
Sebentar kemudian mereka segera membaur dengan yang lain. Menikmati pesta kecil ultah Allea dengan jamuan berbagai macam makanan lezat juga barbeque.
Sandy langsung duduk bersama Mario dan Putra setelah mengambil makanan. Lalu mereka larut dengan obrolan seru seputar bola. Sementara Allea menuju kumpulan para cewek yang asyik membakar sosis dan daging. Allea mengernyit melihat Andre di depan pintu gerbang sambil memainkan ponselnya. Ia terlihat berchat entah dengan siapa.
Andre seperti merasa diperhatikan, ia lalu menoleh ke arah Allea dan langsung ikut mendekat tanpa rasa tak enak pada Sandy. Dasar Andre! Masih dengan vapoor ditangannya ia tampak fokus ke tangan Allea yang kini memakai gelang. Allea melirik, ia tau apa yang Andre lihat.
"Kenapa?"
"Gak papa. Ada yang baru kayanya..?" sindir Andre.
"Gak makan kamu? Ngerokok terus dari tadi.." tanya Allea mengalihkan maksud Andre.
"Udah makan tadi" jawab Andre datar sambil ikut mengutak-atik sosis dipanggangan.
"Kapan?"
"Tadii..jelas kamu gak liat lah orang lagi asik di dalam!" jawab Andre sewot. Allea mencibirnya.
"Idih...sensi!" timpal Nayla.
"Enggak Nay, cuma gerah aja" jawab Andre.
"Kalo gerah ya jangan dekat sama kompor dong.." seloroh Rania membuat Allea menahan tawa. Andre cuma tersenyum kecut mendapat serbuan dari para cewek.
"Eh ini dagingnya dimakan bareng mie instan korea kayanya enak nih!" usul Andre tiba-tiba, berusaha mengalihkan topik.
"Eh iya, bener juga!" sambut Nayla.
"Sana Nay, beli di minimarket depan komplek aja dekat" kata Andre.
"Ya sini duitnya"
"Berapa?" tanya Andre merogoh dompet di saku belakangnya.
"Terserah berapa ajalah!" jawab Nayla. Lalu Andre memberikan selembar uang dua ribu, Nayla pun merengut.
"Tadi katanya terserah..?" goda Andre cengengesan.
"Ya gak dua ribu juga kalii.." jawab Nayla.
"Iya bercanda, nih.." Andre lalu memberikan selembar uang lima puluh ribuan. "Naik motor Allea aja biar cepet" usul Andre.
__ADS_1
"Lah..kamu nih main suruh aja, sana temenin Nayla dong!" kata Allea. Andre melongo.
"Gak apa Al, aku sendiri bisa koq.." jawab Nayla.
"Ya jangan mau Nay, yang pengen makan mie korea siapa?"
"Kenapa sih Al, Nayla aja gak papa koq, ya kan Nay?" kata Andre santai. Nayla tersenyum canggung.
"Eeh...enggak! Sana temenin Nayla, cepetan! Jangan ditinggal!" kata Allea memerintah.
"Ayo sama kamu aja kalo gitu?" kata Andre berbelok mengajak Allea dan sama sekali tak peduli Sandy menoleh padanya.
"Iih...ya ogah, kan kamu sama Nayla yang mau makan mie. Lagian aku disuruh jagain rumah tadi, sana buruan pergi" dalih Allea sambil menggenggamkan kunci motornya di tangan Andre. Andre berdecak, Nayla jadi serba salah.
"Ya udah ayo Nay" Andre akhirnya pasrah. Nayla memandang Allea rikuh. Tapi Allea mengkodenya agar segera pergi dengan Andre. Mereka pun berlalu.
"Nay, kamu jangan GR ya..aku boncengin kamu gini karena Allea yang minta" kata Andre disela perjalanan mereka.
"Idih...gak usah kecakepan! Kalo bukan demi mie korea aku juga gak mau!" balas Nayla. Andre tertawa pelan.
"Bagus deh kalo gitu" kata Andre lagi.
Entah kenapa hati Nayla terasa dicubit-cubit mendengar Andre bilang seperti itu.
Di mini market mereka tak hanya memilih mie instan tapi juga minuman dingin dan susu sebagai penetral kalo nanti lidah mereka terbakar rasa pedas. Mereka pun menuju kasir setelah selesai memilih. Mini market cukup ramai pembeli, antrian di kasir pun agak mengular biarpun tak lama. Saat giliran mereka membayar tiba-tiba seorang pria setengah baya menyerobot tempat Nayla berdiri. Hingga hampir saja Nayla terjatuh tapi dengan cepat tangan Andre menahannya dari belakang.
"Pak, maaf bisa pelan-pelan gak ini? Lagian bukannya antri dulu dibelakang?!" tegur Andre masih memeluk pinggang Nayla.
"Saya buru-buru mas, maaf gak sengaja tadi nyenggol pacarnya" kata bapak itu.
