
(Masih flash back)
Eleanor mencari bukti perselingkuhan yang dilakukan oleh laki-laki yang menikahinya setahun lalu. Bahkan dia juga memasang CCTV dengan kamera kecil di kamar Leonard. Eleanor benar-benar ingin lepas dari suaminya itu, sehingga apapun dilakukan untuk mendapatkan bukti.
Sebulan lamanya Eleanor mengumpulkan bukti-bukti keburukan Leonard. Kini bukti itu sudah terkumpul, hanya tinggal menyerahkan pada keluarga Gladston, mertuanya.
"Ele!" teriak Leonard dalam keadaan mabuk.
Tidak biasanya laki-laki berprofesi sebagai dokter itu mabuk-mabukan. Walaupun selama ini dia sering gonta-ganti pasangan kumpul ke*bo, dia tidak pernah mabuk. Apalagi sejak mengenal Gita, alko hol dan r*k*k ditinggalkan begitu saja. Semua itu demi rasa cintanya pada sang gadis pujaan. Tapi sayang mereka tidak berjodoh.
"El! Ele!" Leonard terus berteriak hingga memekakkan telinga Eleanor.
Eleanor yang kebetulan akan tidur, akhirnya bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar.
"Leonard?" Ele terkejut karena aroma alk* hol menguar dari mulut Leonard.
"Apa yang kamu lakukan, Leonard? Kamu seorang dokter kenapa mabuk-mabukan seperti ini?" cerca Eleanor panik.
Leonard tidak mau mendengarkan ucapan Eleanor. Dia terus meringsek maju mendekati sang istri yang sudah tampak ketakutan.
Leonard mencengkeram erat dagu Eleanor. Emosi saat ini menguasai diri Leonard.
"Apa yang kamu lakukan di luar sana, hah? Kamu ingin mempermalukan aku dan keluargaku, iya?" teriak Leonard tepat di depan wajah Eleanor. Bau alkohol langsung menusuk indra penciuman Eleanor, membuat kepala Eleanor pusing.
Eleanor terus menggelengkan kepala menyangkal tuduhan suaminya.
"Kamu dibayar berapa oleh laki-laki itu?"
Eleanor tetap menggeleng sembari meneteskan air mata, menahan sakit di dagunya. Wanita cantik bertubuh mungil itu tidak tahu arah pembicaraan sang suami. Dia hanya tahu saat ini Leonard sedang murka.
"Oh, atau jangan-jangan kamu yang membayar laki-laki itu untuk memuaskanmu? Wajar saja jika perempuan murahan seperti kamu ini membayar laki-laki untuk memuaskan naf su mu!"
Leonard terus saja menyudutkan Eleanor. Dia selalu mencari cara untuk menyakiti istri sahnya itu. Wanita yang tidak dicintai dan sangat dibencinya.
__ADS_1
Air mata Eleanor mengalir deras ke pipinya. Namun, air mata itu tidak membuat seorang Leonard iba. Dia malah semakin menyiksa Eleanor dengan menguatkan cengkeraman tangannya pada dagu Eleanor.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau mengakuinya. Aku yang akan memuaskanmu malam ini!" ucap Leonard sebelum akhirnya dia mencum bu istri mungilnya itu.
Eleanor meronta-ronta berusaha melepaskan tangan Leonard. Kedua tangan Eleanor dipegang Leonard dengan satu tangan. Sedang tangan satunya dipakai Leonard untuk mencengkeram dagu Eleanor.
Badan Eleanor yang sangat kecil sangat tidak bisa mengimbangi tenaga Leonard. Postur tubuh Leonard yang tinggi besar bisa dengan mudah menguasai Eleanor.
Leonard melemparkan tubuh Eleanor ke ranjang, lalu mengungkungnya. Tangan kiri Leonard memegang kedua tangan, ditariknya kedua tangan Eleanor diletakkan di atas kepala. Sedangkan tangan kanan Leonard, digunakan untuk melucuti pakaian sang istri dan pakaiannya sendiri.
Leonard memperlakukan Eleanor dengan sangat kasar. Leonard memagut bibir Eleanor dengan beringas. Menye sap dan menggigit pelan agar Eleanor mau membuka mulutnya.
"Kamu tidak mau melayani suamimu sendiri, hah? Atau kamu sudah kecanduan batang berurat milik laki-laki di luar sana?" berondong Leonard tanpa mengehentikan kegiatannya.
Me re mas, me mi lin dan menggigit benda yang mirip dengan squish. Gerakan seduktif yang dilancarkan oleh Leonard mampu meloloskan de sah an manja dari mulut Eleanor.
