Santai dong bro, kaya lagi PMS aja sensi banget" sahut Mario tersenyum tengil.


Sandy pun melengos lalu menggiring Allea berjalan menuju lift setelah sebelumnya meninggalkan pesan pada Ananta saat berpapasan dengannya. Ia sebenarnya sensi bukan karna Mario meledeknya tapi hatinya masih galau memikirkan keputusan yang tepat untuk Amira nanti. Karena kali ini keinginannya bertolak belakang dengan Allea.


__ADS_2