Love After Parting

Love After Parting
LAP 6


__ADS_3

Eleanor tidak bisa konsentrasi sejak pagi, pikirannya tertuju pada ucapan Leonard tadi sebelum berangkat ke kantor.


Dia tidak mungkin melepas hak asuh Abraham, tetapi dia juga tidak tega jika harus membiarkan perusahaan sang ayah gulung tikar. Bagai makan buah simalakama, harus ada satu yang dikorbankan di sini.


Pikiran Eleanor benar-benar bagai benang kusut. Tidak tahu dari mana harus diurai agar tidak terputus nantinya.


"Maaf, Nona. Anda saat ini sedang ditunggu di ruang meeting oleh Tuan Winston," ucap sekretaris Eleanor.


"Oh, baik. Sebentar lagi aku ke sana," sahut Eleanor sembari membereskan berkas yang akan dibawanya ke ruang meeting.


Eleanor pun terburu-buru menuju ruang meeting hingga melupakan gawainya. Alat komunikasi itu tertinggal di meja kerjanya.


Eleanor berada di ruang meeting cukup lama, perdebatan alot dengan beberapa investor membuat lama jalannya rapat.


Tanpa Eleanor sadari gawainya sejak tadi berbunyi. Ada beberapa panggilan dan pesan dari dua pekerja di rumahnya


Baby Abraham kembali demam tinggi seperti beberapa hari yang lalu. Demamnya terlalu tinggi, sehingga dua orang itu segera membawa baby Abraham ke rumah sakit milik Leonard.


Beruntung mereka berdua bertemu dengan Leonard saat mendaftar di bagian administrasi.


"Abraham kenapa, Mer?" tanya Leonard sembari mengambil baby Abraham dari gendongan Hanna.

__ADS_1


"Astaga! Panas sekali suhu tubuhnya," jerit Leonard terkejut mendapati tubuh anaknya dengan suhu tubuh tinggi.


Leonard langsung berjalan cepat sambil memeluk buah hatinya. Hanna dan Merry mengikuti langkah majikannya di belakang Leonard. Langkah Leonard yang lebar dan cepat membuat Merry dan Hanna sedikit berlari agar tidak ketinggalan.


*


*


Eleanor melangkah dengan gontai menuju ruangannya. Rapat yang cukup alot dengan investor sangat menguras tenaganya. Mereka meragukan kemampuannya untuk mengembalikan Winston Gold Company (WGC) seperti semula.


"Hufftt... sepertinya aku harus meminta bantuan Leonard. Tak ada cara lain lagi. WGC benar-benar terpuruk saat ini. Semoga Leonard bisa membantu," gumam Eleanor lirih.


Eleanor menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Dia duduk bersandar pada dinding kursi dengan memejamkan mata. Pikirannya berkecamuk memikirkan perusahaan dan perkataan Leonard tadi pagi.


Masih dengan mata terpejam, Eleanor merogoh saku blazernya.


"Ponselku?" Betapa terkejutnya Eleanor, gawainya tidak ada di saku. Dia pun segera membuka mata mencari keberadaan gawainya.


Memindai seluruh meja kerja dan menumpuk beberapa berkas di meja itu menjadi dua tumpukan. Tampaklah gawai miliknya diantara berkas-berkas tersebut.


"Hah!" Eleanor kembali terkejut mendapati puluhan panggilan dari pengasuh baby Abraham dan asisten rumah tangganya.

__ADS_1


Eleanor pun segera menghubungi mereka untuk menanyakan keadaan baby Abraham. Sungguh dia tidak sengaja untuk melupakan ataupun lalai pada anaknya. Keadaan yang membuat dia terpaksa meninggalkan anaknya dalam pengasuhan baby sitter.


"Halo, Hanna! Ada apa? Bagaimana keadaan Abraham?" cerca Eleanor begitu saluran telepon tersambung.


"Apa? Baiklah, aku segera ke sana!" ujar Eleanor tiba-tiba panik setelah mendapat jawaban dari baby sitter Abraham itu.


Eleanor segera berdiri dan menyambar tas yang tadi dia letakkan di meja kerja. Sebelumnya dia menyimpan gawainya ke dalam saku blazernya.


"Semoga baby Abraham tidak apa-apa. Ya Tuhan, ada saja ujian yang harus aku hadapi. Semoga aku mampu menjalani semua ini," gumam Eleanor sambil berjalan cepat.


Dia ingin segera melihat keadaan anaknya. Sesibuk apapun dia selalu berusaha menanyakan keadaan anaknya pada sang baby sitter. Namun, hari ini sangat melelahkan baginya sehingga membuat dia lupa menanyakan keadaan sang anak.


"Maaf, Nona. Ada beberapa berkas yang harus Nona tandatangani terlebih dahulu. Investor masih menunggu di ruang Tuan Winston," ucap sekretaris Eleanor, ketika Eleanor melintas di depannya.


*


*


*


Maafkan diriku yang tidak bisa rutin update 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2