
"Sudah waktunya makan siang, ayo kita makan dulu! Nanti dilanjutkan obrolannya," ajak nyonya Winston, Theresa Cloe.
Eleanor pun mengikuti jejak langkah sang ibu, sedangkan baby Abraham bersama pengasuhnya, Hanna.
"Mommy sudah menyuruh mereka untuk menyiapkan makanan kesukaanmu. Makan yang banyak, biar ASI-mu mencukupi kebutuhan cucu kami. Bukan begitu, Hubby?" ucap nyonya Theresa ketika sudah sampai di ruang makan.
(Mereka \= para asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Winston)
"Banyak sekali, Mom. Mana sanggup aku menghabiskan semua ini. Ele makan ini saja, Mom," sahut Eleanor sembari menunduk sup jagung kesukaannya.
Setelah mengambil semangkuk sup jagung, Eleanor mulai memakannya.
"Hmm, ini enak banget! Very delicious," ucap Eleanor dengan mulut penuh.
Orang tua Eleanor hanya memandang sambil tersenyum melihat sang anak yang lahap menyantap makan siangnya. Kedua orang tua itu saling menatap penuh arti.
"Apa betul kamu rujuk kembali dengan Leonard, El?" tanya tuan Robert setelah Eleanor meyelesaikan makannya.
"Iya, Dad. Kalau tidak rujuk, mungkin saat ini kita masih mencari investor yang mau menanamkan modalnya di WGC, Dad. Selain itu, Abraham sangat membutuhkan perhatian kami berdua. Tidak mungkin kami tinggal bersama dalam satu rumah tanpa ikatan."
__ADS_1
"Ele, minta maaf, jika keputusan Ele mengecewakan Mommy dan Daddy. Ele lakukan ini semua demi WGC dan baby Abraham, Dad. Ele mohon restu Mommy dan Daddy," ucap Eleanor tertunduk.
"Apa kamu sudah melupakan apa yang telah dia lakukan dulu? Ingat El, dia selalu membuatmu menangis dan akhirnya menyerah. Padahal usia pernikahan kalian saat itu baru setahun lebih. Kalau dia tidak menyakitimu terus menerus, mungkin kalian tidak akan berpisah."
"Seharusnya masa lalu yang buruk bisa membuatmu belajar untuk mengambil tindakan. Biarkan saja jika memang WGC harus tutup. Itu lebih baik dari pada kami kehilangan senyum di wajahmu. Jangan terlalu banyak berkorban untuk kami!"
"Kami memang bukan orang tua yang baik. Kami belum bisa membahagiakan kamu. Oleh karena itu, kami tidak rela jika ada orang lain yang menyakitimu." Tuan Robert berbicara panjang dan lebar dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh dia tidak menginginkan anaknya berkorban untuknya. Orang tua manapun pasti sangat ingin melihat anaknya bahagia walaupun harus kehilangan harta sekali pun.
"Leonard sudah berubah, Dad. Dia bukan dirinya yang dulu. Rumah tangga kami saat ini sangat bahagia. Daddy dan Mommy tidak usah khawatir. Ele sudah bahagia," ujar Eleanor sembari tersenyum, tampak binar bahagia di wajahnya.
"Mom, Dad, Ele mau ke kamar dulu. Mengantuk sekali," pamit Eleanor pada kedua orang tuanya.
Sementara ibunya makan siang bersama kakek dan neneknya, baby Abraham asik bermain dengan pengasuhnya di kamar Eleanor. Bayi itu kadang tertawa kadang juga bibirnya mencebik hendak menangis. Sungguh di luar kebiasaan.
Baby Abraham seperti orang gelisah, semua serba salah menurutnya. Bayi gembul itu sering mencebikkan bibirnya hendak menangis.
"Hai, kamu kenapa, hmm? Ayo kita main lagi!" ujar sang pengasuh, Hanna.
__ADS_1
Hanna mengajak bicara dan bermain-main agar bayi yang diasuhnya urung menangis. Akan tetapi semakin lama, tangis bayi itu pecah juga.
Eleanor yang masuk ke dalam kamar pun dibuat terkejut mendengar suara tangisan sang anak.
"Kenapa baby Abraham menangis, Hanna?" tanya Eleanor disela kantuknya.
"Saya tidak tahu, Nona. Sejak tadi moodnya tidak baik. Selalu merengek padahal sudah digendong dan diajak bermain. Sepertinya dia merasakan sesuatu yang tidak kita tahu itu apa," jawab Hanna dengan lancar.
Hanna merasa curiga, pasti telah terjadi sesuatu pada majikannya. Namun dia tidak mau bercerita pada sang majikan.
"Oh, ya sudah! Biar aku susui sambil tiduran, mungkin dia mengantuk. Jika kamu lapar turun saja, langsung ke dapur. Di sana ada asisten rumah tangga yang akan mengambilkan makan siangmu," ucap Eleanor setelah mengambil baby Abraham dari gendongan sang pengasuh.
Tak lama kemudian, Eleanor dan baby Abraham sudah tertidur pulas. Hanna lalu keluar dari kamar tersebut, berjalan menuju ruang makan.
"Siang, Nona! Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang kepala pelayan di rumah itu.
"Saya lapar, Tuan. Boleh minta makan? Sedikit saja." Hanna mengesampingkan rasa malunya, dia benar-benar lapar.
"Tunggu sebentar, Nona! Silakan duduk di sebelah sana, Nona."
__ADS_1
Hanna akhirnya berjalan menuju meja makan yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri.