Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
27. Masa Lalu Mengganggu


__ADS_3

Allea terlihat berdiri menyambut Sandy ke pintu lalu mengajaknya duduk. Setelah Sandy duduk ia pun pergi mengambilkannya minum. Jadilah Sandy duduk bersebelahan dengan Andre.


"Udah lama mulainya?" tanya Sandy ke Andre.


"Lumayan. Kemana aja lu baru nyampe?" tanya Andre ketus.


"Biasa lah, macet" jawab Sandy sekenanya.


"Oo..kirain ke rumah selingkuhan dulu" celetuk Andre membuat Sandy mendengus tertawa. "Awas aja kalo lu sampai selingkuhin Allea, gue udah relain Allea buat lu...jadi kalo sampai.."


"Udah diam!" potong Sandy. "Gue bukan tipe cowok kaya gitu, lagian tuduhan lu gak mendasar!" lanjut Sandy.


"Tapi btw..tengkyu kemarin udah bantu Allea ambilin file skripsi gue" kata Sandy teringat.


"Jangan GR..gue cuma bantuin Allea aja karena gue kira itu punya Allea ,eh gak taunya.." Andre menggantung kata-katanya.


"Kenapa? Emang lu ngerasa kena prank gitu?" kata Sandy menahan tawa.


'Sialan Sandy!' Umpat Andre dalam hati.


Tapi Andre tak jadi menjawab lagi karena Allea datang dan duduk diantara mereka. Mereka pun fokus lagi mendengar Mario dan yang lain gantian berbicara menyampaikan pikiran mereka. Andre tak bisa fokus ,hatinya merasa gerah terlebih melihat Allea dan Sandy minum bergantian dari gelas yang sama karena minuman Sandy telah habis. Sandy pun tanpa rikuh ikut makan kue dari piring Allea dan berbagi garpu berdua.


Hal yang biasa tapi menjadi hal yang membuat perih hati Andre. Dulu hal itu sering ia lakukan bersama Allea waktu SMA kalo mereka keluar makan bareng. Tapi sekarang didepan matanya Allea berbagi makanan dengan orang lain, bukan dengannya lagi. Andre menggeleng kuat lalu menghela nafas. Ia pun mengeluarkan vapornya lalu mulai menghisap dan menghembuskan asapnya untuk mengalihkan pikirannya yang mulai kusut.


Aroma vanila menyebar ke di ruangan itu, membuat Sandy yang tak suka bau vanila menjadi sedikit pusing kepalanya. Beberapa kali Sandy terlihat memijit pangkal hidungnya. Allea menyadari hal itu, ia berniat akan menegur Andre. Tapi Sandy melarangnya ,ia lebih memilih menepi keluar menuju teras agar bisa menghirup udara segar.


Setelah breafing selesai semua anak mapala keluar dan menyerbu makanan. Ada juga yang mulai barbeque-an. Allea terlihat belum keluar menyusul Sandy, dari jendela kaca Sandy bisa melihat Allea mengobrol dengan Andre seperti menegur sesuatu. Lalu setelah itu Andre berjalan keluar, saat melintas didepan Sandy ia menatap tajam sekejap disusul mendengus tertawa kecil.


"Kenapa?" tanya Sandy balas menatap sambil berdiri memasukkan satu tangannya ke saku.


Andre tak menjawab tapi samar terdengar di telinga Sandy ia mengucap 'cemen'. Sandy terus menatap tajam sampai Andre berpaling. Sebentar kemudian Allea keluar mendekatinya.


"Ngeliatin siapa sih?" tanya Allea melihat Sandy mengikuti arah pandangan Sandy.


"Andre. Kamu ngomong apa tadi sama dia?" tanya Sandy pelan.


"Aku cuma negur dia lain kali jangan ngerokok di dalam ruangan, gitu.." jawab Allea.


"Bener?" Allea mengangguk.


"Iyaa...tapi aku bilang juga sih kamu gak suka bau vanila" jawab Allea nyengir.


"Lhoo koq dia dikasih tau sih sayang..?" protes Sandy.


"Ya emang kenapa?"


"Itu kan kelemahan aku, harusnya jangan dong..ntar kalo dia bikin aku pingsan pake bau vanila terus culik paksa kamu ke KUA gimana?" seloroh Sandy berbisik membuat Allea terbahak.


