Love After Parting

Love After Parting
CSP 7


__ADS_3

Eleanor bimbang antara menunda kepergiannya atau menunda tanda tangan yang akan berimbas pada perusahaan ayahnya.


"Apa tidak bisa besok saja?" tanya Eleanor dengan wajah cemas.


"Investor masih menunggu di ruang Tuan Winston, Nona. Apa tidak sebaiknya Nona tanda tangan sebentar sebelum pergi?" saran sekretaris Anna.


Eleanor bingung harus bagaimana, di satu sisi anaknya sedang sakit dan satu sisi lain perusahaan ayahnya. Ibarat makan buah simalakama, serba salah.


"Anna, apa tidak bisa jika yang menandatangani berkas Daddy saja?" tawar Eleanor.


"Maaf, Nona. Sebaiknya tanya saja langsung dengan Tuan Winston. Beliau masih menunggu Nona di ruangannya," ucap Anna.


Akhirnya Eleanor menyerah, dia menemui ayahnya dan para investor yang masih menunggu dirinya.


"Dad, Abraham sakit. Aku harus segera ke rumah sakit sekarang juga. Tak bisakah Daddy saja yang menandatangani perjanjian kerja dengan mereka?" ucap Eleanor begitu masuk ke ruangan sang ayah, tanpa memedulikan keberadaan para investor di ruangan itu.


"Tidak bisa, Ele! Mereka ingin membahas lebih lanjut tentang produk yang kamu presentasikan tadi. Daddy tidak terlalu paham soal itu. Kamu tunda dulu kepergianmu ke rumah sakit. Masa depan perusahaan ini ada di tanganmu. Daddy mohon bantu Daddy, Girl!" jelas Tuan Robert Winston.


"Tapi, Dad... Abraham saat ini lebih membutuhkan aku," sahut Eleanor sembari menunduk sedih. Matanya pun berkaca-kaca.


"Perusahaan ini nantinya akan menjadi milikmu, jadi tolong kamu jelaskan dulu pada mereka. Agar kerja sama kita berhasil." Tuan Winston membujuk anaknya agar mendahulukan utusan perusahaan.

__ADS_1


Eleanor benar-benar bingung harus bagaimana. Tak terasa air matanya pun menetes dengan derasnya. Hal itu membuat para investor yang melihat interaksi antara anak dan ayah itupun menjadi iba.


"Kalau tidak bisa hari ini tidak apa, kita lanjutkan besok saja. Bagaimana?" ucap salah seorang investor memberikan saran dan diangguki oleh dua investor lainnya.


"Terima kasih atas pengertian Tuan sekalian," ucap Eleanor sembari mengusap air matanya dengan kasar.


Eleanor kemudian menyalami para investor itu sebelum meninggalkan ruangan sang ayah.


"Daddy, Ele pergi!" ujar Eleanor sambil berlalu begitu saja tanpa menoleh ke belakang lagi.


*


*


Leonard sangat kesal sekali, saat baby Abraham membutuhkan Eleanor malah lebih memilih perusahaan. Sejak awal Leonard sudah mengatakan bahwa dia yang akan merawat baby Abraham, jika Eleanor memilih bekerja. Akan tetapi Eleanor berjanji akan memprioritaskan sang anak. Ternyata saat anak sakit, Eleanor masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Maaf, perusahaan saat ini juga sangat membutuhkan aku. Para investor tidak ada yang mempercayai perusahaan kami semenjak adanya pengurangan kualitas barang oleh koruptor. Saat ini perusahaan sedang membutuhkan perhatian dan penanganan agar kembali seperti semula..."


"Abraham masih ada kamu, apa salahnya jika di saat keluargaku dan perusahaan membutuhkan aku, aku ada untuk itu?" ucap Eleanor sembari meneteskan air mata.


"Kamu tahu, Le? Saat ini aku bagaikan makan buah simalakama. Semuanya salah!"

__ADS_1


Akhirnya pecah juga tangis yang Eleanor tahan sejak tadi. Leonard tidak tahu apa yang terjadi dengan perusahaan WGC, sehingga dia selalu menuntut perhatian Eleanor untuk anak mereka.


"Maaf, aku tidak tahu jika WGC diambang kehancuran. Maaf..." ujar Leonard seraya menarik tubuh Eleanor ke dalam pelukannya.


"Kalau kamu cerita sejak awal apa yang terjadi dengan perusahaan, sudah tentu aku akan membantumu. Meringankan tugasmu agar bisa memiliki banyak waktu bersama baby Abraham," lanjut Leonard masih mendekap tubuh mantan istrinya. Bahkan tangannya pun tidak tinggal diam. Menguap punggung serta lengan Eleanor tanpa henti.


Eleanor semakin mempererat pelukannya, tempat ternyaman yang tidak pernah dia dapatkan selama menjadi istri Leonard. Eleanor benar-benar merasa nyaman dalam pelukan mantan suaminya. Sekarang hatinya lebih tenang dan perlahan tangisnya pun reda.


Leonard melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah Eleanor dengan kedua tangannya. Telunjuk Leonard menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipi Eleanor. Wanita mungil yang telah memberinya keturunan.


"Jangan menangis lagi! Aku akan mencoba membantu perusahaan kamu. Semoga belum terlambat," ucap Leonard lembut dengan senyum yang selama ini tidak pernah ditunjukkan pada siapapun, kecuali anak dan orang tuanya. Serta pada masa lalunya, Gita.


Leonard pun menghubungi asistennya yang selama ini mengurus perusahaan makanan sehat milik Gladston. Perusahaan yang Glory Healthy Food didirikan oleh ayah Leonard. Sedangkan rumah sakit Gladston adalah peninggalan dari kakek Leonard.


"George, tolong urus WGC! Buat investor menyetujui kerja sama dengan WGC tanpa banyak pertanyaan. Sekalian kamu atur kerjasama dengan WGC juga!" perintah Leonard tanpa jeda sama sekali, hal itu sudah biasa bagi George.


"Terima kasih," ucap Eleanor begitu Leonard memasukkan gawainya ke dalam saku celana.


Leonard hanya menepuk bahu Eleanor pelan. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi, ternyata baby Abraham terbangun.


"Anak Mommy, maafkan Mommy, Son!" kata Eleanor seraya mengangkat anaknya dari box bayi.

__ADS_1


Tangan kiri baby Abraham tertancap jarum infus. Oleh karena itu dia semakin rewel karena merasakan sakit juga pada tangannya.


Eleanor langsung membuka kancing kemejanya karena baby Abraham masih menangis walaupun sudah digendong. Eleanor tidak menyadari jika mantan suaminya sejak tadi memperhatikan dia. Baby Abraham menyusu dengan lahapnya, sedangkan sang ayah harus menelan salivanya dengan susah payah hingga jakunnya naik turun.


__ADS_2