
Mama Tiara pun mengambil alih test pack dari tangan Allea lalu mengamatinya dengan seksama.
"Iya ya.."
"Iya kan mah? Garisnya dua tapi yang satu samar. Berarti gimana dong mah ini? Aku hamil gak ya..?" Allea pun galau.
"Gimana kalo besok pagi kamu ulang aja, kalo masih begini ya berarti harus pastiin ke dokter"
"Aduuh...aku gak sabar dong mah kalo nunggu sampai besok" Allea menggaruk kepalanya kasar.
"Ya habis gimana sayang? Apa mau ke dokter sekarang aja?" tawar mama Tiara.
"Iya mah, boleh! Mumpung kuliah juga lagi kosong ini, yuk?" Allea bersemangat.
"Ya udah, mama siap-siap dulu. Kita naik taksi online aja ya. Kamu jangan lupa bilang juga ke Sandy ya?"
Mama Tiara masuk ke kamar untuk bersiap, sementara Allea memesan taksi online dan mendaftar antrian obsgin via chat. Begitu mama Tiara siap, pas pula taksi mereka datang. Mereka pun segera naik dan menuju rumah sakit keluarga.
Saat sampai dan selesai mengkonfirmasi pendaftaran mereka duduk menunggu antrian. Allea terlihat harap-harap cemas dan itu terbaca oleh mama Tiara.
"Kenapa? Kamu nervous ya?"
"Iya mah, keliatan ya?" jawab Allea nyengir.
"Udah, santai aja. Sandy udah tau belum?"
"Belum mah. Aku pikir nanti aja kasih tau kalo udah ada hasilnya. Lagian...aku takut dia kecewa misal aku ternyata belum hamil. Mama tau kan, dia yang paling ngebet pengen punya anak" kata Allea dengan pandangan menerawang ke depan.
Mama Tiara tersenyum lalu menggenggam tangan Allea.
"Iya, tapi kamu juga jangan jadi terbebani. Mama yakin koq Sandy juga pasti mengerti, misal kalian belum diberi kepercayaan momongan. Apa pun hasilnya nanti jangan membuat kalian down ya? Harus tetap optimis dan berusaha terus, kalian kan masih sama-sama muda..oke?!" kata mama Tiara memberikan semangat.
Allea tersenyum mengangguk sembari menguatkan genggaman tangannya.
Selang berapa nama Allea pun dipanggil, ia pun masuk ditemani sang mama. Dokter Elyana menyambut mereka dengan ramah, ia cukup dekat dengan mama Tiara. Sebelum diperiksa lebih lanjut Allea ditanya perihal datang bulan terakhirnya juga ada tidaknya keluhan yang ia rasakan. Setelah itu, ia diminta naik ke brankar untuk di USG. Jantung Allea makin berdegup kencang, antara tak sabar melihat dan khawatir jika hasilnya negatif. Suster mulai mengoleskan jel dingin ke perut Allea sebelum dokter menggerakkan alat USGnya.
"Nah...ini kantong janinnya sudah terlihat ya.." kata Dokter membuat Allea melebarkan mata ke arah monitor.
"Wahh...berarti benar sayang, kamu hamil! Duhh...mama mau punya cucu nih!" sambut mama Tiara begitu antusias. Allea mengangguk tersenyum haru, bahagia dan lega menjadi satu
"Selamat ya Allea.."
"Terimakasih dok. Sudah berapa minggu ya usia kandungan saya?"
"Ini sudah masuk 7 minggu. Sebelumnya sudah pernah periksa?"
"Belum dok. Ini saja periksa karena baru sadar kalo telat haid" jawab Allea malu.
"Biasalah El, pengantin muda kan masih menggebu-gebu...fokusnya pas bikin aja. Begitu jadi, suka gak sadar!" seloroh mama Tiara lalu tertawa bersama dokter Elyana membuat Allea makin malu.
__ADS_1
Allea pun diminta duduk lagi dan diresepkan vitamin serta penguat kandungan.
"Allea ini ada history keguguran kan, untuk itu tolong di jaga ya? Jangan terlalu capek dan angkat barang berat. Ini selain vitamin saya resepkan penguat kandungan juga" kata dokter.
"Baik, dok"
"Tidak ada morning sickness?" Allea mengingat lalu menggeleng. "Oke, dua minggu setelah ini periksa lagi ya. Misal ada keluhan mual biar nanti saya beri obat anti mualnya. Tapi semoga tidak ada" kata dokter di sambut anggukan Allea.