"Kamu nih, aneh-aneh aja!"


"Hehe...gak, bercanda! Tapi pantas aja tadi dia melotot ke aku pas jalan keluar" kata Sandy dengan senyum khasnya. Allea mengernyit lalu geleng kepala mendengarnya. Sebenarnya memang Sandy tak ingin Andre tau, tapi ya sudahlah..


"Ya udah, masuk dulu sebentar yuk..aku ada sesuatu" ajak Sandy.

__ADS_1


Allea pun menurut, mereka masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Sandy langsung menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa sambil menghela nafas.


"Kamu kaya capek banget kak? Tadi kemana dulu, koq datang telat?" tanya Allea.


"Gak begitu capek koq.." jawab Sandy.


"Bohong. Kalo gak capek kenapa mukanya kaya gini?" tanya Allea melihat wajah Sandy yang penat. Sandy tersenyum hambar memegang keningnya.


"Iya benar, aku capek. Capek ketemu terus sama cewek itu!"


"Hah?! Siapa?" Allea terdengar kaget.


"Ya siapa lagi, Amira!" tandas Sandy.


"Koq bisa? Emang ketemu dimana?"


"Tadi waktu aku mau ambil hadiah buat kamu, masa tau-tau dia nongol aja..",


*Flashback On


Ditoko perhiasan silver, Sandy tengah selesai mengecek gelang yang akan ia berikan untuk hadiah ultah Allea. Tiba-tiba dari belakang ada yang memeluknya hingga membuatnya kaget. Allea? Gak mungkin!


"Sandy..! Seneng deh bisa ketemu kamu disini!" pekik cewek itu. Amira, Shitt! Semerta-merta Sandy melepas tangan Amira yang melingkar dipinggangnya.


"Apa-apaan sih! Jangan kaya gini dong Amira, malu dilihat orang!" bisik Sandy.


"Alah...santai aja, mereka kan juga gak kenal kita kan?" jawab Amira cuek membuat Sandy kesal.


"Ya tapi aku gak suka kamu kaya gini, udah ya..aku mau pulang" tandas Sandy.


"Gak bisa Ra...aku buru-buru!" tolak Sandy menepis tangan Amira.


"Kenapa sih, kamu selalu kaya gini sama aku..? Hari ini aja temenin aku emang gak bisa ya?" tawar Amira.


Sandy menggeleng. "Aku ada acara penting malam ini jadi gak bisa, maaf" jawab Sandy tegas.


Amira merengut lalu matanya melihat bungkusan paperbag pink kecil di tangan Sandy.


"Itu apa? Dan buat siapa?" tanyanya menyelidik.


"Ini buat tunangan aku, hari ini dia ultah. Udah ya, aku duluan" jawab Sandy berlalu.


Amira cuma diam tak mengejar atau memanggil biarpun hatinya sangat ingin. Ada iri yang ia rasakan melihat Sandy memberikan hadiah untuk Allea. Bahkan Sandy menyebut Allea tunangannya, apa benar? Kalo iya mengapa Andre diam saja dan tak memberinya info apa pun. Amira menghela nafas kesal tapi sebentar kemudian ia tersenyum saat melihat lelaki yang tadi datang bersamanya berjalan mendekat.


*Flashback Off


"Oh ya? Sama siapa dia?" tanya Allea heran.


"Gak tau sayang. Dan yang paling aku gak suka, dia tu main langsung peluk aja dari belakang, jelas aku kaget kan? Tapi mau emosi koq ya lagi di tempat umum..." Sandy membuang nafas kasar lalu menaruh kepala di sandaran sofa.


Wajah Allea datar tak bereaksi tapi hatinya jelas ada rasa gak rela. Lama-lama Amira lancang, pikirnya. Sebenarnya ingin rasanya ikut marah dan mengomel tapi ia takut hanya akan menimbulkan adu argumen antara dia dan Sandy. Ujung-ujungnya membuat mereka ribut, ia tau itu bukan keinginan dan salah Sandy.


"Terus habis itu?" tanya Allea. Sandy angkat bahu.

