Liontin Untuk Sang Queen

Liontin Untuk Sang Queen
42. Kiriman dan Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

"Apa benar kamu sudah menikah dengan Allea?"


Sandy langsung mengacungkan tangan kanannya memperlihatkan cincin di jarinya.


"Seperti yang kamu lihat kan?"


"Kenapa...? Kenapa kamu gak sedikit pun kasih aku kesempatan? Aku bisa jadi seperti apa yang kamu mau, aku bahkan bisa lebih kasih cinta ke kamu daripada Allea.."


"Aku pikir gak perlu lagi kamu bilang semua kaya gini. Aku sudah lama ambil keputusan dan hati akuĀ  udah lama juga dibawa Allea. Jadi sepertinya aku gak butuh cinta dari perempuan lain lagi.." jawab Sandy pelan tapi menusuk hati Amira.


Tangan Sandy menyentuh gagang telpon hendak memanggil security tapi Amira dengan cepat menggapainya.


"Apa sih istimewanya dia? Sampai kamu beneran nutup hati kamu buat aku?" Amira mulai terisak.


"Kamu sendiri yang buat aku nutup hati!" sahut Sandy. "Bukannya dulu kamu juga udah gak butuh aku, cowok cupu yang cuma jualan jersey, yang cuma punya mobil biasa, iya kan? Terus bukannya dulu kamu sudah dapatkan yang kamu mau, cowok dengan mobil sport atau mobil mewah lainnya..??" kata Sandy angkat bahu.


"San...aku minta maaf" kata Amira berusaha memegang tangan Sandy. Dengan cepat Sandy menepisnya.


"Sekarang misal aku balik tanya, apa istimewanya aku? Hingga kamu putar balik meminta hati lagi dari aku?" tanya Sandy menatap Amira tajam.


"Karena aku baru sadar, cuma kamu yang paling tulus dari semua laki-laki yang aku kenal. Kamu mau kan maafin aku?"


'Baru sadar, emang kemana aja kamu?' batin Sandy.


"Aku udah lama maafin kamu jadi tolong sekarang kamu pergi dan jangan ganggu kehidupan keluarga aku!" ujar Sandy menunjuk pintu.


Amira menghela nafas. "Apa sih San kurangnya aku di mata kamu, aku lebih cantik, lebih berkelas dan punya segalanya dibanding Allea yang kamu puja itu! Yang hanya bisa manjat gunung dan masuk hutan mirip orangutan!"


"Jaga mulut kamu ya!" teriak Sandy menunjuk wajah Amira. "Jangan sekali-sekali kamu jelekkan Allea di depanku! Percuma juga sekarang kamu kampanye diri, aku sudah menemukan yang lebih tulus mencintai aku. Go away..!" kata Sandy menunjuk pintu dengan tatapan marah.


"Aaargh..!!" Amira mengobrak-abrik bekal dimeja Sandy berikut jus yang baru sedikit ia minum tadi hingga semua berserakan dilantai.

__ADS_1


"Amira!" bentak Sandy lalu dengan cepat memencet tombol telpon. "Pak, tolong cepat ke ruangan saya, bawa OB sekalian. Ada orangutan ngamuk!"


šŸ“±'Hah?! Orangutan? Koq bisa pak?'


"Tolong cepat pak, keburu saya lempar ke jalanan ini!" jawab Sandy lalu membanting telpon setelah diiyakan oleh security.


"Kamu bilang aku orangutan? Tega kamu ya.." kata Amira menghapus air matanya.


"Kenapa enggak? Terus aku mesti bilang apa liat kelakuan kamu kaya gini?!" Sandy menunjuk makannya yang berserakan ulah Amira. "Sama sekali gak berkelas, attitude kamu...nol besar!" lanjut Sandy didepan muka Amira.


"Sandy! Kamu..." Amira hendak mengayunkan tangannya menampar Sandy tapi Sandy menangkapnya.


"Kenapa? Mau nampar aku? Kamu gak ada apa-apanya dibanding perempuan yang suka naik gunung dan masuk hutan. Liat kamu kaya gini aku jadi makin bersyukur dulu kamu campakkan!"


"Apalagi?! Apalagi yang mau kamu bilang tentang kebaikan Allea, bilang sekarang!"


