Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
60. Mencari Sandy


__ADS_3

Pagi ini Allea dan semua team hiking telah berhasil turun kembali dengan selamat dan lancar tanpa kendala berarti. Mereka kini beristirahat di rest area sebelum lanjut perjalanan pulang. Tubuh Allea terasa lelah dan mata juga mengantuk karena semalam kurang tidur. Mereka begitu menikmati pendakian kali ini. Sambil merebahkan punggung di kursi ia mengaktifkan ponsel. Beberapa pesan masuk, salah satunya dari Sandy.


Terakhir Sandy mengirim chat jam sepuluh malam saat memberitahu akan kembali ke apartemen. Ada perasaan sedikit mengganjal di hati Allea.


Tak biasanya Sandy seperti ini, saat ia menginap beberapa waktu lalu di rumah mama Tiara pun setiap jam suaminya itu selalu berkabar. Tapi sekarang, mereka bahkan berbeda kota dan Sandy tak ada kabar. Allea pun tetap mengajak hatinya untuk berpikir positif.


πŸ“±: Sayang, udah bangun belum?


Allea mengirim pesan chat ke Sandy, tapi belum di baca. Tak berapa lama kemudian mereka pun menempuh perjalanan pulang setelah sarapan alakadarnya. Jarak dari kota ini ke kampus mereka sekitar tiga jam. Lumayan, di mobil Allea bisa tidur hampir dua jam. Ia terjaga karena suara getar ponselnya. Papa Roby.


"Hallo pah.."


πŸ“±: Allea...Kamu dimana? Sandy ada sama kamu?


"Oh...enggak pah, kebetulan ini belum sampai rumah. Masih perjalanan pulang dari hiking kampus. Ada apa ya pah?"


πŸ“±: Ini...Sandy koq tumben belum sampai kantor. Padahal hari ini ada jadwal meeting jam sebelas nanti. Semua berkas dan file ada sama dia lagi.." kata pak Roby lalu berdecak gelisah.


Allea melihat jam tangannya, sudah jam sepuluh. Ia mengernyit, memang ada sesuatu yang tak biasa, pikirnya.


"Papa sudah coba telpon ke apartemen atau ke ponselnya?"


πŸ“±: Sudah berkali-kali Al, tapi gak diangkat semua. Kemana dia nih?"


"Pah, coba Allea tanyakan ke teman-temannya ya. Siapa tau aja semalam menginap dirumah salah satu dari mereka. Biasanya kan pada begadang kalo kumpul, siapa tau ini kesiangan.." Kata Allea mencoba menenangkan mertuanya, biarpun ia sendiri juga tak yakin. Allea tau itu bukan kebiasaan Sandy, apalagi sampai kesiangan bangun.


πŸ“±: Ya sudah kalo gitu, kalo ada kabar apapun tolong kasih tau papa ya? Kamu hati-hati di jalan"

__ADS_1


"Ya pah, makasih"


Mereka pun menyudahi telpon, Allea mengecek chat yang ia kirim tadi. Belum dibaca juga oleh Sandy sampai sekarang. Ia pun berinisiatif menanyakan keberadaan suaminya pada Mario dan Putra. Dua orang itulah yang paling sering berkomunikasi dengan Sandy. Sambil menunggu balasan Allea mencoba lagi dan lagi menghubungi nomor Sandy. Panggilan ke lima pun tak ada jawaban. Allea mulai gelisah, berkali-kali ia melihat jam tangannya. Ia ingin cepat sampai tapi perjalanan mereka masih sekitar satu jam lagi. Dua sahabatnya pun bisa membaca kegelisahan dimatanya.


"Kenapa Al?" tanya Rania.


"Iya nih, habis ditelpon mertua koq malah galau?" goda Nayla.


Allea berusaha tersenyum. Lalu dengan suara pelan ia menceritakan kegundahan hatinya. Dua sahabatnya pun memeluk dan mengusap punggungnya.


"Udah. Jangan berpikir macam-macam, kak Sandy pasti baik-baik aja Al.." kata Rania.


"Iya...kita tunggu kabar dulu aja, semoga nanti sampai kampus kak Sandy udah hubungi kamu. Terus udah sampai kantornya juga" hibur Nayla.


