Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
57. Uler Keket Kembali


__ADS_3

Sandy begitu semangat menghadiri outdor meeting hari ini. Ada klien baru dari Surabaya yang bonafit dan menjanjikan akan menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Sebelum meeting mulai ia sudah lebih dulu datang ke hotel yang dipilih bersama Ananta,sekretarisnya. Sandy memang sengaja memilih mempekerjakan sekretaris laki-laki, entah kenapa baginya lebih nyaman.


Meeting sore itu berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang Sandy harapkan. Klien mereka bersedia memenuhi persyaratan kerja sama dari perusahaan Sandy hingga akhirnya deal. Perusahaan mereka akan menjadi partner untuk beberapa tahun ke depan.


Setelah meeting selesai dan tinggal obrolan ringan, klien mereka Mr.Adyaksa memesan wine sebagai perayaan untuk kerja sama mereka. Sandy kurang begitu suka sebenarnya karena ia sendiri tak biasa minum minuman beralkohol. Mungkin hanya hitungan jari saja ia pernah mencoba mencicipinya. Tapi untuk menghormati klien barunya itu, ia akan ikut minum sedikit saja. Allea pasti paham kalo nanti ia ceritakan saat sampai apartemen. Meskipun Allea sendiri juga tak suka.u


"Cheers..." Mr.Adyaksa mengangkat gelasnya diikuti asistennya.


Lalu Sandy pun tersenyum tipis dan ikut mengangkat gelas winenya diikuti Ananta.


"Untuk merayakan kerjasama baru kita" kata Mr. Adyaksa tersenyum sumringah lalu meneguk wine di gelasnya sampai habis.


"Thank you ,sir.." kata Sandy mengangguk. Ia hanya meneguk sedikit agar wine di gelasnya tak langsung habis.


"Jujur saya kagum pada anda Mr. Sandy, masih muda tapi bisa mengelola perusahaan dengan sangat luar biasa " Mr.Adyaksa memujinya.


Sandy tersenyum simpul dan mengangguk.


"Sekali terimakasih sir, tapi semua ini juga tak lepas dari campur tangan papa saya selaku komisiaris perusahaan...tanpa beliau, saya bukan apa-apa" jawab Sandy merendah.


Mr. Adyaksa tersenyum. "Well, begitu pula saya. Saya bisa berada disini karena ada seseorang yang merekomendasikan perusahaan anda pada saya.."


"Oh ya? Siapa? Apa saya kenal?"


"Ya..bahkan mungkin sangat kenal. Just wait, saya akan panggil orangnya.."


"Ada disini?" tanya Sandy penasaran.


"Ya!" jawab Mr.Adyaksa lalu melambai ke arah kursi seberang mereka.


Perlahan seorang wanita berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat ke meja meeting.


"Amira.." gumam Sandy kaget tak mengira siapa yang dihadapannya.

__ADS_1


Amira tersenyum menggoda dengan dress merah berdada rendah dan make up glamour maksimal. Ditambah dengan menjinjing tas mahalnya yang makin membuat Amira terlihat elegan. Siapa pun lelaki pasti akan terpesona dan menelan saliva jika melihatnya, termasuk Ananta sekretaris disebelahnya ini yang menatap Amira sampai tak berkedip. Tapi tidak untuk Sandy yang tau betul siapa Amira, ia justru melengos melempar pandangan ke arah lain. Sandy menyikut pelan lengan Ananta yang kemudian seperti tersadar. Ananta pun mendehem kemudian mengalihkan pandangan ke ponselnya. Amira pun mengambil tempat duduk tepat di depan Sandy.


"Kalian sudah saling kenal dan berhubungan baik kan?" tanya Mr.Adyaksa.


"Ya..kita memang saling kenal, sir. Tapi hubungan kita mungkin tak sebaik perkiraan anda" jawab Sandy datar.


"Oh ya? Kalo begitu mungkin dengan terjalinnya kerjasama ini bisa merekatkan kembali hubungan baik kalian, hmm?"


"Ehm..maaf saya sudah beristri, dan saya tidak berhubungan dengan wanita manapun setelah menikah" jawab Sandy pelan tapi tegas.


Mr.Adyaksa tertawa, Amira pun memutar bola matanya mendengar jawaban Sandy.


"Oh..common brother look at she..pria mana yang tidak tertarik dengannya?"


"Maaf sir, ada hubungan apa anda dengan Amira?" tanya Sandy menyela.


