
"Tidak biasanya kamu menungguku pulang. Ada apa, hmm?" tanya Leonard setelah keduanya selesai bertempur.
Peluh membasahi kedua insan yang baru saja melakukan pelepasan, karena penyatuan yang telah lama tidak dilakukan. Ini adalah kali pertama mereka melakukan hubungan suami istri setelah Eleanor melahirkan.
Eleanor diam karena diliputi rasa bimbang, antara menjawab dengan jujur atau berbohong. Dia takut jika nanti bertanya akan mendapat jawaban yang menyesakkan dada. Jika tidak bertanya, bisa-bisa dia mati penasaran.
"Apakah kamu sudah bisa menerimaku sebagai istrimu?" tanya Eleanor ragu.
"Y-yang kamu cintai, tentunya..." lanjut Eleanor gugup.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu, hmm? Apakah tingkah laku dan perbuatanku selama ini tidak bisa menjawab kegundahan hatimu?" Leonard menjawab pertanyaan sang istri dengan pertanyaan.
"Apa yang membuatmu ragu-ragu? Apa yang menjadi ganjalan di hatimu, keluarkanlah. Aku siap mendengar dan menjawab dengan sepenuh hati," ucap Leonard dengan lembut sembari mengusap lembut kepala Eleanor.
Eleanor melepaskan belitan tangan sang suami dari tubuhnya. Di bergeser mendekati nakas dengan mencengkeram selimut, untuk menutupi tubuh polosnya.
Mereka berdua tidak pernah melakukan bukan karena sudah bosan dengan pasangan. Namun, dikarenakan kesibukan mereka masing-masing. Setelah satu bulan Alexi lahir, Leonard sibuk mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh mertuanya begitu saja. Sedangkan Eleanor sibuk mengurus kedua anaknya yang masih balita.
Keadaan badan yang lelah membuat keduanya sama-sama memilih beristirahat dari pada berbagi peluh. Terlebih lagi, Eleanor selalu tertidur ketika Leonard tiba di rumah. Rasa sayang dan tidak tega melihat gurat kelelahan di wajah sang istri, membuat Leonard memilih ikut berlayar ke lautan mimpi sambil memeluk istrinya.
Sehingga dengan Eleanor menunggu kedatangan Leonard. Leonard sudah paham ada masalah yang harus segera diselesaikan.
__ADS_1
Eleanor kembali merapat pada suaminya, kemudian menyerahkan gawainya. Layar gawai itu menampilkan gambar yang di galeri. Saat Leonard mengambil, galeri memperlihatkan gambar dirinya dan sang sekretaris. Keduanya sedang menikmati makan malam romantis, selain itu keduanya tampak mesra.
"Bisa kamu jelaskan ini?" ucap Eleanor lirih menahan tangis, air matanya siap tumpah kapan saja.
Leonard mencermati gambar itu dengan seksama. Foto itu diambil diam-diam dengan angel yang tepat. Leonard mulai mengenali tempat itu, lalu teringat apa yang menyebabkan mereka terlihat mesra.
Leonard pun menjelaskan dimana mereka saat itu. Menjelaskan apa saja yang dilakukan selama ini. Bahkan kegiatannya mulai memimpin perusahaan hingga saat ini dia ceritakan.
Tanpa terasa waktu terus bergulir, mereka tidak tidur semalaman. Semua itu dikarenakan Leonard menjelaskan bagaimana kesibukannya selama ini. Eleanor dipaksa untuk mendengarkan penjelasan sang suami.
"Kalau kamu tidak percaya dengan semua yang aku jelaskan ini, kamu bisa bertanya pada George. Dia ada sewaktu foto ini diambil. Dia duduk di depanku, di sebelah Anna. Ada lagi fotoku bersama Anna selain ini?" Leonard menghadapi Eleanor dengan kepala dingin, dia tidak ingin kembali menyakiti perasaan sang istri.
"Kalau semua ini hanya rekayasa, kenapa kamu selalu pergi pagi dan pulang larut? Kamu bahkan memilih sarapan masakan dia dari pada masakanku," ucap Eleanor dengan air mata yang mulai menetes.
"Banyak sekali pekerjaan yang harus aku tangani, sehingga aku lupa untuk sekedar mengisi perut. Dia menawarkan bekal makanannya, karena aku lapar makanya aku ambil..."
"Apakah makanan yang aku masak tidak enak? Kenapa juga kamu memilih memakan bekal miliknya? Apa itu wajar?" tanya Eleanor lirih, dadanya terasa sesak sekali mendapati kenyataan. Bahwa sang suami memilih memakan bekal sekertarisnya itu.
"Aku tidak ingin menambah bebanmu. Aku tahu kamu sudah lelah mengurus kedua anak kita. Oleh karena itu aku tidak mau merepotkan kamu lagi. Jangan menangis, aku tidak sanggup melihat air mata membasahi pipi kamu!" jawab Leonard sambil tangannya mengelap air mata istrinya menggunakan tisu.
"Jangan menangis lagi! Mulai besok aku akan menjaga jarak dengannya," janji Leonard pada sang istri.
__ADS_1
*
*
*
Hai-hai semua... mampir yuk ke karya temenku 🤗
Judul : ISTRI RASA SIMPANAN
Napen : Sendi Andriyani
"Pernikahan kita terjadi karena kesalahan, jadi jangan berharap aku akan mencintaimu!" Dimas Fahrian.
"Aku memang bukan istri Dimas, tapi akulah yang selalu Dimas prioritaskan!" Sila Derkain.
"Akulah istri rasa simpanan." Renata Lusiana.
"Dan aku yang akan meratukan mu, Renata!" Reza Argantara.
Pernikahan yang terjadi karena kesalahan satu malam yang mengharuskan Dimas menikahi Renata tanpa rasa cinta, karena hati nya telah berpaut pada wanita lain.
__ADS_1
Apakah Renata bisa mempertahankan rumah tangga nya bersama Dimas atau memilih pergi dan membangun hidup baru dengan orang baru?