
Sandy tersenyum geleng-geleng kepala melihat Allea yang tampak begitu excited memilih keperluan apartemen mereka. Memang selama ia menikah jarang sekali mereka belanja bersama seperti ini. Biasanya Allea yang belanja di supermarket apartemen sepulang kuliah.
Tapi entah mengapa sore ini Allea ngotot ngajak belanja ke supermarket dekat rumah mamanya. Katanya lebih lengkap padahal menurut Sandy sama aja hanya disini lebih luas dan ada lebih banyak stok barangnya. Sandy mengekor kemana Allea melangkah sambil mendorong troli belanja.
"Nanti mau mampir ke rumah mama gak?" tanya Sandy.
"Boleh-boleh!" sahut Allea senang. "Tapi gak usah nginep sayang.." lanjutnya.
"Kenapa? Nginep juga gak papa koq"
"Besok aku kuliah pagi, semua yang mau dibawa kan masih di apartemen" jelas Allea. Sandy membulatkan bibirnya manggut-manggut.
"Kalo gitu bawain apa gitu buat mama, kamu pilihin aja sayang" usul Sandy. Allea mengangguk.
"Aku beliin buah aja deh" jawab Allea lalu melangkah ke counter buah.
Setengah jam kemudian troli belanja mereka sudah hampir penuh. Mereka pun lanjut ke kasir, malam ini kasir tak begitu ramai jadi mereka cepat selesai dan keluar dari sana.
"Habis ini mau makan dimana?" tanya Allea saat mereka sampai di parkiran menuju mobil Sandy.
"Terserah kamu aja, kamu maunya dimana?" jawab Sandy sambil memasukkan belanjaan ke bagasi.
"Mmm...gimana kalo cari makanan korea?" tawar Allea.
"Boleh" jawab Sandy sambil menutup bagasi.
"Atau steak?"
"Steak juga aku mau.." jawab Sandy sambil mengedarkan pandangan lalu berhenti di seseorang yang sedang berjalan keluar supermarket.
"Mm...tapi steak yang enak tu jauh dari sini, gimana dong?"
Kali ini Sandy tak menjawab, matanya mengekor tajam seseorang itu sambil mengingat.
"Dia kan..?" gumam Sandy sembari matanya memperhatikan seseorang beberapa meter di depannya. Allea menoleh ke Sandy.
"Kenapa sayang?" tanya Allea mengernyit mengikuti pandangan Sandy.
"Gak salah lagi! Kamu tunggu disini sebentar sayang!" kata Sandy lalu berlari menjauh.
"Kak, mau kemana?! Itu siapa!? Sayang!" teriak Allea tapi tak di gubris oleh suaminya.
Allea menghela nafas kasar sambil melihat punggung Sandy yang makin menjauh tapi masih terlihat.
"Siapa sih yang di kejar? Gak jelas banget deh!" omel Allea lalu melangkah cepat mengikuti kemana Sandy pergi.
__ADS_1
Beberapa meter sebelum mendekat Allea melihat Sandy tengah adu mulut dengan seorang pria kisaran seumuran mereka. Sandy terlihat menahan pria itu ketika ingin mencoba berlari sambil terus mencecarnya dengan pertanyaan. Kedua tangan pria itu bahkan sudah dikunci erat ke belakang oleh Sandy , lalu menggulingkan badannya di depan kap salah satu mobil yang terparkir. Pria itu terlihat ketakutan sekaligus meringis menahan sakit.
"Kak! Siapa itu?!" teriak Allea berjalan mendekat.
"Ini OB palsu yang kemarin ada di kantor! Cepat bilang, siapa yang suruh kamu?!" bentak Sandy pada pria itu Allea ternga-nga.
"Aku panggil security aja ya!" teriak Allea.
"Iya, cepat sayang!"
Allea berjalan mengedarkan pandangan mencari security yang tadi ada di sekitar parkiran. Tapi tak disangka pria OB palsu itu memberontak hingga berhasil lepas dari cengkeraman Sandy.
"Hei..jangan kabur kamu, bang*at!!" teriak Sandy mengejar.
OB palsu itu berlari dengan kebingungan arah hingga berpapasan dengan Allea. Reflek tangan Allea mencekal lengan OB itu tapi jelas Allea kalah kuat karena lawannya laki-laki. OB itu mengibaskan tangannya hingga lepas dari cengkeraman Allea lalu mendorong Allea sekuat tenaga.
"Aawhh...!!" teriak Allea yang jatuh terjengkang lumayan keras.
"Allea!" seru Sandy mengerem langkahnya urung mengejar si OB palsu itu karena melihat Allea terjatuh. Buru-buru Sandy mendekati istrinya.
"Sayang, kamu gak papa? Kurang ajar tu orang, beraninya ngelawan cewek.."
"Ssshh....kak, sakit.." Allea mendesis sambil meringis memegangi perut bawahnya.
"Sini aku bantu bangun.."
"Astaga, sayang! Kamu kenapa berdarah gini?!" pekik Sandy.
Allea hanya menggeleng panik dan takut, ia sendiri bingung kenapa hanya jatuh terjengkang aja membuatnya berdarah begini. Mendadak tubuhnya pun lemas ditambah rasa nyeri di perutnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Dengan sigap Sandy langsung menggendong Allea ala bridal lalu membawanya ke mobil.