"Well, itu tidak terlalu penting. Yang pasti nona Amira ini begitu berjasa bagi saya, karena bisa mempertemukan Adyaksa corporation dengan perusahan berkelas seperti milik anda " jawab Mr.Adyaksa.


"Kalo begitu terimakasih sir, sepertinya meeting hari ini kita cukupkan sampai disini. Maaf saya ada acara diner dengan istri, jadi harus secepatnya pulang" kata Sandy beralasan agar cepat bisa pergi dari hadapan Amira.


"Sandy.." panggil Amira, Sandy menoleh. "Nice to meet you, sampai ketemu.." lanjut Amira melambai centil.


Sandy tak menanggapi, secepatnya ia menghabiskan wine di gelasnya lalu berpamitan.


Dalam perjalanan pulang ia sedikit menyesali kerjasama yang sudah terlanjur deal dengan Adyaksa Corp. Kenapa ia tak mencari info lebih luas dulu soal perusahaan itu? Andai ia tau Amira ada kaitannya, pasti tak akan sudi ia menjalin kerjasama. Sandy menghela nafas berat lalu memijit pelipisnya yang mulai pusing karena pengaruh wine tadi. Gimana kalo Allea tau soal ini? Ia khawatir Allea akan marah karena mengira diam-diam masih berhubungan dengan Amira. Kenapa sih cewek uler keket itu kembali lagi? Batin Sandy berkecamuk.


"Huuufhh..." Sandy menghela nafas berat. Kepalanya sibuk mencari bagaimana kalimat yang tepat untuk ia sampaikan ke Allea nanti.


Sampai di apartemen, Allea tersenyum membukakan pintu untuknya sambil masih menempelkan ponsel di telinganya. Sepertinya istrinya itu tengah sibuk memantau pengerjaan pesanan jersey. Tapi yang menarik perhatiannya justru lingery warna peach berenda di dadanya dengan potongan rendah itu.


Sandy mengekori Allea yang ke dapur akan membuatkannya minuman. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Allea sambil menunduk menciumi tengkuk, leher lalu ke pipi sampai Allea mengangkat pundaknya geli. Allea mengendus sembari mengernyit menghadap wajah Sandy.


"Koq bau alkohol sih sayang? Kamu minum ya?"

__ADS_1


"Iya..terpaksa tadi, tapi cuma segelas koq. Klien yang tiba-tiba pesan untuk merayakan deal-nya kerjasama kita. Mana orangnya agak aneh lagi. Masa dia bawa orang menyebalkan ke meeting.." jelas Sandy membuat Allea merengut.


"Ya ditolak dong! Emang siapa sih kliennya?"


"Aku gak enak dong sayang..ntar dikira gak menghargai dia?" dalih Sandy sambil memijit pelipis lagi.


"Pusing kan? Hmm..." tebak Allea lalu meruncingkan bibinya lagi. Sandy tertawa kecil.


"Gak papa cuma sedikit"


"Mau susu?" tawar Allea beranjak ke kulkas melepas pelukan suaminya.


"Mau lah, yuk!" goda Sandy menarik tangan Allea.


"Ishh...apaan sih!" Allea menepis sambil menahan tawa.


Ia menuangkan susu plain ke gelas dan memberikan ke Sandy.


"Kirain susu dari sumber. Kalo nawarin yang jelas dong makanya. Kan jadi PHP kalo gini.." bisik Sandy masih menggodai Allea.


"Jawab dulu tadi kliennya siapa? Dan kenapa nyebelin?


Degg!


Sandy berpikir keras dan mulai menata kata-kata. Allea menatap Sandy lekat, ia tau suaminya tengah memikirkan suatu hal.


"Sayang...? Aku nungguin jawaban kamu lho!" tagih Allea membuyarkan pikiran Sandy.


"Boleh aku jawab besok?" tawarnya merengkuh Allea lebih mendekat padanya. Allea memutar bola matanya.


"Ya udah, gak ada jatah untuk malam ini!" ancam Allea sambil keluar dari pelukan suaminya.


"Kenapa?" kejar Sandy tak terima. "Aduuh...jadi pusing lagi nih.."

__ADS_1


Allea pun tak mendengarkan keluhan suaminya. Ia tetap berjalan menuju kamar di ikuti Sandy yang terus membujuknya. Sekaligus pusing karena belum menemukan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Allea.


__ADS_2