Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
46. Salah Perkiraan


__ADS_3

Di cafe seberang kantor Sandy, Andre dan Amira memekik senang.


"Lu siap-siap di sebelah mobil Sandy, gak ada setengah jam lagi pasti dia turun dan siap menerkam lu!" bisik Andre menyeringai. Amira mengangguk-angguk tersenyum.


"Okey"


"Kalo udah, kabari gue ya. Gue stand by disini"


Amira mengacungkan jempolnya lalu mereka berpisah. Amira melajukan mobilnya menuju kantor Sandy. Ia sengaja memarkirkan mobilnya di minimarket sebelah kantor, bukan di area kantor agar satpam tak curiga. Lalu ia berjalan perlahan menuju mobil Sandy.


Sementara Sandy yang masih di ruang kerjanya menjadi tak bisa fokus. Tubuhnya mendadak merasakan hawa panas yang aneh. Ia mengusap kasar wajahnya hingga ke belakang kepala lalu menarik-narik rambutnya.


"Huuffhh...kenapa sih ini, rasanya koq jadi kaya gini?" gumamnya sambil mengatur nafas berulang kali.


Ditariknya dasi yang ada dikerah bajunya hingga terlepas lalu membuka dua kancing bajunya. Sandy juga mengecek AC ruangannya tapi AC-nya masih terasa sejuk, harusnya ia tak kegerahan begini, pikirnya.


Ia meraih ponsel di sebelah kirinya tapi tanpa sengaja malah merobohkan figura foto Allea di meja itu. Dibetulkannya lagi letak figura lalu mengusap foto wajah Allea yang berekspresi tersenyum menggoda. Hingga entah mengapa membuat Sandy mendadak menginginkan Allea saat itu juga karena sudah ada yang memberontak dengan tegas dibawah sana. Dengan cepat ia menelpon nomor istrinya.


📱"Ya sayang?" sahut Allea diseberang sana. Terdengar hangat seperti biasa.


"Allea..kamu, udah mau pulang belum dari rumah mama?"


📱"Udah, ini aku mau otw, kenapa?"


"Tolong kamu mampir ke kantor sekarang ya, bisa kan?" tanya Sandy terdengar tersengal.


📱"Emang kenapa? Mobilnya macet? Atau..kamu sakit?" cecar Allea.


"Nanti aja aku ceritain, tolong kesini sebentar ya..aku butuh ditemenin, ya..please.." suara Sandy memelas tapi Allea malah menganggap suaminya sedang berakting.

__ADS_1


📱"Idih tumben manja, ya udah aku kesana. Nanti kalo aku udah di bawah kamu turun ya?"


"Jangan!" sahut Sandy membuat Allea terkesiap. "Kamu naik aja sayang, tolong ya..cepetan aku tunggu!" lanjut Sandy langsung mematikan panggilan.


Allea bingung campur penasaran tapi juga sedikit khawatir mendengar permintaan Sandy yang tak biasa. Allea takut Sandy dalam bahaya yang tak ia katakan dengan jujur. Ia pun melajukan motor matic itu secepatnya. Untung jarak yang ia tempuh hanya sekitar lima belas menit, tapi malam ini terasa lama saking ia tak sabar dan banyak pertanyaan di kepalanya.


Sementara Sandy begitu menutup telpon langsung ke kamar mandi membasuh wajah hingga rambutnya di wastafel agar pikirannya sedikit fresh dan menghilangkan hawa panas aneh yang ia rasakan itu. Ia pun bingung, tak biasanya ia merasakan keinginan yang terlalu menggebu seperti ini, seolah tak bisa ia tahan sampai waktu pulang. Ia mondar-mandir dari sofa menuju jendela kaca besar didepannya. Dimana ia bisa melihat suasana jalanan sekaligus jalan masuk kantornya. Berharap Allea melintas dan naik secepatnya, kepalanya sampai terasa cenut-cenut karena begitu tak kuat menahan keinginannya.


"Allea...kenapa lama sekali sih..haaahhh!!" keluhnya lalu membuka kemejanya karena dirasa makin panas suhu tubuhnya padahal tak demam.


Dilemparnya kemeja itu ke sandaran kursi, kini ia hanya memakai baju dalam hitam pendek. Baju itu memperlihatkan lengan kekar dan dada bidangnya yang bisa membuat siapa pun wanita yang terpesona.