"Owh tentu aja! Tapi gak perlu, karena gak akan ada habisnya, bisa-bisa kamu pingsan gak kuat!"


"Aku sudah mutusin nikah dengan Allea berarti aku yakin! Dan sekarang aku makin yakin karena udah tau Allea luar dalam!" jawab Sandy tersenyum sinis sengaja membuat Amira panas hati. Terlihat mata Amira berkaca-kaca, lalu pintu ruangan terbuka dan masuklah dua security yang membawa tali bersama seorang OB yang langsung membersihkan tumpahan makanan.


"Mana pak orangutannya? tanya salah satu security. Sandy berusaha menahan tawanya agar tak lepas lalu menunjuk Amira. Kedua security pun saling pandang.


"Tolong bawa dia pak, kenali juga mukanya jangan sampai lain kali bisa masuk!"


"Siap pak!" jawab kedua security lalu menyeret Amira yang berusaha berontak sambil ngomel-ngomel.


"Awas aja kamu Sandy, kamu liat aja aku akan tunjukin kalo kamu juga masih butuh aku!"


Sandy tak menjawab hanya mengibas-ngibaskan tangan kanannya.


"Pak, sudah bersih. Ini tempat makan bapak saya bawa ke pantry dulu untuk di cuci" kata OB tadi.

__ADS_1


"Ya ya, terimakasih pak"


OB pun mengangguk dan berlalu setelah menutup pintu. Sandy langsung menghempaskan diri ke sofa ruangannya lalu memijit pangkal hidungnya.


"Ada-adaa aja...gimana caranya dia bisa masuk?" gumam Sandy menghela nafas.


Untung tadi makanan dari Allea yang terbuang hanya tinggal sedikit, pikirnya. Biarpun minumannya terbuang percuma dan belum ia minum banyak. Sandy melirik jam tangannya lalu beranjak ke mejanya menyiapkan file meeting. Entah kenapa perutnya mulai terasa tidak enak. Apa mungkin karena baru saja ada keadaan yang tak mengenakkan juga, pikirnya. Sandy meneguk air putih di gelasnya sampai habis lalu berjalan keluar ruangan menuju ruang meeting.


Meeting sebentar lagi di mulai, di ruangannya sudah mulai lengkap personil yang akan mengikutinya. Sandy pun bersiap membuka file-file yang akan mereka bahas siang ini. Tapi sakit perutnya malah makin terasa seperti kram biarpun ia masih bisa menahannya.


Saat meeting mulai berjalan rasa sakit diperutnya makin menjadi sampai ia berkeringat dingin padahal ruangan itu ber-AC. Sandy sampai meminta dibuatkan teh panas tapi entah kenapa rasa sakit diperutnya tak kunjung hilang. Ia tetap memilih bertahan sampai meeting selesai.


"Sandy, kamu kenapa?" tanya pak Roby begitu meeting selesai dan melihat Sandy belum beranjak. Sandy menoleh dengan wajah menahan sakit.


"Perutku sakit pah dari tadi, gak tau kenapa ini.."


"Kamu sudah makan?"


"Udah pah tadi Allea kirim makan siang"


"Kamu telat makan mungkin. Kalo masih sakit kamu ijin pulang aja, istirahatĀ  dulu"


"Biasanya telat makan juga gak gini pah. Nanti kalo gak kuat baru aku ijin pulang. Aku mau balik ke ruangan dulu aja" kata Sandy sambil berlalu menenteng laptopnya.


Pak Roby tak menjawab lagi hanya geleng-geleng kepala melihat Sandy yang tetap memaksakan kerja biarpun merasakan sakit.


Sampai di ruangannya Sandy merebahkan diri ke sofa sambil mengecek email dari ponselnya, tangannya mengurut perutnya yang makin terasa sakit sampai kepalanya pun sekarang ikut berdenyut. Ia makin tak bisa konsentrasi membalas email yang masuk.


Jika karena makanan yang Allea buat, apa sekarang Allea juga merasakan sakit perut sepertinya? Apa Allea baik-baik saja? Allea sedang dimana sekarang? Sandy tiba-tiba khawatir hingga muncul banyak pertanyaan di kepalanya.


"Allea..." rintihnya pelan merasai sakit diperut dan kepalanya.

__ADS_1


Sandy merasa tak kuat lagi..


__ADS_2