Setelah dirasanya inti Eleanor basah dan siap dimasuki, Leonard pun membuka pa ha Eleanor lebar. Kemudian mengarahkan senjata andalannya itu ke rumah yang sebenarnya.
Berulang kali Leonard berusaha menerobos pintu masuk. Hingga dengan satu hentakan keras, mampu mendobrak pintu surga dunia.
Walaupun bagi Eleanor ini bukan yang pertama, akan tetapi setelah lima tahun lebih tidak melakukan itu membuat dirinya seperti virgin kembali. Sempit dan legit!
Leonard berhenti sejenak agar rumahnya terbiasa dengan penghuninya yang berukuran jumbo.
Leonard yang tidak pernah melakukan itu dengan pera wan, mengira jika istrinya masih virgin mengingat susahnya menerobos pintu masuk. Tanpa dia tahu jika dirinya bukanlah yang pertama bagi Eleanor.
Leonard menci um wajah Eleanor secara menyeluruh, kemudian melu mat bibir Eleanor dengan rakusnya. Tangannya pun tidak tinggal diam agar Eleanor kembali terang sang dan mengurangi rasa sakit pada inti tubuhnya.
Leonard bergerak perlahan kemudian menambah ritme gerakannya hingga mencapai puncaknya.
Dua jam berpacu, Leonard tidak juga kunjung sampai. Padahal Eleanor sudah lemas karena sudah berulang kali pelepasan. Semua itu dikarenakan, Leonard mengkonsumsi obat kuat sebelum pulang. Leonard sengaja melakukan itu untuk menghukum Eleanor.
Setelah mendapatkan pelepasan, Leonard langsung bangkit dan menyelimuti tubuh sang istri. Lalu dia memakai boxernya.
__ADS_1
Setelah membersihkan dirinya, Leonard langsung mencari salep. Lalu mengoleskannya pada inti Eleanor yang tampak bengkak dan memerah karena permainan kasarnya tadi.
Naas bagi Leonard, ketika sedang mengoleskan salep. Boxernya tiba-tiba sesak karena penghuninya menggeliat bangun dan berdiri tegak hanya karena melihat pintu rumahnya.
"S***!" teriak Leonard kesal, tidak mungkin dia kembali memperkosa wanita di hadapannya ini.
Pengaruh obat itu masih ada dalam tubuh Leonard. Sehingga dia pun memakai obat penenang, demi keamanan bersama.
*
*
*
Eleanor terbangun dengan tubuh terasa remuk redam. Inti tubuhnya terasa panas dan perih ketika dia bergerak. Awalnya Eleanor merasa heran dengan kondisi tubuhnya saat ini. Namun, tidak berselang lama, dia pun teringat dengan kejadian tadi malam.
Air mata Eleanor menetes, tidak hanya tubuhnya yang sakit. Hatinya lebih sakit lagi atas perlakuan Leonard padanya. Tekad Eleanor untuk meninggalkan Leonard pun semakin bulat.
"Kuat, Ele! Kamu pasti menjalani semua ini. Sebentar lagi semuanya selesai. Sabar..." gumam Eleanor memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Dengan perlahan Eleanor bergerak turun dari ranjangnya. Berjalan tertatih, Eleanor memasuki kamar mandi.
Eleanor terbangun saat Leonard sudah tidak ada di kamar. Pagi tadi Leonard pergi meninggalkan apartemennya menuju rumah sakit, karena ada pasiennya yang akan melakukan operasi sectio caesarea.
Selesai dengan ritual mandinya, Eleanor kemudian menyantap sarapan yang sudah terhidang di meja. Sarapan yang khusus dibuat oleh Leonard untuk istrinya, sebagai tanda rasa bersalah.
Eleanor kembali ke kamarnya setelah menyantap habis sandwich buatan sang suami. Dia mulai mengumpulkan semua bukti perselingkuhan dan sikap buruk Leonard selama ini.
Selain itu, dia juga mengemasi semua barang-barangnya yang dirasa penting. Tekadnya sudah bulat, hari ini dia akan meninggalkan Leonard.
Eleanor keluar dari apartemen hanya dengan beberapa barang miliknya. Sebelum meninggalkan kota ini, dia mendatangi tempat pengiriman barang. Dia mengirimkan semua bukti ke alamat keluarga Gladston.
Eleanor mengajukan gugatan cerai melalui pengacara yang disewanya. Setelah itu meninggalkan Melbourne.
__ADS_1
*Flash back off*