
Dengan seksama Sandy mendengarkan penjelasan Ananta terkait kasus fotonya bersama Amira. Vidio CCTV cafe dan hotel sudah hilang. Sandy pun tak begitu kaget, ia sudah ada perkiraan soal itu. Apalagi ini sudah lewat beberapa hari, pasti Amiralah yang mengambilnya lebih dulu. Ia yakin Amira tak bekerja sendiri, pasti ada orang lain yang membantu melakukan misi brengseknya itu. Terlebih Ananta menyampaikan, ada salah satu pengunjung yang melihat Sandy di bawa oleh beberapa orang masuk ke hotel setelah pingsan. Juga kesaksian waiters hotel yang mengirimkan wine dengan kadar alkohol tinggi ke kamar dimana Sandy dibawa. Ananta pun mencatat juga jenis wine apa yang dipesan Amira waktu itu.
"Tampung dulu apa yang sudah kita dapat, sambil kita cari bukti tambahan lain!" kata Sandy.
"Baik pak "
"Satu lagi, jaga jangan sampai berita ini mencuat keluar. Apa lagi papa saya sampai tau, paham?"
"Siap pak"
"Terimakasih.." ucap Sandy lalu menyilakan Ananta kembali ke ruangannya.
Sandy menghembuskan nafas besar sambil memutar kursinya ke belakang lalu mendongak mengusap tengkuknya. Pikirannya kembali penuh oleh masalah Amira yang membuatnya repot. Bisa-bisanya ia menjebaknya sampai membuat Allea kini bersikap dingin padanya. Padahal melihat fotonya saja membuat Sandy bergidik, apa lagi disuruh bersentuhan seperti dalam foto itu. Ia sama sekali tak ingat saat Amira menyentuhnya apa lagi mengambil fotonya. Dengan siapa Amira melakukan semua itu? Terlebih saat ia tiba-tiba ada di tanah kosong penuh ilalang kemarin, sangat gak masuk akal kalo ia sendiri yang membawa mobil dan berbelok kesana.
Bukankan waktu itu ia pingsan karena mabuk berat? Ia mabuk berat bukan karena minuman dari pak William tapi kemungkinan Amira mencekokinya wine yang ia pesan. Orang pingsan mana bisa meniduri orang? Batin Sandy menyimpulkan berbagai perkiraan hingga membuat kepalanya berdenyut.
"Aku yakin, aku gak sentuh dia! Pasti ini cuma rekayasa dia aja buat pisahin aku dan Allea!" gumam Sandy mengepalkan tangannya.
🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂
Sepulang kerja sore itu Sandy sengaja langsung menuju supermarket yang ada di apartemen. Karena tadi Allea pamit akan berbelanja ke bawah. Sandy sedikit lega, biarpun Allea masih marah dan bersikap dingin tapi ia tetap ijin padanya kemana pun akan pergi. Sampai di supermarket Sandy melihat Allea selesai membayar di kasir dengan tas belanja yang lumayan banyak.
"Banyak banget belanjanya sayang?" kata Sandy saat menghampiri lalu tanpa menunggu diminta langsung membawakan beberapa tas yang berat.
"Iya..sebagian mau aku bawa kerumah papa Roby, ada kak Sherly datang kan katanya?" jawab Allea.
"Kamu udah tau?" Sandy tersenyum.
"Hmm, tadi di telpon katanya weekend kita disuruh menginap disana"
"He-em, kata kak Sherly pengen camping di belakang rumah, kamu mau kan?" tanya Sandy semangat.
__ADS_1
Allea mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Kamu kangen gak sama Dio?"
"Kangen"
Mereka pun tiba di apartemen dan langsung menuju dapur untuk meletakkan hasil belanjaan. Allea mencepol rambut seadanya lalu mulai menata barang yang ia beli. Sedangkan Sandy selesai membersihkan diri segera menyusul Allea lagi ke dapur. Ia mendehem sambil melirik istrinya tapi Allea tetap cuek dan asik dengan kegiatannya memasukkan minuman dingin ke kulkas.
"Sayang, laper nih.."
"Hmm..."
Sandy mendekat dan sengaja mengambil satu botol minuman orange jus. Ia ingin tau reaksi Allea. Dan benar saja, Allea menolehinya dan menghela nafas.
"Jangan minum itu dulu kalo perut kosong, nanti perih perutnya! Makan dulu!" omelan Allea yang Sandy kangeni akhirnya meluncur dari mulutnya. Sandy tersenyum senang, beberapa hari ini Allea selalu dingin dan tak banyak bicara. Sandy kangen dengan Allea yang bawel dan ceria.
"Ya udah kalo gak boleh" jawab Sandy memasukkan kembali minuman tadi.
"Apa aja, asal kamu yang bikin aku makan koq. Tapi kalo boleh aku pengen makan mie goreng?"
"Ya udah sebentar" jawab Allea.
Sandy pun mengintip bungkusan plastik di table kitchen yang masih utuh belum di sentuh.
"Ini...?"
"Itu jangan, besok mau dibawa buat kak Sherly sama Dio" Allea mengingatkan sebelum Sandy membukanya tapi tetap bernada datar.
Sandy tersenyum lalu menghampiri Allea yang tengah menyiapkan panci mie, memeluknya dari samping.
"Makasih ya.."
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Biarpun kamu masih marah tapi kamu tetap perhatian ke aku dan ke keluarga..terlebih keluarga aku. Aku memang beruntung ya?"
Allea menatap Sandy dalam. "Kita masih suami istri, biarpun sekarang kita sedang gak baik-baik saja..tapi aku tetap menghargai kamu sebagai suami.." lirih Allea menunduk.
"Dengar sayang, sampai kapan pun kita akan tetap jadi suami istri. Kita, aku dan kamu gak ada orang lain, okey?"
"Aku akan kembalikan semua jadi baik-baik saja, seperti sebelumnya!"
Allea melepas tangan Sandy di pinggangnya sambil mengangguk-angguk.
"Ya..ya...let's see" kata Allea sembari memasukkan mie ke panci.
"Kamu koq jawabnya gitu?"
"Ya aku harus gimana? Bukti yang aku minta aja belum ada..?" tagih Allea.
"Sabar ya...aku masih kumpulkan semuanya. Aku minta kamu jangan berpikir buruk untuk rumah tangga kita. Aku cuma mau selamanya bersama kamu, my queen.." kata Sandy lalu mengecup lama kening Allea.
Allea mengedip-ngedipkan matanya, ia tak ingin air matanya tumpah. Ia tak mau terlihat cengeng lagi meskipun Sandy tau Allea menahan tangisnya.
"Ayo makan dulu.." kata Allea mengalihkan.
Sandy merengkuh Allea agar lebih mendekat dan memegang dagunya.
"Aku udah kehilangan wanita cinta pertamaku...karena itu aku gak mau kehilangan wanita cinta terakhirku. Jadi aku mohon, jangan pernah terbersit ingin meninggalkan aku, selamanya aku ingin kita jadi suami istri!" ucap Sandy yang juga dengan suara sedikit bergetar.
"Kalo gitu tolong buat aku yakin..kalo kamu memang gak pernah mengkhianati aku!" jawab Allea.
"Pasti sayang. Aku akan buktikan kalo aku memang gak berkhianat dibelakang kamu. Karena bagiku...memiliki kamu seorang sudah lebih dari cukup!" jawab Sandy sambil menatap Allea begitu serius.
__ADS_1