
"Nay..giliran kamu! Aku sharelok tempatnya ya, hati-hati.." kata Allea setengah berbisik sembari menelpon Nayla.
📱: 'Iyaa, okey...aku meluncur!' jawab Nayla.
Setelah Nayla mengiyakan, ia pun melajukan motornya lagi menyusul Sandy ke rumah sakit. Ia ingin ikut menemani Sandy disana sambil menunggu kabar selanjutnya dari Nayla.
"Sayang, gimana papa? Ananta, udah sadar? Papa sama siapa?" tanya Allea begitu sampai.
"Tanya satu-satu nyonyaa...mau aku gigit bibir kamu disini?" jawab Sandy menyeringai gemas mendengar pertanyaan Allea yang memberondong.
Allea reflek menutup mulutnya menahan tawa.
"Ya udah papa dulu"
"Papa baik, tadi ada kak Sherly disini. Sekarang lagi pergi cari makan. Katanya nanti malam papa mau dipindah ke rawat inap biasa, barusan aku urus kamarnya" jelas Sandy.
"Syukurlah kalo gitu...terus Ananta?" tanya Allea lagi.
"Ananta juga udah sadar, besok dia bisa pulang" Allea memekik senang.
Tapi ia mengernyit melihat Sandy yang berdiri menyandarkan badannya ke dinding sambil melipat tangan di dada. Jelas suaminya terlihat murung seperti memikirkan sesuatu.
"Kenapa? Koq kamu malah gak semangat gini, harusnya kan seneng dong.." kata Allea meletakkan dagunya ke pundak Sandy dan memeluk dari samping.
"Kalo papa sudah sadar pasti nanti aku akan secepatnya diminta menikahi Amira. Aku harus jawab apa untuk mengelak? Dan ini berita buruknya, ponsel Ananta harus di reset ulang. Berarti kan semua datanya akan hilang, padahal tadi Ananta bilang kemarin ia sempat ambil foto bukti tes itu" jelas Sandy menghela nafas sambil memijit pelipisnya.
Allea memejam sambil mengusap lengan Sandy naik turun. Lagi-lagi suaminya menemui jalan buntu.
"Terus rencana kamu apa?"
"Mungkin aku akan ambil second opinion test, tapi itu juga harus nunggu lama untuk hasilnya. Sekitar dua minggu.."
"Sabar ya, sementara jangan menemui papa dulu. Biar aku dan kak Sherly yang datang kalo papa butuh apa-apa. Nanti.."
Belum sempat ia melanjutkan, ponselnya berbunyi pelan. Nayla. Allea pun sedikit menyingkir dari Sandy membuat suaminya itu heran.
"Gimana? Udah ngobrol?" tanya Allea memelankan suaranya.
📱: 'Belum. Aku masih pantau, ini ternyata ada Amira' kata Nayla diseberang.
"Kamu tungguin dulu aja sampai uler keket itu pergi. Atau kamu datangi, pepetin Andre. Biar cewek itu yang pergi!" bisik Allea.
📱: 'Duh, deg-deg.an nih Al!'
"Ayo semangat, katanya mau bantuin? Jangan baper dong, Nay..!"
📱: 'Iya deh, iyaa...'
Mereka pun mematikan panggilan dan Allea berniat kembali ketempat dimana Sandy berdiri. Tapi baru membalikkan tubuhnya ia menabrak Sandy yang ternyata sudah ada di belakangnya.
"Eh...koq disini?" Allea nyengir kuda.
"Siapa yang telpon?" tanya Sandy mengangkat dagu.
"Nayla, nih lihat!" Allea menunjukkan histori panggilan di ponselnya.
"Terus kenapa pake menjauh, bisik-bisik lagi" protes Sandy.
"Ya malu, kan urusan cewek! Bapak gak usah kepo dong!" jawab Allea mengerling membuat Sandy mencubit hidungnya gemas. "Ayo makan dulu, aku bawain makanan kesukaan kamu, yuk.."
Allea pun segera menggamit mesra lengan Sandy menuju tempat duduk dimana ia meletakkan makanan hasil take away-nya. Untung Sandy menurut dan tak mengejar dengan pertanyaan lain lagi. Karena Allea memang sengaja tak memberitahu suaminya dulu perihal rencananya. Ia akan memberitahu Sandy jika sudah jelas ada hasilnya nanti.
🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥 🔥
__ADS_1
Seorang gadis dengan celana jeans gelap dan jaket kulit hitam lengkap dengan topi yang menutup kepalanya tengah mengawasi suasana dalam cafe dari luar. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan kacamata coklat yang masih ia pakai. Penampilannya terlihat sexy dan sangat berbeda dari biasanya. Ia memutuskan memasuki cafe dimana Andre dan Amira masih duduk bersama di depan meja bartender. Gadis itu sengaja memesan minuman tak beralkohol di sebelah Andre dengan meninggikan suaranya. Ia ingin memancing perhatian Andre yang ternyata sesuai perhitungannya. Andre menolehinya dan matanya memperhatikan dari atas sampai bawah.