"Amiin...semoga gitu" kata Allea penuh harap.


Β Β Β  Β  πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚ πŸ‚


"Gimana? Beres?" tanyanya.


"Beres boss!" sahut ketiga anak buahnya yang berbadan mirip tukang pukul itu.


"Jangan sampai ada orang tau! Termasuk cctv hotel juga harus secepatnya dimusnahkan!" titahnya.


"Baik boss, setelah ini kami musnahkan sampai tak bersisa!"


"Bagus! Dia belum sadar kan?"

__ADS_1


"Belum boss, efek wine tambahan semalam memang oke boss!" jawab salah satu dari mereka sambil mengangkat jempolnya.


Andre tersenyum puas. "Kalian boleh pergi, uang gue transfer setelah ini!"


"Siap boss!"


Ketiga orang berbadan besar itu pun meninggalkan tempat lebih dulu. Sementara Andre mendekat ke mobil Sandy, dimana di dalamnya Sandy terkulai tak sadarkan diri. Andre tertawa licik, dibukanya salah satu pintu mobil Sandy lalu menarik kerah bajunya hingga kepala Sandy sedikit terangkat.


"Cuma segini ternyata kemampuan lu, hah! Nikmati dulu tidur lu, buat menyambut surprise yang gak lama lagi lu terima..!" kata Andre lalu mengepulkan asap vapor vanilanya ke muka Sandy.


Sandy yang saat pingsan masih dicekoki minuman bercampur obat tidur itu tak merespon. Bahkan saat Andre membanting tubuhnya lagi ke kursi kemudi, Sandy terlihat lemah. Andre lalu meninggalkannya begitu saja denganΒ  pintu mobil yang terbuka di bagian kemudi.


Β Β Β Β Β Β Β  πŸ₯€ πŸ₯€ πŸ₯€ πŸ₯€ πŸ₯€ πŸ₯€ πŸ₯€


Sementara Allea dan team mapala sudah sampai di kampus. Allea menerima kabar mengecewakan karena Sandy tak bersama Mario ataupun Putra saat ini. Ia pun langsung meminta Nayla menemaninya mencari Sandy. Kebetulan Nayla menitipkan motornya di parkiran kampus. Sambil menyisir jalan Allea terus menghubungi suaminya yang tak sekalipun mendapat jawaban. Di rumah pak Roby atau di rumahnya pun tak ada hasil. Hingga Allea malah meninggalkan tanya dipikiran mama Tiara saat tau ia mencari-cari suaminya. Tapi Allea sebisa mungkin tak ingin buru-buru bercerita dulu.


Ia memilih keluar rumah lagi dan menuju apartemen bersama Nayla.


"Kamu dimana sayang?" lirihnya ditengah suara laju motor Nayla.


Allea mulai khawatir dan perasaannya mendadak tak enak, terlebih saat tak kunjung menemukan hasil seperti ini.Β  Saat sampai di apartemen pun tak ada tanda-tanda Sandy pulang. Semua masih seperti saat sebelum ia berangkat hiking kemarin. Allea mendesah khawatir. Tapi ia tak mau menyerah, ia harus menemukan Sandy.


"Kita kemana lagi Al?" tanya Nayla.


"Kita coba ke rumah produksi jersey ya, biarpun kemungkinannya kecil tapi kita coba aja.." jawab Allea.


Nayla mengangguk, mereka pun kembali naik motor berboncengan. Nayla meminta ijin mengisi bahan bakar di pom tak jauh dari apartemen. Allea pun turun dan menunggu di pinggir jalan, berharap melihat Sandy melintas. Saat asik mengamati jalanan mata Allea tertuju pada lahan kosong di seberang pom yang ditumbuhi banyak ilalang tinggi. Matanya memicing karena seperti melihat bagian belakang mobil mirip mobil Sandy. Allea hafal betul mobil suaminya biarpun hanya terlihat sedikit dari tempat ia berdiri.

__ADS_1


Setelah memberi kode ke Nayla, ia pun melangkah menuju lahan kosong itu. Allea memekik dan menutup mulutnya sambil perlahan mendekat.


"Astaga..." pekiknya pelan melihat pemandangan di depannya.


__ADS_2