"Iya dokter, semoga begitu.." jawab Allea tersenyum.
Setelah dokter menyerahkan resep mereka pun keluar ruangan. Wajah Allea terlihat sumringah, ketara sekali ia lega dan bahagia. Bahkan ia sesekali mengusap-usap perutnya yang masih rata.
"Benar kamu gak ada mual, atau kepengen makan apa gitu?" tanya mama Tiara saat mereka sudah di taksi online perjalanan pulang.
"Mm...gak sih mah, biasa aja. Makan apa aja bisa koq, susu juga masuk"
"Oowh...ya syukurlah kalo begitu. Kalo misal pengen apa gitu, terus susah nyarinya...kamu bilang aja ke mama ya!"
"Iya mah. Oiya, tapi koq aku ngerasa malah kak Sandy ya yang belakangan ini sering mual kalo pagi?"
"Oh ya?"
"Iya mah. Mungkin gak sih mah kalo suami yang ngidam?"
"Ya..mungkin aja sih"
Allea lalu menceritakan kejadian kemarin saat Sandy mual dan tiba-tiba suka makan asinan bogor. Mama Tiara tertawa pelan.
"Dia kena tulah kali mah, orang dulu pernah bilang sendiri di depan papa Roby sama kak Mario katanya kalo aku hamil dia mau koq ikut ngidam" kata Allea menirukan kata-kata Sandy lalu tertawa.
"Oalah...ada-ada aja Sandy. Nanti kamu kasih tau dia kalo udah pulang kerja ya.."
Allea hanya tersenyum simpul tak menjawab. Sibuk dengan rencana yang sudah ia susun di kepalanya. Allea tau, mendengar kabar ini adalah moment sangat berati untuk suaminya. Maka dari itu ia ingin memberitahu di waktu yang special pula.
🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹
Nayla bergegas masuk ruang kesehatan begitu petugas lapas memberinya ijin. Tampak Andre terbaring dengan wajah lemas dan sedikit pucat. Nayla meletakkan makanan yang ia bawa di nakas samping brankar Andre lalu mendekat.
"Nay...datang juga akhirnya.." kata Andre dengan suara parau.
"Kamu sakit?" tanya Nayla cemas.
Andre menggeleng. "Gak koq. Paling cuma kecapekan, biasalah..belum biasa kerja kasar" jawab Andre memaksakan senyum.
Nayla menghela nafas, ada rasa tak tega di hatinya. Selama ini kehidupan Andre memang jauh dari kata susah. Semua serba mudah ia dapatkan terlebih dengan karir yang ia punya. Tapi selama berada di bui, mau tak mau ia harus mengikuti peraturan dan ketetapan kegiatan yang ada disini. Mungkin stamina Andre belum terbiasa jadi drop karena lelah. Ditambah pikirannya yang terbebani memikirkan sebagian hidupnya akan dihabiskan di bui juga masa depan yang ia impikan bersama Allea akhirnya berantakan. Sudah pasti Andre tertekan.
Nayla tau apa yang Andre pikirkan, tapi ia juga tak ingin Andre berlarut memikirkannya. Ia ingin Andre kuat menjalani hari-harinya disini. Karena semua ini juga keputusan yang ia ambil sendiri. Nayla tak ingin melihat Andre frustasi tiap kali menengoknya kemari. Tapi ia juga tetap membentengi hatinya agar tak terlalu terbawa perasaan tiap Andre memintanya untuk datang. Nayla takut Andre tak memiliki rasa yang sama seperti hatinya. Ia gak mau di bilang 'kege-eran' seperti yang pernah Andre katakan dulu.
"Kamu udah makan?" tanya Nayla.
__ADS_1
"Udah koq" jawab Andre berusaha membangunkan tubuhnya.
Nayla buru-buru membantunya, memberikan bantal untuk sandaran Andre duduk agar lebih nyaman.
"Koq gak habis makannya?" protes Nayla memeriksa bekas tempat makan Andre di nakas.
"Kenyang"
"Mau buah? Aku kupasin ya?" tawar Nayla, Andre mengangguk tak semangat. "Kamu makannya sedikit banget tadi, makan tuh yang banyak biar kamu cepat sehat. Kalo sakit kan gak enak, gak bisa ngapa-ngapain.." celoteh Nayla sambil mengupas apel.
