Love After Parting

Love After Parting
Bonchap 2


__ADS_3

Leonard melakukan penyatuannya dengan sangat lembut dan berhati-hati. Takut terjadi sesuatu pada janin yang baru saja diketahui keberadaannya. Selama ini dia selalu melakukan dengan tenaga penuh untuk menyalurkan naf*sunya. Walaupun dilakukan dengan lembut dan pelan, tetap membuat sang istri mende*sah penuh kenikmatan.


Keduanya mengerang panjang setelah mendapatkan puncak pelepasan. Leonard langsung mencabut senjatanya, kemudian berguling ke samping sang istri. Menarik selimut lalu memeluk sang istri masuk ke dalam dekapannya.


"Thanks, Honey!" ucap Leonard sambil mengecup kening Eleanor sangat lama. Tidak hanya itu saja, Leonard mengecup semua bagian wajah istrinya. Terakhir, berhenti bibir merah jambu dengan luma*Tan yang sangat lama hingga keduanya tersengal.


Eleanor kembali memukul dada bidang sang suami karena hampir kehabisan napas.


"Dia bangun lagi, Honey! Tubuhmu memang sudah menjadi candunya," ucap Leonard sembari membawa tangan istrinya ke arah senjata tempur yang sudah mengembang dan keras.


Eleanor langsung meremas karena gemas, baru saja menyemburkan lahar putih. Kini sudah mengembang lagi dengan sempurna, hanya karena sebuah ciuman.


"Ahhh..." de*sah Leonard ketika senjatanya diremas oleh wanita cantik di depannya.


Eleanor segera bangkit dan beranjak dari ranjang, kemudian ke kamar mandi dengan tubuh polos tanpa penutup sama sekali. Sengaja menggoda sang suami yang sudah siap bertempur kembali.

__ADS_1


Melihat sang istri melenggok tanpa malu, Leonard pun segera mengejar istrinya. Ikut masuk ke kamar mandi.


*


*


Hari ini Leonard tidak pergi ke kantor WGC, dia ingin memeriksa istrinya dengan teliti di rumah sakit. Dia sedikit was-was karena tadi sudah menggempur sang istri sebanyak tiga kali. Tadi malam sekali, pagi harinya dua kali.


Leonard berharap janin dalam kandungan Eleanor dalam keadaan baik-baik saja. Mengingat betapa ganasnya dia tadi malam dan tadi pagi saat di kamar mandi.


"Kenapa melamun? Menyesal aku hamil lagi?" tebak Eleanor asal.


"Bukan! Aku tidak menyesal, aku malah bahagia dan bangga. Bahagia karena mendapat rejeki yang sangat besar. Bangga karena senjataku ternyata sangat ampuh!" jawab Leonard dengan sombongnya.


"Sudah selesai menyombongkan dirinya? Kita berangkat sekarang apa nanti? Kasihan Abraham dan Alexi jika terlalu lama ditinggal!" sahut Eleanor ketus. Jangan lupakan wajah cemberutnya yang tidak pernah hilang sejak keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Eleanor sudah kelelahan digempur, tenyata sang suami masih tahan dan belum juga berhenti menggempur. Padahal badan Eleanor tadi sudah begitu lemas karena pelepasan berulang kali.


Akhirnya mereka berangkat setelah berpamitan pada kedua buah hati, yang mereka tinggal bersama para pengasuh dan asisten rumah tangga.


Tak butuh waktu lama untuk pasangan romantis itu sampai di rumah sakit. Keduanya langsung menuju ruang praktek Leonard, dengan diikuti dua orang perawat. Ruangan itu sudah disiapkan oleh perawat itu saat mendapat perintah dari pemilik rumah sakit itu.


"Dengarkan detak jantungnya, Honey! Anak kita ternyata lebih kuat dari yang kita bayangkan. Semua baik-baik saja, walaupun diguncang gempa dengan kekuatan 7 skala richter," ucap Leonard sambil bercanda.


Tampak sekali kebahagiaan di wajah dokter spesialis kandungan itu. Dia memeriksa sendiri kondisi anak dan istrinya. Hal ini dia lakukan, karena saat kehamilan pertama Eleanor kabur darinya. Saat kehamilan kedua kakinya masih lumpuh. Akhirnya kali ini dia mendapat kesempatan itu.


Usai memeriksa kandungan sang istri, Leonard mampir sejenak ke ruangan CEO. Dia memeriksa berkas penting sejenak, sebelum akhirnya membawa istrinya pulang.


"Seharusnya kamu tidak usah mengantar aku pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan. Padahal ada banyak sopir yang bisa disuruh antar aku pulang. Kalau seperti ini, kapan pekerjaan akan kelar!" gerutu Eleanor dalam perjalanan pulang.


Eleanor melihat sendiri bagaimana pekerjaaan sang suami yang menggunung di meja kerja. Dia tidak ingin egois yang akhirnya nanti merugikan diri sendiri dan rumah tangganya.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan! Nanti aku akan kembali lagi ke kantor. Sekarang aku hanya ingin memastikan istri dan anakku selamat sampai di rumah," sahut Leonard dengan senyum terukir di sudut bibirnya.


__ADS_2