"Nay..Nayla?"
Nayla menoleh. "Eh, kamu Dre?" katanya sesantai mungkin padahal jantungnya mulai berdegub antara takut dan grogi.
"Kamu ngapain disini?" tanya Andre memperhatikan Nayla dari atas sampai bawah.
"Ngapain? Ini kan tempat umum, kamu sendiri ngapain?"
"Biasalah...buang penat!" jawab Andre lalu meneguk gelas minumannya.
Nayla tersenyum smirk dan mengambil tempat duduk di samping Andre. Ia mengutak-atik ponselnya sambil sesekali meneguk minumannya yang telah siap. Masih dalam rangka mengalihkan rasa deg-deg.an dihatinya.
"Kamu habis pergi dengan Allea?" tanya Andre. Nayla menaikkan Alisnya.
'Target mulai mendekat tanpa diberi umpan!' batin Nayla.
"Enggak. Dari pagi malah belum ketemu.." jawab Nayla.
Andre hanya mendengus lalu meneguk minumannya beberapa kali.
"Gue cabut ya, lu udah ada temen ngobrol kan?" kata Amira tiba-tiba.
Andre mengangguk lalu mengibaskan tangan menyilakan Amira pergi. Nayla melepas kacamatanya setelah Amira berlalu, sepertinya Amira tak mengenalinya.
"Kenapa nanya Allea? Pengen ketemu?" tanya Nayla melanjutkan topik Andre.
Kali ini Andre tersenyum kecut lalu lagi-lagi meneguk minumannya dengan sedikit mengernyit.
"Kamu tau, aku baru ketemu dia tadi. Aku seneng banget bisa ketemu dia, dia bawakan lunch buat aku..kita makan bareng, cerita-cerita..tapi endingnya..."
"Kenapa?" kejar Nayla saat Andre menggantung kalimatnya.
"Allea tetap gak mau buka hati biarpun rumah tangganya sedang ditimpa masalah...hatinya beneran gak ada celah..." jawab Andre terbata lalu memijit keningnya.
'Waduh, kalo dia terlalu mabuk bisa-bisa gak dapat info apa pun nih!' batin Nayla.
"Dre, udah stop minumnya! Aku antar kamu pulang ya, kamu gak bisa nyetir nanti kalo banyak minum!" Nayla menahan botol yang Andre akan Andre tuang.
Andre menggeleng. "Tenang..aku kuat, lima botol aja masih sanggup koq, kamu jangan kuatir..." jawab Andre mulai ngawur.
"Iyaa...aku percaya koq. Tapi kamu juga harus inget dong, nanti kalo ada wartawan liat kamu kaya gini sampai over minum, gimana? Kamu bisa diberitakan yang bikin jelek image kamu!" kata Nayla.
Andre diam seperti berpikir lalu menyapukan pandangan sekelilingnya. Beberapa orang memang melihat ke arahnya.
"Tuh kan, ada yang lagi liatin kamu. Kalo mereka fotoin kamu lagi keadaan kaya gini gimana? Kamu mau jadi bahan gosip?" lanjut Nayla menakuti Andre.
"Okey, aku pulang.." Andre turun dari kursi setelah meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan di mejanya. "Sekalian punya temen gue!" katanya pada pelayan di dekat bartender.
Tapi baru beberapa langkah ia terhuyung, untung dengan cepat Nayla memegangnya. Andre pun tak menolak, mereka berjalan berpegangan keluar cafe.
"Kamu nih, memang kebiasaan ya! Kaya gini namanya nyusahin diri kamu sendiri!" omel Nayla.
"Kalo kamu...ngerasa aku susahin gak?" tanya Andre mendekatkan wajahnya pada Nayla.
"Hihh...dasar orang mabok!" sembur Nayla mendorong wajah Andre.
Andre terkekeh. "Gak Nay, bercanda! Aku masih sadar koq, aku pastiin kali ini gak akan salah cium kamu lagi.." bisik Andre teringat kejadian waktu itu.
Nayla memalingkan wajahnya tersipu sambil memastikan disekitarnya tak ada orang yang mendengar perkataan Andre.
"Ya udah sana, pulang. Apartemen kamu juga gak jauh, dari sini udah kelihatan tuh!" kata Nayla pura-pura lalu melepaskan pegangannya.
__ADS_1
Andre pun terhuyung lagi lalu berpegangan mobilnya.
"Ya jangan dong!" cegah Andre.