"Aargghh...Allea!!" erangnya uring-uringan sendiri lantaran sang istri tak kunjung muncul. Sandy pun melangkah lagi ke kamar mandi membasuh wajahnya untuk kedua kalinya. Sempat terbesit dipikirannya ingin ia tuntaskan sendiri keinginannya tapi tiba-tiba ketukan pintu membuyarkan niatnya.


"Allea!" soraknya senang lalu bergegas keluar. Benar saja, begitu membuka pintu terlihatlah Allea yang tersenyum lalu buru-buru Sandy menariknya masuk dan mengunci pintunya sekaligus mengunci tubuh Allea dengan pelukannya.


Allea tak bisa melanjutkan karena Sandy buru-buru menghabisi bibirnya dengan ganas. Allea kaget tak siap dan tak mengira Sandy akan menyerangnya ,ia lalu mendorong Sandy agar melepaskan bibirnya.


"Kamu kenapa sih sayang? Gak biasanya lho kaya gini.." tanya Allea pelan menangkupi wajah Sandy.


"Aku mau kamu..aku pengen.." jawab Sandy tersengal.


"Ya ayo kita pulang dulu"


"Gak usah, aku maunya sekarang. Disini!"


"Hah?! Ta-tapi kan ini..."

__ADS_1


"Ini ruangan aku, jadi aku bebas dong mau apa aja.." kata Sandy sambil melepas paksa blazer Allea.


"Eeh sayaaang, tunggu dong.."


"Aku gak bisa nunggu lagi Allea!" erang Sandy frustasi.


"Ya tapi aku juga gak mau keliatan CCTV, kamu mau ngajak bikin film porno apa gimana?" sahut Allea sambil menunjuk CCTV di ruangan Sandy. Sandy menghela nafas kasar dan langsung membopong tubuh Allea ke kamar mandi ruangannya.


Allea menepuk keningnya lalu geleng-geleng kepala melihat suaminya yang bergairah seperti orang kesambet. Ia pun hanya bisa pasrah dan mengimbangi keinginan Sandy yang tak seperti biasanya. Malam ini Sandy terasa lebih antusias melesakkan miliknya pada Allea hingga Allea menciptakan suara berisik di ruangan itu. Kalo saja masih ada orang diluar pasti samar-samar mereka mendengarnya. Tapi untungnya di lantai 8 ini seluruh ruangan sudah kosong dan hanya ada mereka berdua saja.


Sementara itu di bawah tepatnya di sebelah mobil Sandy, Amira tengah memasang muka masam. Ia tak sabar lagi menunggu Sandy yang sudah hampir satu jam tak juga turun ke arah mobilnya seperti apa yang Andre janjikan. Jangan-jangan Sandy tak meminum obat perangsang itu? Batin Amira gelisah. Tapi tadi Andre sudah memastikannya kalo Sandy telah meminum air bercampur obat itu. Amira mendengus kesal, terlalu lama menunggu hingga kini nyamuk-nyamuk pun menggigiti tangan dan kakinya.


Tak lama kemudian Andre menelponnya, Amira sudah menyiapkan sejumlah umpatan untuk Andre.


"Hallo!" Amira menjawab judes.


📱"Ra, sebaiknya lu pulang aja. Pergi dari situ!"


"Hah? Emang kenapa? Sandy aja belum turun koq gue disuruh pergi sih?" omel Amira.


📱"Sandy gak bakalan datang! Lu tau, ini gue lihat mereka baru datang di cafe, pada mau makan!"


"Mereka? Maksud lu?!"


📱"Ya Sandy sama Allea lah! Gue curiga nih mereka habis gituan diatas, rambut mereka tuh basah kaya orang habis mandi gitu"


"APA??!?" teriak Amira dengan perasaan campur aduk.


📱"Iya! Kayanya lu kalah gercep sama Allea dan kita salah perkiraan! Udah cepetan lu pergi aja dari sana! Hahh...sialan mereka!" umpat Andre di akhir nya. Tut...tut..tut... Andre mematikan telpon sepihak.

__ADS_1


"Sandiiiii....iihh!!" Amira menendang batu di depannya dengan kesal. Lalu pergi dengan langkah kasar menuju mobilnya. Ada perasaan gondok dan sejuta marah pada Sandy, Allea juga Andre yang ia nilai tak becus. Hingga serasa ingin ia mencabik-cabik muka Andre.


'Gimana ceritanya mereka udah ada di cafe sampai ia tak menyadarinya??' gerutu Amira dalam hati sambil melajukan mobilnya.


__ADS_2