
Eleanor tertidur setelah meminum obat yang diresepkan oleh dokter. Nyonya Theresa dan Hanna masih berada di ruangan itu. Sedangkan tuan Robert sudah menempati rumah saudara sepupunya, yang letaknya tidak jauh dari klinik.
Baby Abraham tinggal di klinik karena dia tidak mau pisah dengan ibu dan pengasuhnya. Bayi itu merengek terus karena tidak bisa menyusu pada ibunya.
Nyonya Theresa memutuskan memberi susu formula saja pada cucunya itu. Bukan karena tidak sayang, akan tetapi semua itu demi kesehatan Eleanor, sang anak. Nyonya Theresa tidak ingin istirahat Eleanor terganggu, oleh karena itu baby Abraham diberi susu formula.
Hari sudah hampir pagi, ketika tiba-tiba baby Abraham terbangun dan ingin menikmati sumber penghidupannya secara langsung. Dikarenakan Eleanor masih lemas, Hanna langsung menggendong baby Abraham dan memberinya susu formula.
Eleanor terbangun karena baby Abraham yang tidak biasa mengkonsumsi susu formula, menjadi rewel karena susu ibu diganti dengan susu sapi.
"Dia kenapa, Hanna? Tangisnya kuat sekali, berikan apa yang dia mau saja. Ini masih gelap, tidak enak jika ada pasien lain yang terganggu," ucap Eleanor lirih karena masih lemas.
"Tuan muda tidak mau minum susu formula, Nona. Dia sudah terbiasa mengkonsumsi ASI, mungkin merasa aneh dengan rasa susunya. Maklum masih tahap perkenalan dengan susu formula, jadi rewel," jawab sang pengasuh dengan rinci.
"Bawa ke sini, biar aku beri ASI saja! Kasihan jika dibiarkan rewel terus. Selain mengganggu pasien lain, nanti dia dehidrasi karena tidak minum," pinta Eleanor seraya mengulurkan tangannya untuk mengambil baby Abraham.
"Tapi, Nona..."
__ADS_1
"Tidak apa, aku sambil rebahan kok. Kamu tidak usah khawatir!" sahut Eleanor cepat.
Akhirnya Hanna pun menyerahkan baby Abraham pada ibunya. Bayi itu langsung terdiam begitu mulutnya bertemu dengan sumber penghidupannya.
"Pelan-pelan, Boy! Tak ada yang meminta," ucap Eleanor lembut sembari mengusap kepala anaknya dengan sayang.
Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dua orang sedang berjalan terburu-buru. Tak lama kemudian, langkah kaki itu berhenti di depan kamar yang ditempati oleh Eleanor. Kemudian terdengar kembali suara orang berjalan di tempat dengan gelisah.
Pintu kamar Eleanor pun ada yang mengetuk. Untungnya baby Abraham sudah mulai kembali berlayar ke pulau mimpi. Sehingga suara ketukan pintu itu tidak menganggu baby Abraham.
Hanna berjalan pelan menuju pintu setelah mendapat anggukan dari sang majikan. Saat Hanna berjalan mendekati pintu, mata Eleanor kembali terpejam karena masih mengantuk. Sedangkan nyonya Theresa tidak terbangun sama sekali oleh suara tangisan baby Abraham maupun suara ketukan pintu.
"Tu-tuan?" ucap Hanna lirih karena terkejut.
"Iya, ini aku! Apakah boleh aku masuk?" ucap Leonard meminta ijin.
Hanna pun bergeser untuk memberi jalan pada tuannya untuk masuk. Kursi roda yang diduduki oleh CEO tampan itu berjalan melewati Hanna begitu saja.
__ADS_1
Dua orang bodyguard berjaga-jaga di pintu, sedangkan bodyguard yang sudah lama mengabdi mendorong kursi roda hingga di dekat ranjang.
"Kamu di luar saja, ajak pengasuh itu bersama kalian!" ucap Leonard tanpa melihat terlebih dahulu siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.
Nyonya Theresa masih terlelap di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Leonard tidak melihatnya karena tertutup oleh dinding sofa.
"Maaf, Tuan. Nyonya Theresa masih tidur di sofa," ucap Hanna cepat saat akan diseret keluar oleh bodyguard kepercayaan Leonard.
*
*
*
Othor bawa rekomendasi karya teman-teman nih, mampir yuk
__ADS_1