__ADS_1


"Dia sih tadinya minta ditemani memilih perhiasan tapi aku bilang gak bisa karena aku buru-buru. Dia juga nanya gelang yang aku beli itu buat siapa? Ya udah aku jawab aja jujur, buat tunangan aku...gitu" jelas Sandy panjang membuat Allea tersenyum tipis.


"Itu namanya gak jujur dong...kan kita belum tunangan?" goda Allea. Sandy berdecak lalu ikut tersenyum tipis.


"Ya gak papa, habis wisuda pokoknya aku wujudin ,kamu gak boleh nolak!" jawab Sandy agak berbisik sambil menatap Allea serius. Allea menyembunyikan wajahnya yang memerah ke pundak Sandy. Dengan cepat Sandy mengecup pucuk kepala Allea.


"Eh, kamu nih..kalo ada yang lihat dari luar gimana ntar.." kata Allea kaget. Sandy cuma tersenyum. "Tumben tadi cewek itu gak minta kamu antar pulang?" tanya Allea tiba-tiba teringat.


"Gak tau, habis jawab tadi aku langsung pergi koq. Aku gak suka apa lagi lihat bajunya yang makin kesini makin kurang bahan itu" jawab Sandy. Allea mengulum senyum.


"Tapi aneh juga ya..biasanya dia maksa-maksa kamu..?" gumam Allea.


"Udah ah sayang, jangan ngomongin dia terus, ngerusak moment aja.." sungut Sandy malas membuat Allea tertawa pelan.


"Iyaa maaf, oiya tadi ngajak masuk mau ngapain?" Allea lalu mengalihkan perhatian.


"Eh iya, tadi aku mampir dulu beli ini.." Sandy mengambil sesuatu dari saku celananya lalu mengeluarkan sesuatu." Ini hadiah buat ultah kamu.." kata Sandy memberikan kotak kecil pada Allea. Allea tersenyum.


"Kamu harusnya gak perlu repot gini dong sayang.."


"Gak ada yang repot koq, buka dong.." pinta Sandy. Allea menuruti.


"Apa ini?" kata Allea sambil membukanya. Sebentar kemudian ia tersenyum melihat isinya.


Gelang tali dengan liontin silver bentuk love ditengahnya. Dibalik liontinnya ada tulisan 'Sandy Allea'.


"Bagus gak?" tanya Sandy disusul anggukan Allea. "Suka?"


"Suka! Makasih ya sayang.." jawab Allea.


"Sini aku pakein.." Sandy pun memakaikan gelang itu ke tangan kanan Allea.


"Kenapa di kasih nama?" tanya Allea. Sandy tersenyum tipis.


"Ya gak papa, minimal kan kalo hilang di kampus udah pada tau ini harus dibalikin kemana" jawab Sandy. Allea tertawa kecil. "Oiya, Andre ngasih kamu kado apa?" lanjut Sandy.


"Koq kamu udah tau kalo dia ngasih kado?" selidik Allea.


"Ya pasti taulah sayang, kan aku juga tau dia kaya apa ke kamu, masa kamu ultah dia diam aja. Kan gak mungkin!" jawab Sandy.


"Iya sih.." kata Allea singkat.


"Dia kasih apa?" ulang Sandy tak sabar. Allea tersenyum datar.


"Nanti aja ya aku ceritain.." jawab Allea.


Sandy menghela nafas kasar. "Koq nanti sih sayang, sekarang aja..".


Allea menggeleng pelan. "Aku gak mau cerita kalo kamu lagi badmood gini, ntar malah bikin kamu tambah bete, nanti ya? Sabar dulu.." kata Allea mengusap punggung Sandy. Sandy diam sebentar lalu angkat bahu.


"Ya udah kalo gitu" kata Sandy datar sedikit kecewa.


"Kita keluar aja yuk, gak enak sama yang lain kalo kita lama-lama disini.." ajak Allea.

__ADS_1


Sandy pun menuruti dan mereka segera beranjak keluar. Allea sengaja tak langsung cerita karena ia pikir saat ini Sandy sedang kurang baik mood-nya. Selalu begini kalo habis bertemu Amira, mungkin karena hati Sandy masih menyimpan sakit. Allea gak mau suasana hatinya bertambah buruk, terlebih malam ini hari bahagianya..


__ADS_2