Dalam perjalanan Sandy membawa mobilnya dengan kecepatan pembalap karena di lihat Allea makin lemah. Hanya mengangguk pelan jika ditanyai dan tangan kirinya masih memegangi perutnya. Ia takut terjadi sesuatu yang tak bisa ia bayangkan. Sandy menggenggam erat tangan kanan Allea lalu mengecupnya dengan pikiran yang entahlah.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi sampai rumah sakit.." kata Sandy pelan. Tak ada jawaban hanya rintihan lirih, membuat Sandy makin kalut.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
Setelah Allea ditangani dokter Sandy menghubungi mama Tiara memberi kabar soal Allea. Beberapa saat kemudian dokter memanggilnya untuk bicara. Dengan perasaan khawatir Sandy mengambil tempat duduk di depan dokter.
"Bagaimana istri saya dokter?"
"Pasien hamil jalan 8 minggu, benar?"
__ADS_1
Sandy terhenyak mendengar perkataan dokter. Antara kaget, ada rasa senang tapi juga tak menyangka mendengarnya.
"Hamil dok?" Dokter itu mengangguk. "Maaf, kami belum sempat cek sebelumnya. Tapi semua baik-baik saja kan dokter?" kejar Sandy penuh harap. Dokter di depannya terlihat menghela nafas.
"Janin mengalami benturan keras pak hingga terjadi pendarahan, dan mohon maaf sekali kami harus melakukan kuretase. Bayinya tidak bisa diselamatkan.."
Jglerrr!! Bagaikan di sambar petir mendengarnya. Baru saja Sandy diberi harapan tapi ternyata sekaligus ia harus kehilangan calon anak mereka. Beberapa detik Sandy mematung, membayangkan pula bagaimana perasaan Allea nanti.
"Pak.." panggilan dokter menyadarkan Sandy. "Kami meminta persetujuan anda untuk tindakan kuret ini, karena jika tidak segera dilakukan akan berdampak tidak baik untuk ibunya"
"Ya dok...lakukan yang terbaik untuk istri saya.." jawab Sandy pelan dengan hati tersayat.
Ia sudah tak punya pilihan, saat ini prioritas semua hanya keselamatan Allea. Dengan langkah gontai Sandy berjalan keluar ruangan dan mendudukkan diri di kursi depan ruang dimana Allea ditangani. Sandy menunduk menyangga kepalanya dengan kedua tangan. Ia tak mengira Allea hamil calon anak mereka. Anak dari rahim Allea yang sangat ia inginkan. Tapi sekejap kemudian ia harus kehilangan bahkan sebelum mereka menyadari kehadirannya.
"Bodoh!" bisiknya merutuki diri.
Kenapa ia juga tak peka, melihat akhir-akhir ini Allea makan lebih banyak, sering buang air kecil. Kadang jadi lebih sensitif dan menyukai apa yang dulu tidak ia suka. Meskipun Allea sama sekali tak mual seperti orang hamil pada umumnya. Sandy menyalahkan dirinya yang akhir-akhir ini begitu sibuk hingga tak begitu memperhatikan istrinya. Tanpa sadar air matanya mengalir dan terisak kecil.
"Sandy.." seseorang mengusap pundaknya pelan. Sandy mengangkat wajahnya. Mama Tiara ternyata sudah tiba dan duduk di sampingnya.
"Mah...mama sama siapa?" tanya Sandy mengusap wajahnya yang sembab.
"Sama papa di belakang. Gimana Allea? Ada kejadian apa tadi?" tanya mama Tiara khawatir terlebih melihat mata Sandy yang basah.
Sandy pun menceritakan awal mula semua terjadi hingga Allea bisa ada di rumah sakit ini.
"Allea keguguran mah karena terjatuh tadi. Calon cucu mama gak selamat. Allea sedang di kuret sekarang" jawab Sandy berkaca-kaca.
Mama Tiara membungkam mulutnya kaget. "Apa? Jadi Allea hamil?"
Sandy mengangguk. "Iya mah. Maaf...aku gak becus jagain Allea mah, aku terlalu sibuk sama urusan aku sendiri.."
Mama Tiara langsung membawa Sandy ke pelukannya dan mengusap-usap punggung Sandy.
"Mama boleh marahi aku, hukum aku juga gak papa mah, aku pantas.." bisik Sandy dipelukan mertuanya.
"Ssstt...kamu tenang dulu. Allea juga gak pernah cerita ke mama soal dia hamil. Sepertinya kalian sama-sama belum menyadari kalo akan punya anak.." kata mama Tiara menenangkan Sandy mengusap punggungnya naik turun.
"Kalo aja aku sedikit peka mah, pasti ini gak terjadi.."
"Sudahlah..." mama Tiara melepas pelukannya dan memegang kedua pundak menantunya yang tertunduk sedih. "Semua ini kecelakaan, kamu harus kuat karena nanti kamu juga harus menguatkan Allea.." kata mama Tiara. Sandy mengangguk-angguk.
"Ikhlaskan yang sudah terjadi, kalian masih sama-sama muda. Kalo Tuhan menghendaki pasti akan dikasih rejeki anak lagi..percaya sama mama, ya?" Sandy kembali mengangguk patuh sambil memijit pangkal hidungnya.
Sandy menyandarkan punggungnya dengan kepala menerawang ke langit-langit.
__ADS_1
'Gara-gara OB palsu bang*at itu Allea jadi seperti ini, lihat saja kamu! Akan aku cari kemana pun kamu lari' batin Sandy mengepalkan tangannya.