Andre tak menjawab, hanya mendengarkannya sambil memijit pangkal hidungnya. Baginya sekarang tidak ada bedanya, mau sakit atau sehat tetap saja tidak ada lagi yang berarti untuknya menjalani hidup. Terlebih, siapa juga yang mau kenal dengan penjahat seperti dirinya. Andre melirik Nayla sekilas, mungkin Nayla pun tak selamanya mau menemaninya seperti ini. Nayla datang karena mendengarnya sakit, kalo ia sehat nanti pasti ia akan kembali sibuk dengan kuliah dan kegiatannya sendiri, juga bersenang-senang dengan banyak temannya di luar sana, pikir Andre.
"Di makan ya.." kata Nayla membuyarkan pikirannya.
Nayla menyodorkan piring berisi potongan apel. Andre mengangguk lalu mengambil sepotong apel dan kembali tenggelam dalam pikirannya. Nayla ikut mengambil apel sembari melirik Andre. Terlihat Andre mengunyah apel dengan pandangan kosong.
"Dre...koq ngelamun?"
"Nay...maaf ya, aku jadi ngerepotin kamu. Harusnya kan kamu kuliah sekarang tapi malah jadi bolos karena datang kesini" kata Andre tertunduk. Nayla menoleh berhenti menggigit apelnya.
"Iya gak papa, aku gak repot koq. Makul hari ini santai, nanti aku bisa tanya ke Rania. Yang penting kamu cepat sehat ya" jawab Nayla.
"Kalo aku sehat, kamu gak akan sering kesini lagi?" tanya Andre melirik Nayla sekilas.
Nayla mengulas senyum, ada rasa senang di sudut hatinya mendengar Andre bertanya seperti itu. Seolah kedatangannya sangat Andre nantikan.
Andre diam dan tak menoleh pada Nayla, sudah pasti akan begitu, batinnya.
"Aku akan sempatin kesini kalo kuliah lagi gak padat. Soalnya kan ini udah mulai mengajukan bimbingan skripsi, bareng Allea dan Rania waktu itu"
"Ya sudah. Kalo sekiranya mengganggu kegiatan kamu, gak usah kesini dulu gak papa.." kata Andre membuat Nayla menatapnya sedih. "Prioritaskan kuliah kamu aja biar cepat lulus, jangan kaya aku.." sambung Andre menghembuskan nafas berat lalu pindah duduk ditepi brankar di samping Nayla.
"Kalo semua ini gak terjadi, harusnya kita bisa barengan bikin skripsi kan ya? Tapi sekarang, aku malah udah kehilangan masa depan.." kata Andre lagi dengan senyum getir.
"Dre, udah ya...penyesalan memang selalu datang di belakang tapi jangan kamu sesali terus. Mungkin udah jadi jalannya harus begini, harus melewati semua ini. Lagian bukan berarti orang yang dipenjara itu gak punya masa depan. Banyak lho orang yang sukses setelah jadi mantan napi. Semua kejadian di hidup kita ini pasti ada hikmahnya. Makanya...aku mohon kamu jangan jadi terpuruk disini, kamu harus semangat! Masa depan kamu masih ada, percaya deh!" ucap Nayla menepuk-nepuk bahu Andre memberi suntikan semangat.
Andre menolehi Nayla lalu mengangguk sambil menyunggingkan senyum yang membuat jantung Nayla heboh. Buru-buru Nayla mengalihkan wajahnya yang memerah.
"Makasih ya ,Nay!"
"Iya. Kalo gitu aku pamit ya, jangan lupa minum obatnya. Makanannya nanti di habisin biar kamu cepat sehat. Jaga terus kesehatan kamu, Dre"
Andre mengangguk lagi. Nayla lalu berdiri, mengemasi bekas piring buah dan menaruhnya di nakas untuk mengalihkan jantungnya agar lebih tenang.
"Nay.." panggil Andre membuat Nayla memutar badannya. "Memangnya nanti, masih ada yang mau sama mantan penjahat kaya aku ini?" tanya Andre datar.
"Pasti ada, aku yakin!" jawab Nayla tersenyum lalu melambaikan tangan. Andre membalas sambil tersenyum hambar, ia sendiri tak yakin.
Nayla keluar dengan perasaan campur aduk, terlebih mendengar pertanyaan terakhir Andre.
__ADS_1
'Harusnya kamu gak perlu bertanya, karena jawabannya ada di depan kamu, Dre. Gimanapun kondisi kamu sekarang...kamu tetap berarti di hati aku...' batin Nayla murung.