
Baby Abraham dirawat di rumah sakit selama tiga hari tiga malam. Selama itu juga Leonard dan Eleanor tidak meninggalkan rumah sakit. Baju mereka diantar oleh Merry sang asisten rumah tangga.
Perusahaan milik Winston akhirnya mendapatkan beberapa investor walaupun tanpa Eleanor. Leonard benar-benar memenuhi janjinya untuk membantu Eleanor. Tidak hanya membantu merawat anak mereka, tetapi dia juga membantu perusahaan milik mantan mertuanya.
"Le, terima kasih ya," ucap Eleanor.
Malam ini, mereka sedang berada di kamar baby Abraham. Eleanor sedang menyusui baby Abraham, memakai penutup dada agar kejadian di rumah sakit tidak terulang lagi.
Leonard yang waktu itu tidak bisa menahan diri melihat anaknya yang menyusu, langsung menyerang bibir Eleanor hingga bengkak. Anehnya kedua insan itu tampak menikmati pertukaran saliva mereka.
Leonard dan Eleanor sama-sama tidak pernah lagi melakukan itu, sejak Leonard memper ko sa Eleanor satu setengah tahun yang lalu. Sehingga wajar saja hasrat mereka udah terbakar.
Begitu juga dengan malam ini, walaupun d@d4nya ditutupi akan tetapi Eleanor tidak sadar jika kimono yang dipakainya tersingkap hingga memamerkan p@h4 putih nan mulus. Melihat kulit putih yang terpampang di depan mata, membuat junior Leonard langsung terbangun tegak berdiri tanpa aba-aba. Sehingga celana yang dipakai Leonard terasa sesak karena desakan si junior.
Tak lama kemudian, baby Abraham tertidur pulas. Eleanor pun meletakkan baby Abraham ke dalam box bayinya. Usai menidurkan anaknya, Eleanor berbalik.
__ADS_1
Bruugh...
Leonard sudah berdiri menjulang di belakang Eleanor, sehingga Eleanor tidak sengaja menabraknya. Eleanor benar-benar tidak tahu jika Leonard berdiri tepat di belakangnya.
"Aaahhhh..." jerit Eleanor tertahan karena mulutnya langsung dibungkam dengan tangan oleh Leonard.
"Jangan berisik! Nanti Abraham terbangun," bisik Leonard di telinga Eleanor.
Leonard menyingkirkan tangannya setelah Eleanor mengangguk. Setelah itu tatapan mata mereka saling bertemu dan terkunci.
Entah siapa yang awalnya memulai, kini bibir mereka telah bertaut dan saling bertukar saliva. Saling mencecap manisnya bibir dan mengabsen rongga mulut pasangan.
Apa yang diinginkan keduanya pun terjadi. Malam panjang penuh g4ir4h. Hingga akhirnya lenguhan panjang mengakhiri pergulatan panas itu.
Keduanya pun sama-sama salah tingkah tidak tahu harus berkata apa. Keduanya saling menikmati penyatuan yang penuh dengan peluh. Tak perlu saling menyalahkan atau merasa bersalah, karena keduanya sama-sama menikmati. Setelah sekian lama tidak melakukan, begitu menyatu membuat ingin lagi dan lagi.
__ADS_1
Baby Abraham pun seakan tahu jika kedua orang tuanya sedang melepas rindu. Bayi berusia enam bulan itu tidak terbangun sama sekali sampai pagi. Sehingga kedua orang tuanya pun tidak terganggu aktivitasnya.
*
Pagi harinya, Leonard terbangun terlebih dahulu karena merasa kebas pada lengannya. Lengan kekar Leonard menjadi bantal untuk Eleanor usai pergulatan panas mereka. Tidak hanya itu, tubuh polos keduanya juga menempel. Tangan keduanya saling membelit untuk memberikan kehangatan.
Leonard memindahkan kepala Eleanor perlahan, agar sang mantan istri tidak terbangun. Leonard duduk dan menatap Eleanor sejenak. Lalu senyum tipisnya tersungging di bibir.
"Cantik! Walaupun sudah pernah melahirkan, tetapi tetap memiliki tubuh ideal. Wajahmu tidak menunjukkan penuaan sama sekali padahal usiamu telah bertambah," gumam Leonard lirih sembari mengusap pipi Eleanor pelan.
"Semoga kita bisa bekerja sama merawat dan mengasuh Abraham hingga besar nanti," lanjut Leonard yang ternyata terdengar oleh telinga Eleanor.
Eleanor terbangun saat tangan Leonard mengusap lembut pipinya. Namun, dia tidak mau membuka matanya.
Leonard berdiri kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Begitu Leonard sudah mengunci pintu kamar mandi, Eleanor langsung terbangun. Dia duduk seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
"Kenapa bisa terjadi? Bodoh! Bodoh!" ucap Eleanor sambil memukul pelan kepalanya.
"Kenapa aku sebodoh ini? Pasti dia mengira aku wanita murahan yang gampang diajak ke ranjangnya! Aduuhhh... mau ditaruh di mana wajahku." Eleanor merutuki kebodohannya tadi malam yang dengan mudahnya melakukan itu dengan sang mantan suami.