
Kini usia kandungan Eleanor sudah memasuki bulan sembilan. Hanya tinggal menunggu hari kelahiran saja. Bahkan menurut perhitungan medis atau hari perkiraan lahir (HPL), dalam Minggu ini Eleanor akan melahirkan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan USG, anak mereka kali ini perempuan. Selama kehamilan, Eleanor semakin sensitif. Dia mudah menangis dan mudah jatuh iba. Tidak hanya itu saja, Eleanor semakin manja pada sang suami. Sehingga keduanya pun semakin lengket.
Leonard benar-benar menjadi suami siaga. Dia selalu menemani dan menyemangati istrinya. Tidak masalah sering melahirkan dengan cara normal. Banyak anak bagi Leonard, memiliki banyak rejeki juga. Setiap anak membawa rejekinya masing-masing.
"Le! Leonard!" panggil Eleanor sembari mere*mas lengan sang suami yang tertidur pulas di sampingnya.
Perut Ele terasa mulas dan tegang di tengah malam, keringat dingin sudah mulai terlihat di dahinya. Kontraksi kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Jarak interval waktunya juga semakin dekat.
Sebenarnya sejak sore, Eleanor sudah merasakan mulas pada perutnya. Namun, Eleanor tidak menyangka jika itu bukan kontraksi palsu. Dia memilih tidur agar melupakan rasa sakitnya itu.
"Le! Sshhh... sakit sekali, Le," jerit Eleanor sambil mendesis kesakitan. Dia mencakar lengan yang sejak tadi dire*masnya. Hal itu membuat Leonard terkejut dan segera membuka matanya.
"Honey?" ucap Leonard bingung karena belum terkumpul semua nyawanya.
Melihat sang istri mendesis kesakitan, Leonard langsung tanggap. Benar-benar suami siaga, bukan? Leonard turun dari ranjang, kemudian dengan sigap membopong tubuh sang istri keluar kamar. Menuju mobil.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit, di lobi rumah sakit sudah menunggu petugas medis dan brankar. Mereka menyambut kedatangan pemilik rumah sakit itu. Eleanor segera dibawa ke ruang bersalin untuk dicek jalan lahir bayinya.
__ADS_1
Kali ini Leonard kembali mendampingi kelahiran anaknya yang ketiga. Dia meminta dokter ginekologi terbaik untuk membantu sang istri melahirkan. Dia cukup mendampingi sang istri saja.
Dua jam kemudian, lahirlah bayi kecil nan cantik. Wajahnya merupakan kombinasi antara Leonard dan Eleanor. Sungguh sangat cantik jika besar nanti.
Kini, kebahagiaan rumah tangga Leonard dan Eleanor lengkap sudah. Hadirnya sang bidadari kecil yang sanga cantik dan juga sehat. Benar-benar sebuah keluarga yang penuh dengan kebahagiaan.
"Terima kasih, Honey. I love you more..." ucap Leonard berulang kali saat sang istri sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Leonard terus menempel pada istrinya, sampai-sampai ayahnya muak melihat tingkah Leonard yang berlebihan. Wajah Eleanor tidak pernah luput dari kecupan Leonard.
"Kamu seperti orang gila saja, Son! Kalau sangat berterima kasih pada istrimu, seharusnya kamu memberinya sebuah hadiah istimewa. Bukan seperti orang gila yang tiada puasnya mencium menantuku!" sindir tuan William kasar.
*
*
Lima tahun telah berlalu...
Tampak Eleanor menggandeng seorang gadis kecil seperti miniatur dirinya, di sebuah mall. Sedangkan dua anak laki-lakinya bersama sang suami di arena permainan. Gadis kecil itu minta diantar ke kamar mandi.
__ADS_1
"Helena, kamu bisa sendiri bukan di dalam?" tanya Eleanor begitu mereka masuk ke toilet.
"Bisa, Mom," jawab gadis kecil itu sembari memasuki sebuah bilik toilet.
Ya, Eleanor mengajarkan anaknya untuk mandiri. Apalagi saat ini perutnya sudah seperti gendang, karena usia kehamilannya sudah menginjak delapan bulan. Walaupun hamil besar, tidak menyurutkan semangat dia untuk mengajak anak-anak menikmati akhir pekan.
Setelah selesai dengan hajatnya di toilet umum, mereka kembali ke arena permainan yang ada di mall itu.
"Sudah?" tanya Leonard begitu kedua bidadarinya mendekat.
"Daddy, Helena mau boneka itu," ucap gadis kecil berpakaian gambar Sofia itu pada sang ayah.
"Ok, Baby. Kita ke sana sekarang!" sahut Leonard antusias.
Dengan diikuti oleh Eleanor dari belakang, Leonard menggendong Helena menuju tempat pemainan capit boneka (claw machine). Mereka berulang kali mencoba mengambil boneka tetapi selalu gagal. Lebih tepatnya Leonard yang mencoba mencapit boneka itu, karena Helena menempel erat di punggung sang ayah. Setelah lama tidak juga mendapatkan, akhirnya Leonard memilih membeli saja di tempat lain.
Mereka tampak bahagia, menikmati momen kebersamaan dengan keluarga. Dianugerahi tiga orang jagoan dan seorang princess, membuat hidup Leonard semakin sempurna.
Ya, anak dalam kandungan Eleanor berjenis kelamin laki-laki. Sesuai dengan hasil pemeriksaan USG berulang kali.
__ADS_1