Love After Parting

Love After Parting
LAP 52


__ADS_3

"Maafkan aku Leo! Aku pun sangat tersiksa dengan keadaan ini. Bersabarlah, tidak butuh waktu dua puluh empat jam semua akan berakhir. Hanya ada derai tawa bahagia di keluarga kita nanti."


"Untunglah George, Merry dan Hanna bisa dipercaya. Semoga rencana ini berhasil. Harus berhasil atau usahaku akan sia-sia."


Di dalam kamar, Eleanor belajar berjalan sambil menggumam menyemangati dirinya sendiri. Dia sengaja mengurung diri agar tidak ada yang tahu jika dia belajar berjalan. Keinginannya untuk bisa berjalan seperti dulu begitu besar. Sehingga dia berusaha keras sendiri tanpa mau bantuan siapapun.


Leonard tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh istrinya itu. George selalu menyarankan dirinya untuk bersabar menghadapi Eleanor.


"Apa Tuan tidak merasa sesuatu? Jika Nyonya Muda sangat marah pada Tuan, dia tidak akan membiarkan Tuan tidur di pangkuannya. Apalagi mengusap rambut Tuan dengan penuh kasih sayang. Yaa, walaupun itu dilakukan di hadapan orang tuanya."


"Apa Tuan tidak sadar bagaimana kecewanya Nyonya Muda, saat Tuan meminta bantuan Tuan dan Nyonya Gladston untuk membujuk Nyonya Muda? Seharusnya Tuan bisa menyimpulkan sendiri, bagaimana Nyonya Muda yang sebenarnya. Maaf jika saya lancang. Saya hanya menyampaikan hasil pengamatan saya saja," ucap George panjang lebar dengan wajah menunduk. Dia tidak ingin kena amukan dari majikannya itu.


Leonard pun terdiam memikirkan ucapan asisten pribadinya tersebut. Eleanor memang lebih sering diam akhir-akhir ini. Dia pikir Eleanor diam karena masih marah dan tidak terima diancam sewaktu koma. Anehnya, Eleanor selalu bersikap baik jika ada tamu ataupun orang tua mereka.


"Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan, Ele? Kenapa kamu membuatku pusing dengan kelakuanmu? Yaa... aku harus bersabar seperti yang dikatakan George!" batin Leonard.


*


*

__ADS_1


Hari ini jadwal Leonard di perusahaan dan di rumah sakit sangat padat, sehingga dia tidak sempat untuk menikmati makan siangnya. Dia masih ingat dengan ancaman sang istri untuk pulang jam tujuh malam, tidak boleh lewat dari jam itu. Sehingga dia harus segera menyelesaikan semua pekerjaan sebelum jam enam.


"Hadeehh, sudah jam lima. Tetapi pekerjaan masih menumpuk banyak. George pun kenapa harus mengambil cuti hari ini. Padahal dia tahu pekerjaan hari ini sangat banyak!" gerutu Leonard setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Yohana! Ke sini sebentar!" teriak Leonard kemudian, wajahnya tampak frustasi karena pekerjaan dan ancaman sang istri.


Sekretaris Leonard pun segera datang setelah dipanggil.


"Kamu bereskan semua berkas ini, cari yang perlu diprioritaskan. Kerjakan secepatnya! Aku harus pulang juga," perintah Leonard sembari memakai jas kesayangannya.


Leonard meninggalkan ruangan itu begitu saja. Dia sudah paham bagaimana sekretaris barunya itu. Sehingga dia mempercayakan pekerjaan pada sang sekretaris.


"Oh, ya! Aku tidak menerima alasan apapun! Dengar kamu, Le?"


Sepanjang perjalanan dari ruangannya sampai pelataran parkir, kata-kata Eleanor selalu terngiang di indra pendengaran Leonard. Leonard sangat takut jika sang istri nekat membawakan pergi kedua anaknya. Leonard benar-benar takut kehilangan mereka.


Dalam perjalanan, Leonard singgah ke toko bunga. Dia membeli sebuah buket bunga untuk sang istri. Dia sangat yakin, jika dia sampai di rumah sesuai permintaan sang istri, maka istrinya sudah memaafkan.


Lalu lintas malam ini lumayan sepi, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di kediaman mereka. Leonard langsung memarkirkan mobilnya di garasi dan bergegas masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Rumah besar itu tampak sepi dan gelap seperti tak berpenghuni. Di depan pintu gerbang hanya ada satu orang satpam yang berjaga, biasanya dua orang. Leonard pun masuk sambil memanggil istri dan anak-anaknya.


"Ele! Abram! Alexi!" teriak Leonard sambil terus melangkahkan kakinya menuju kamar.


Semua kamar yang ada di lantai dasar telah dilihatnya, tidak ada satupun orang di kamar itu.


Leonard merasa heran saat melihat pintu yang mengarah ke taman belakang tertutup. Dia pun mendekat dan membukanya.


"Happy birthday!"


*


*


*


Satu bab lagi tamat ya! Jangan lupa mampir ke karya recehku yang lain 🤗🤗


Terima kasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2