Love After Parting

Love After Parting
LAP 14


__ADS_3

Tawa selalu menghiasi apartemen mewah yang ditempati oleh Leonard beserta anak istrinya. Eleanor sekarang lebih sering bersama baby Abraham, sedangkan Leonard tetaplah hot daddy yang selalu siaga.


"Hehehe..." celoteh baby Abraham.


Saat ini keluarga yang baru bersatu itu sedang bercengkrama. Leonard yang baru saja pulang kerja terasa hilang rasa capeknya. Bisa bercanda bersama sang anak, juga dilayani oleh istri yang cantik.


"Abraham bahagia sekali, Boy. Sejak tadi ketawa terus," ucap Leonard pada anaknya sembari mencium pipi gembul sang anak.


"Hehehe... aaa..." Tangan dan kaki baby Abraham bergerak terus dengan tawa tak berhenti.


Leonard sangat gemas melihat anaknya yang ceria. Saking gemasnya dia menggigit pelan pipi baby Abraham.


"Ekkkk... haaaa" Baby Abraham merengek dan akhirnya menangis setelah merasakan sakit di pipinya.


Melihat anaknya menangis, Eleanor dengan sigap langsung menggendong baby Abraham.


"Cup... cup... anak Mommy. Shhh... sudah diam. Daddy nakal ya, hmm?" ujar Eleanor sembari mengusap punggung baby Abraham.


"Kamu jahat sekali sama anak sendiri! Memangnya tidak sakit digigit?"


"Tidak..." jawab Leonard sambil menampakkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


"Sini! Aku gigit kamu," bentak Eleanor seraya mengulurkan tangannya yang bebas ke arah Leonard. Dia hendak mencubit suami nakalnya itu.


"Aww... sakit, Sayang," kata Leonard meringis kesakitan. Capitan tangan Eleanor sangat terasa sakit walaupun berbadan kecil.


"Hehehe..." Baby Abraham tertawa melihat sang ayah yang meringis kesakitan.


"Nakal ya, lihat Daddy kesakitan malah diketawain!" ujar Leonard seraya menarik hidung mancung sang anak.


Baby Abraham pun kembali merengek sambil menatap sang ibu yang menggendongnya. Mata bayi berusia enam bulan itu berkaca-kaca seolah mengadu pada ibunya.


Eleanor pun tertawa melihat wajah sang buah hati, yang menurutnya sangat lucu.


"Masih kecil sudah pinter ngadu, ya? Hahaha..." kata Eleanor sambil mencium pipi baby Abraham saking gemasnya.


*


*


Eleanor melepas kepergian suaminya sampai pintu sambil menggendong baby Abraham. Bayi itu terus berceloteh riang, sesekali memainkan ludahnya.


"Jorok, Boy. Jangan mainkan ludahmu seperti itu! Baju kamu basah nanti," ucap Leonard sebelum meninggalkan anak dan istrinya.

__ADS_1


Kemudian, Leonard mencium kening anak dan istrinya. Tak lupa dia juga menyambar bibir sang istri.


"Lee!" teriak Eleanor begitu pagutan di bibirnya terlepas.


Teriakan Eleanor hanya ditanggapi dengan kekehan Leonard. Leonard terkekeh sambil mengusak rambut Eleanor sebelum berlalu meninggalkan flat apartemennya.


Eleanor pun kembali ke kamarnya karena gawainya tertinggal di meja nakas. Betapa terkejutnya dia begitu melihat layar gawai. Banyak panggilan tak terjawab dari sang ibunda.


Eleanor pun menghubungi ibunya. Ternyata kedua orang tuanya menginginkan dia datang mengunjungi rumah yang telah ditinggalkan. Karena rasa rindu sudah lama tidak mengunjungi orang tuanya, Eleanor pun langsung mengiyakan permintaan sang ibu tanpa menaruh curiga sedikitpun.


Eleanor bergegas untuk bersiap-siap untuk menemui sang ayah dan bunda. Dia memanggil Hanna untuk menyiapkan barang-barang milik baby Abraham.


Setelah keduanya siap untuk berangkat, Hanna pun diminta untuk ikut bersama dirinya.


"Nona, apa tidak sebaiknya kita mengabari Tuan Leonard terlebih dahulu," usul Hanna yang hanya didiamkan.


"Tidak apa, Hanna. Biarkan dia fokus dengan pekerjaannya. Aku tidak mau mengganggu. Pekerjaan dia sangat banyak, jadi susah buat handle itu seorang diri.


Tak butuh waktu lama, untuk sampai di rumah Winston. Mereka sudah disambut oleh ibu dan ayahnya yang di pintu utama.


"Cucu Oma," pekik nyonya Winston seketika dilihatnya sang anak.

__ADS_1


Nyonya Winston berlari kecil mendekati sang cucu pintu.


"Apa kabarmu? Kenapa kamu sekarang jarang mengunjungi kami?" todong sang Mama. Pura-pura kesal.


__ADS_2