
"Theresa, kamu jangan menyalahkan Eleanor. Dia tidak bersalah atas kematian Robert. Ini memang sudah suratan takdir hidup Robert. Meninggal dalam keadaan buron. Seandainya saja dia tidak menyimpan rasa benci yang berlebihan, dia akan tetap berada bersama kita."
"Semua ini sudah menjadi jalan hidup kita, dia pergi meninggalkan kita dalam keadaan terbakar amarah dan kebencian. Sebagai seorang istri seharusnya kamu menasehati, meredam rasa benci agar tidak berlebih. Namun, semua itu sudah terlambat. Tuhan sudah mengambilnya dari kita. Kita hanya bisa mendoakan kebaikan dia dan kita yang ditinggalkannya."
Wanita yang memberi nasehat itu adalah adik kandung Robert. Dia mengenal betul seperti apa kakaknya itu. Seorang pria yang mudah tersulut emosi jika ada yang memercikkan api.
Theresa terdiam mendengar ucapan adik iparnya.
"Jadilah air di saat pasanganmu menjadi api. Jangan kamu buat api yang membara membakar habis perasaan dan akal sehatmu! Terima apa yang menjadi keputusan anak-anak, karena yang menurut kita baik belum tentu baik menurut mereka. Mereka yang mengenal pasangan mereka, bukan kita. Kita hanya memandang bukan merasakan, karena kita adalah penonton bukan pelakon. Jadilah penonton yang bijak, menilai dari semua sisi, agar nantinya tidak merugi."
Adik Robert menepuk pundak Theresa pelan.
"Aku pulang, nanti kapan-kapan aku ke sini lagi. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi aku," pamit satu-satunya adik perempuan Robert. Dia memeluk Theresa kemudian mencium pipi secara bergantian kanan dan kiri.
Theresa tetap diam membisu, dia terus memikirkan ucapan-ucapan yang mengalir dari bibir sang adik ipar.
"Apa sikapku salah selama ini? Apa aku tidak boleh sakit hati melihat anakku disakiti? Rasanya aku tidak percaya jika laki-laki itu benar-benar berubah!"
Batin Theresa berkecamuk memikirkan permasalahan yang ada. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Yang pasti hatinya masih sakit mengingat anaknya yang disakiti secara psikis. Belum juga sembuh sakit itu, kini dia harus kehilangan orang yang sangat dicintainya.
*
*
__ADS_1
"Aku tidak mau dengar lagi kamu gagal menjalankan tugasmu! Seharusnya WGC tidak lagi bekerja sama dengan perusahaan mana pun. Kenapa kamu tidak menggagalkan kerjasama itu? Percuma kamu sekretarisnya tapi tidak bisa berbuat apa-apa!" bentak Mike murka.
Ini kali kedua Anna Grace gagal menyabotase kerjasama antara WGC dengan beberapa perusahaan investor. Anna Grace tidak tahu jika sekarang dia hanya dijadikan pajangan oleh Leonard. Semua urusan kerja sama dengan investor maupun perusahaan lain dihandle oleh Goerge.
"Sorry! Lain kali aku akan lebih teliti lagi. Selama ini tidak ada berkas atau telepon dari perusahaan luar yang ingin mengajak kerjasama. Kenapa tiba-tiba Leonard sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan?"
Anna Grace merasa heran, kenapa dia bisa kecolongan. Memang akhir-akhir ini pekerjaannya tidak sebanyak sebelumnya.
"Aku tidak mau tahu. Jangan sampai dia melebarkan usahanya sampai ke beberapa negara! Jika WGC semakin kuat, maka sulit kita menghancurkannya. Bekerjalah lebih keras lagi!" ucap Mike.
"Sudah lama kita tidak bersenang-senang. Tugasmu sekarang membuatku puas!"
Tangan Mike sudah bergerak menyusuri tubuh Anna Grace. Kemudian memagut bibir wanitanya, m3lum4tnya kasar.
Laki-laki itu melampiaskan amarahnya pada tubuh Anna Grace. Permainan kasarnya membuat Anna beberapa kali mele nguh dan men de sah.
*
*
Setiap waktu senggang, Leonard selalu mengajak istri dan anak-anaknya mengunjungi para orang tua, baik orang tua sendiri maupun mertuanya.
"Siap berangkat?" tanya Leonard pada istrinya dan diangguki oleh Eleanor.
__ADS_1
Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil mewah milik Leonard, dengan Leonard sendiri sebagai sopir.
"Aku takut Mommy tidak mau menerima kedatangan kita, Le. Aku tidak ingin membuat Mommy marah, karena itu akan membuatnya sakit. Apa sebaiknya kita batalkan saja? Kita ke rumah orang tuamu," ucap Eleanor penuh kekhawatiran.
"Tidak! Kita tetap pergi ke rumah ibumu, dia pasti sangat kesepian saat ini. Yakinlah bahwa dia akan merestui hubungan kita!"
*
*
*
Siang semua, rekomendasi kali ini berjudul: CINTA DIBAYAR TUNAI
Napen : Dtyas
Blurb:
Mihika Yodha yang menyamar sebagai karyawan baru pada salah satu perusahaan milik Ayahnya. Berada pada situasi dimana Mihika harus menikah dengan Arka, direktur perusahaan Ayahnya. Berusaha mengungkap segala permasalahan perusahaan juga sebagai asisten dan istri dari Direktur perusahaan milik ayahnya tidak membuat Mihika putus asa.
“Jangan harap aku akan berlaku seperti seorang suami pada umumnya, karena kamu bukan wanita idamanku,” ujar Arka setelah melangsungkan akad nikah dengan Mihika. Arka tidak mengetahui identitas asli Mihika termasuk wajah asli istrinya.
Arka benar-benar serius dengan ucapannya. Tidak menghargai Mihika sebagai istrinya, bahkan tetap berhubungan dengan wanita lain. Mihika mengira jika Arka adalah dalang dibalik masalah perusahaan. “Arka, kamu akan menyesal telah berbuat jahat termasuk menghina hubungan ini. Saat kamu menyesal semua sudah terlambat,” ucap Mihika lirih.
__ADS_1
Lalu bagaimana kisah Mihika dengan Arka setelah terungkapnya pelaku kejahatan di perusahaan? Apakah Arka akan jatuh cinta pada Mihika sesuai dengan janji saat mengucapkan ikrar akad nikah? Karma atau cinta dibayar tunai.