"Kenapa, katanya masih sadar? Berarti masih bisa dong jalan pulang!" ketus Nayla melipat tangan di dada.
"Sehariii ini aja tolong jadi teman aku, aku butuh telinga buat dengerin-"
"Cari aja telinga panci! Lagian kata kamu kan aku cewek preman, kamu gak takut ku palak?" sela Nayla seolah beranjak pergi.
"Aku gak takut, kamu mau palak apa bilang aja? Aku bakal turutin! Please ya Nay..!" tantang Andre sekaligus memelas.
Dalam hati Nayla bersorak, ia pikir pas banget tanpa ia duga justru Andre lah yang ingin bicara. Dengan masih membelakangi Andre ia mengulum senyum sambil menaikkan alisnya.
"Okey kalo gitu, cuma hari ini aja ya dan aku gak bisa lama-lama!" ucap Nayla sok jual mahal.
Andre pun mengangguk lalu membuka mobilnya menyilakan Nayla masuk. Untung Andre masih sanggup menyetir dalam keadaan mabuk sampai apartemennya. Biarpun sesekali ia memijit keningnya hingga membuat Nayla tak kalah was-was duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian mereka pun sampai di unit apartemen Andre. Andre langsung masuk menuju kulkas mengambil dua kaleng minuman dan membawanya ke meja di depan Nayla. Mereka pun duduk berseberangan di sofa. Nayla memutar bola matanya melihat Andre membuka bir kalengnya.
'Dilarang mabuk disana malah lanjut disini!' batin Nayla jengkel.
"Cepetan bilang, kamu perlu di dengerin soal apa?"
"Jutek banget sih, minum dulu dong. Itu punya kamu soda bukan bir koq.." kata Andre meneguk birnya.
Nayla pun mengerucutkan bibirnya tapi tetap menuruti kata Andre. Ia membuka juga minuman soda kaleng lalu meminumnya sedikit.
"Kamu sebenarnya lagi kenapa sih?" tanya Nayla tapi Andre malah melamun. "Dre..?" Andre masih diam menerawang ke depan. Nayla berdecak lalu pindah duduk di sebelah Andre.
"Andre?!" Nayla menggoyang pundak Andre membuat Andre menoleh seketika.
"Eh...sorry, sorry gak denger..tadi nanya apa?" tanya Andre menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
"Kamu nih lagi mikir apa sih?"
"Allea.."
"Kenapa Allea?"
"Kamu tau, kenapa Allea tetap gak kasih aku kesempatan? Kamu pasti tau kan masalah dia sekarang?"
Nayla mengangguk. "Udahlah. Itu kan masalah rumah tangga mereka, kamu jangan masuk terlalu jauh.." jawab Nayla. Andre berdecak.
"Iya aku tau, aku cuma gak habis pikir aja, kenapa Allea gak mau coba buka hati? Kenapa dia gak melihat ada aku yang masih nunggu dia, aku siap nerima misal Allea udah gak mencintai Sandy lagi, aku mau nerima Allea setelah ia pisah dari Sandy.." kata Andre mulai berwajah mellow.
Nayla menghela nafas. "Kamu...gak pantas mengharap cinta dari wanita yang udah bersuami!" kata Nayla penuh penekanan pada tiap kata sambil menunjuk dada Andre.
Satu tangan Nayla pun mulai menyiapkan ponselnya tanpa Andre tahu. Ia mulai siaga siapa tau Andre mengatakan sesuatu yang perlu disimpan. Setelah ponselnya siap ia menjepit benda pipih itu diantaranya dan sofa.
"Kamu gak bisa asal ngelarang! Karena perasaan ini juga gak bisa aku hentikan, aku gak bisa milih, Nay!" kata Andre lalu menghisap vapornya dan mendongak mengepulkan asapnya. Terlihat sekali Andre kacau, Nayla pun tau mata Andre sedikit berkaca-kaca.
"Makanya...jangan kamu pupuk terus, kamu harus bisa mikir jernih Dre! Ayo dong move on, jangan menoleh ke belakang terus!"
"Ya gak bisa dong Nay, aku udah sejauh ini! Aku harus bawa hasil dari semua hal bodoh yang udah aku lakukan!"
"Maksud kamu?!" tanya Nayla memicingkan mata.
Andre menghabiskan bir kalengnya dan meletakkan kaleng itu kembali ke meja. Ia menoleh, menatap Nayla tajam tapi di matanya tersirat kesedihan.
"Maksud kamu apa?!" ulang Nayla. "Jangan-jangan semua ini-"
"Iya! Iya memang! Semua...yang terjadi pada Allea, itu semua rencana aku!" sahut Andre .
"Apa?!" seketika Nayla membulatkan matanya mendengar pengakuan Andre.
__ADS_1