
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, happy birthday
Happy birthday to Leonard...
Semua orang yang berada di taman belakang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Leonard. Betapa terkejutnya Leonard melihat begitu orang-orang terdekatnya mengingat hari lahir yang dia sendiri lupa.
Lebih membuat dia sangat terkejut dan bahagia, yaitu Eleanor berjalan perlahan ke arahnya dengan membawa kue ulang tahun. Mata Leonard berkaca-kaca karena bahagia melihat sang pujaan hati sudah bisa berjalan lagi.
"Ele..." ucap Leonard tercekat tanpa bisa lagi berkata-kata, hanya air mata bahagia yang mengalir dari mata ke pipinya.
"Ka-kamu sudah bisa berjalan, Honey?" tanya Leonard dengan terbata, dia tidak menyangka sama sekali jika istrinya bisa kembali berjalan secepat ini.
"Kejutan darimu sungguh luar biasa!" ucap Leonard kemudian, sambil mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangan.
Eleanor hanya menjawab dengan anggukan dan senyum dibuat semanis mungkin. Eleanor pun terus melangkah mendekati sang suami, sampai akhirnya tiba tepat di depan Leonard.
Eleanor tersenyum manis sembari menyodorkan kue ulang tahun dengan lilin menyala di atasnya.
"Make a wish, please!" ucap Eleanor masih dengan senyum mengembang.
Leonard memejamkan mata, berdo'a untuk kebaikan rumah tangga dan keluarganya. Setelah itu dia meniup lilin dengan dibantu oleh sang istri.
"Terima kasih," ucap Leonard lirih.
"Terima kasih, Honey," ulang Leonard, lalu langsung menyambar bibir sang istri dan m3lum4tnya lebih dalam.
__ADS_1
"Awas jatuh!" teriak Filma seraya mendekati pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
Bagaimana orang yang melihat mereka tidak panik? Mereka berdua berciuman dengan memegang kue di tangan keduanya. Sehingga para tamu undangan hanya bisa berteriak mengingatkan.
Acara itu hanya dihadiri oleh keluarga besar Gladston, nyonya Theresa dan beberapa teman dekat Leonard. Tak lupa juga semua penghuni rumah mewah itu.
"Bagaimana rasanya, Son? Mendapat kejutan dari istrimu, semoga otak dan jantungmu tidak bermasalah. Hahaha!" tanya tuan William Gladston, ayah Leonard.
"Hampir saja jantungku melompat keluar dan berhenti berdetak, Dad!" sahut Leonard dengan kelakarnya.
"Hahaha... ternyata menantuku lebih cerdas dari pada kamu! Sebentar lagi acara ulang tahun Eleanor kamu harus bisa memberinya pesta yang meriah dan tidak terlupakan!"
Saat anak dan ayah itu sedang asik ngobrol dan bercanda, Anna Grace yang datang bersama tuan Oxy mendekati Leonard.
"Selamat ulang tahun, Tuan Gladston. Semua do'a terbaik untuk Anda, Tuan. Semoga semakin sukses dan sehat selalu," ucap tuan Oxy sembari mengulurkan tangan menjabat Leonard.
Setelah pelukan itu terlepas, Anna Grace maju mendekati mantan atasannya. Dia memberikan kado yang tadi dibawa.
"Selamat ulang tahun, Tuan. Maaf kami tidak bisa memberikan barang berharga untuk Tuan," ucap Anna seraya mengulurkan kotak berukuran kecil pada Leonard.
"Oh ya, Tuan. Satu lagi," lanjut Anna sambil membuka tasnya. Dia mengambil sebuah kertas berukuran 20 x 25 cm², lalu menyerahkan pada sang mantan atasan.
Leonard pun meletakkan kado dari Anna dan tuan Oxy. Kemudian dia mengambil kertas yang diulurkan oleh Anna. Lalu dilanjutkan dengan membaca secara teliti.
"Kalian akan menikah?" tanya Leonard seraya menatap Anna dan tuan Oxy bergantian dan diangguki keduanya.
"Waaaah... selamat Tuan Oxy! Akhirnya anda bisa juga mendapatkan dia," ucap Leonard bahagia.
"Kami sangat mengharapkan kedatangan Tuan Gladston sekeluarga," sahut tuan Oxy dengan ramah
__ADS_1
Acara pun dilanjutkan dengan memotong kue, kemudian disusul dengan acara makan malam bersama. Eleanor susah payah menyiapkan acara ulang tahun suaminya. Walaupun hanya mengundang orang-orang terdekat, akan tetapi acara sangat meriah.
Meriahnya suatu acara bukan karena seberapa mewah dan banyaknya tamu undangan. Tetapi bagaimana acara bisa dinikmati oleh para hadirin dan kebersamaan yang dirasakan oleh mereka.
Dua jam berlalu, para tamu undangan sudah berpamitan pulang. Anak-anak pun sudah terlelap bersama sang baby sitter. Rumah sudah sangat sepi ketika Leonard dan Eleanor menuju kamar mereka.
"Aku menunggu hadiah darimu, Honey," ucap Leonard langsung menyerang bibir Eleanor.
Tak hanya sampai di situ saja, tangan Leonard pun ikut bergerilya di balik baju Eleanor. Leonard mendorong pelan tubuh Eleanor hingga terduduk di atas ranjang, masih dengan bibir saling bertaut.
Akhirnya Leonard mendapatkan kado terindah dari sang istri, setelah enam bulan tidak mendapatkan haknya...
End
TAMAT
*
*
*
Alhamdulillah akhirnya sampai di penghujung cerita, walaupun banyak kendala dan hambatan.
Terima kasih atas dukungan para readers sekalian. Saya tanpa kalian bukanlah apa-apa 🥺🥺🥺
Sekali lagi terima kasih 🥰🥰🥰
Semoga kita bertemu lagi di karya recehku yang berikutnya 🤲🤲🤲
__ADS_1