
"Sudah kamu temukan data laki-laki itu?" tanya Leonard pada asisten pribadinya.
"Sudah, Tuan. Semua data sudah saya kirim via email. Tuan bisa memeriksa secara langsung. Jika ada pertanyaan, saya siap menjelaskan," jawab George dengan jelas dan lugas. Benar-benar seorang asisten pribadi yang dapat diandalkan kerjanya
Leonard mengibaskan tangannya, menyuruh sang asisten meninggalkan ruangannya dengan bahasa isyarat. Tanpa menunggu lama, George pun segera beranjak dari ruangan itu.
Leonard pun mulai membuka email dan membacanya dengan teliti semua laporan yang masuk. Dahinya kadang mengkerut, datar tanpa ekspresi.
Selesai membaca semua laporan yang masuk, Leonard bangkit dari duduknya. Dia meninggalkan meja kerjanya begitu saja, dalam keadaan berantakan. Hatinya gundah, pikiran pun kalut, sehingga tidak bisa berpikir jernih untuk mencari solusi atas masalah yang datang bertubi-tubi. Silih berganti tiada berhenti.
"Honey... Honey! Where are you?" teriak Leonard sembari mencari keberadaan sang istri.
"Ada apa? Kenapa berteriak seperti tinggal di hutan?" sahut Eleanor, muncul dari arah dapur sambil membawa secangkir kopi hitam.
Mereka bertemu di ruang tengah, ruang yang biasanya mereka gunakan untuk bercengkrama dengan anak-anak.
"Ini mau ditaruh di mana?" tanya Eleanor begitu dekat dengan sang suami.
"Di sini saja! Sini, kita duduk di sini sambil ngobrol," jawab Leonard sembari menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Eleanor pun meletakkan cangkir kopi tersebut di atas meja, kemudian dia duduk di sebelah laki-laki yang telah memberinya dua anak itu.
"Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang penting dan harus dibicarakan," ucap Eleanor sembari mengusap lembut rahang sang suami.
"Jangan nakal, Honey! Kamu baru saja membangunkan macan tidur. Hentikan atau kamu aku terkam di sini!" ujar Leonard dengan suara berat penuh ha srat.
__ADS_1
"Aku tidak nakal! Baiklah kalau begitu aku duduk diam saja, seperti ini," jawab Eleanor dengan wajah cemberut dan. bibir mengerucut. Jangan lupakan tangannya yang terlipat rapi di dada, sehingga menunjukkan tonjolan kedua bukit kembarnya.
Leonard yang melihat itu langsung menelan salivanya berulang kali, membuat jakunnya bergerak naik turun. Bagaimana tidak membangkitkan ha*sratnya? Tadi dengan santainya Eleanor mengusap-usap rahang hingga ke leher. Setelah itu diberikan tontonan yang menggiurkan, sehingga konsentrasinya pun buyar seketika.
"Apa seperti ini tidak nakal, hmm?" tanya Leonard dengan tangan terulur, meraih mainan kesukaannya. Dua squishy yang sangat pas di tangannya yang besar.
Eleanor memukul tangan sang suami, yang mulai lancang memijit sumber penghidupan anak-anaknya.
"Pikiranmu selalu saja mesum! Tidak bisakah kamu serius jika berdua?" bentak Eleanor kesal.
Bayi tuanya itu selalu saja tidak mau kalah dengan anak-anak mereka. Selalu mencari kesempatan untuk memainkan dua squishy kembarnya.
"Mesum sama istri sendiri itu boleh, dan dianjurkan. Jadi tak masalah, bukan?" jawab Leonard dengan tenang, sembari menahan tawa karena sukses membuat istrinya tersulut emosi
"Jangan begitu dong! Ada yang mau aku tanyakan sebentar. Semoga kamu berkata jujur," ucap Leonard akhirnya menyerah, tidak ingin melihat sang istri marah.
"Sebenarnya mau ngomong apa? Kenapa sejak tadi muter-muter saja!" sahut Eleanor kesal.
"Duduk dulu sini, biar enak ngobrolnya. Setelah kamu duduk kita berbicara. Ok? Tapi, kamu harus jawab dengan jujur pertanyaanku nanti. Bisa?" ucap Leonard dengan lembut.
Eleanor pun duduk di tempat yang tadi dudukinya tadi.
"Sudah, aku sudah duduk. Sekarang kamu ceritakan apa yang mau kamu obrolkan!" sahut Eleanor dengan wajah ditekuk.
"Kamu mengenal Michael Thompson?" tanya Leonard hati-hati takut menyakiti perasaan sang istri.
__ADS_1
*
*
*
Hai semuanya aku punya karya baru lho, kepoin yuk. Klik saja profilku, kemudian cari judul "Tuhan, Ijinkan Aku Bahagia" genre teen.
Aku juga bawa rekomendasi karya temenku yang gak kalah keren lho.
Judul : MERUBAH NERAKA MENJADI SURGA
Napen : Azzura
Pernahkah kamu membayangkan, Hidupmu yang penuh kebahagiaan dalam sekejap mata berganti dengan duka dan nestapa? Bahkan nyaris serasa seperti di neraka!
Sadisnya, penderitaan yang begitu perihnya itu dihadirkan oleh sosok terdekat dalam hati dan hidupmu.
MIRIS. Demikianlah jalan hidup seorang Dara Herlambang yang yatim piatu.
Lantas, bagaimanakah Dara melalui hari-harinya yang sarat dengan air mata dalam kondisi lumpuh dan diasingkan? Bahkan dipoligami oleh suami yang begitu dicintai.
Akankah, ia yang penuh dengan ketidakberdayaan mampu Merubah Neraka Menjadi Surga?
__ADS_1