Nayla tersipu mendengarnya lalu perlahan menepis tangan Andre.
"Ya tapi tetap harus antri pak, kita juga udah nunggu dari tadi!" volume suara Andre mulai meninggi.
"Andre.." bisik Nayla mengingatkan Andre agar menahan diri. Andre tak menjawab hanya mengangkat tangannya.
"Sebentar aja, saya cuma mau bayar internet ini" bapak itu terlihat masih ngotot.
"Pak..!"
"Mohon maaf pak, tolong antri ya demi kenyamanan yang lain juga" petugas kasir akhirnya menengahi hingga Andre tak jadi berkomentar lagi.
__ADS_1
Bapak itu pun akhirnya mengalah lalu mundur mengambil antrian. Nayla pun segera menyelesaikan urusan membayarnya karena mata Andre masih terus menatap tajam bapak-bapak tadi. Ia takut terjadi keributan lagi.
"Andre..udah dong!" bisik Nayla. Andre tak menjawab tapi langsung menggandeng tangan Nayla keluar minimarket.
Nayla menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona. Nayla tak mau sampai Andre melihatnya, takut Andre bilang kalo ia GR lagi seperti tadi. Meskipun nyebelin dan suaranya pedas nylekit di hati tapi Andre sebenarnya baik. Terlihat dari cara melindunginya tadi keliatan gentleman banget.
'Biarpun suaranya kadang suka pedas gitu tapi Andre ganteng sekilas mirip oppa korea, gentleman lagi. Kalo gini, aku makin susah jauhkan kamu dari pikiranku oppa..', batin Nayla galau.
Belum sampai tancap gas ponsel Andre berbunyi, ada telpon masuk. Andre mengintip layar ponselnya, ternyata Amira. Ia pun turun dari motor.
"Tunggu disini sebentar ya Nay" pamit Andre lalu Nayla mengangguk. Ia pun berjalan agak menjauh sembari menjawab telpon.
"Hallo?"
📱"Hallo Dre, lu koq gak bilang ke gue kalo Sandy udah tunangan?!" sembur Amira dari seberang.
"Hah?! Maksud lu apa?"
📱"Tadi gue gak sengaja ketemu dia pas mau beli perhiasan, katanya dia lagi beliin buat tunangannya, gitu" kata Amira mengadu lalu Andre terkekeh. "Koq lu malah ketawa sih?" teriak Amira jengkel.
"Hei...Amira, jadi cewek itu jangan polos banget dong, yang pintar! Gak mungkin Allea tunangan gue diem aja.."
📱"Jadi maksudnya..tadi Sandy bohongin gue gitu?"
"Ya iyalah...dia pasti sengaja bilang gitu biar lu berhenti dekati dia, haduuhh...Amira lu kemana aja dulu waktu Tuhan bagiin otak!" ejek Andre. Terdengar Amira memaki. Tuh kan mulut Andre lagi-lagi nyolot pedas.
📱"Awas aja ya Sandy, belum tau gue kayanya..", omel Amira.
"Ya udah, pokoknya kalo ada info apa aja gue akan kasih tau nanti. Tapi gue juga gak akan biarin Allea tunangan sama Sandy.." kata Andre pelan. Ia pun mematikan telpon lalu berjalan lagi ke tempat Nayla menunggunya.
"Yuk balik" ajak Andre sambil menyalakan motor.
"Telpon dari siapa?" tanya Nayla penasaran.
"Dari...orang tua aku disana" jawab Andre bohong tapi berhasil membuat Nayla percaya.
Selama perjalanan kembali ke rumah Allea mereka tak berbicara apapun lagi. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Nayla pun berusaha menetralkan perasaannya dan melupakan kata-kata Andre saat berangkat tadi. Ia tak ingin jadi canggung dan malah merenggangkan hubungan mereka yang selama ini baik-baik saja layaknya teman biasa.
Sesampainya dirumah Allea lagi, mereka langsung masak mienya seperti yang mereka inginkan. Andre terlihat lahap makan mie koreanya padahal katanya tadi sudah makan. Memang perut Andre terbuat dari karet mungkin. Tanpa menunggu ditawari Andre pun menyicip mie dari mangkok Nayla yang menurutnya lebih enak daripada buatannya.
Nayla senang dan lega, sikap Andre sudah seperti mode awal lagi. Mereka pun tertawa-tawa lagi seperti biasa. Bahkan Andre juga gak menolak saat Nayla mengusap matanya dengan tisu karena terkena cipratan kuah mie pedasnya. Saat mulutnya pedas terbakar pun ia menerima minuman yang Nayla ambilkan untuknya.
__ADS_1
Diam-diam Allea memperhatikan mereka sambil mengulum senyum. Allea pun menaruh harapan pada Andre, agar suatu saat bisa membuka hati untuk Nayla. Ia tau sahabatnya itu menyimpan rasa untuk Andre tapi berusaha tak menunjukkannya dan memilih menyimpan sendiri.