
"Besok kita menikah!" ucap Leonard tiba-tiba.
"Aku akan menyuruh George menyiapkan segala sesuatunya. Kita menikah di kantor catatan sipil dulu. Setelah itu baru kita pikirkan perayaannya," imbuh Leonard sembari mengambil sandwich untuk sarapannya.
Saat ini mereka sedang duduk menikmati sarapan yang sedikit kesiangan.
Baby Abraham bersama pengasuhnya dan asisten rumah tangga, berjalan-jalan ke taman yang ada di halaman gedung apartemen itu.
"Kamu ngomong apa, sih? Nggak jelas banget!" sahut Eleanor acuh, masih fokus pada sandwich di tangannya.
"Perasaan sudah mandi, badan sudah segar. Masih mengigau saja!" imbuh Eleanor dengan acuh.
"Aku serius! Tidak ada penolakan untuk itu. Ini demi kebaikan kita bersama. Terutama demi Abraham dan WGC!" tegas Leonard yang membuat Eleanor melongo karena tidak menyangka Leonard akan kembali mengikatnya.
Eleanor menjadi teringat saat masih menjadi istri sah Leonard. Dia setiap hari meneteskan air mata karena ulah Leonard. Walaupun tidak melakukan kekerasan fisik, tetapi cukup membuatnya menyerah menjadi istri seorang dokter sekaligus CEO yang dingin. Leonard yang terpaksa menikahi Eleanor, membuatnya tidak pernah menganggap Eleanor ada. Dia merasa kehilangan Eleanor setelah Eleanor meninggalkan dirinya.
Mata Eleanor berkaca-kaca, mendengar kata-kata Leonard yang akan menikahinya besok. Pikirannya pun melayang pada saat masih menjadi istri Leonard.
*Flash back on*
"Leon, kamu sudah pulang?" tanya Eleanor.
Saat ini waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Leonard baru saja pulang ke rumah. Eleanor, sang istri sampai ketiduran di sofa karena menunggu suaminya yang tidak kunjung pulang.
__ADS_1
"Hmm!" jawab Leonard singkat sambil terus melangkahkan kakinya menuju kamar.
Eleanor langsung bangkit dan mengikuti sang suami.
"Aku siapkan air panas dulu," ucap Eleanor berjalan mendahului Leonard menuju kamar mandi.
Selesai menyiapkan air panas untuk mandi suaminya, Eleanor menuju walk in closed untuk menyiapkan baju ganti.
Selesai menyiapkan kebutuhan Leonard, Eleanor turun ke dapur untuk membuatkan teh herbal untuk suaminya itu.
Leonard keluar dari kamar mandi sudah tersedia air minum di meja nakas. Dia menyesap teh itu sebelum mengganti pakaiannya.
Sementara itu Eleanor kembali ke kamarnya setelah melayani sang suami, tak ubahnya seperti pembantu.
Mereka berdua tampak mesra jika berkumpul dengan keluarga. Selebihnya tanpa interaksi yang berarti.
Eleanor sudah melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan hati Leonard. Akan tetapi, Leonard seperti menutup diri rapat-rapat. Tidak ingin satu orang pun memasuki ruang hatinya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini, Leonard. Sudah lebih setahun aku berusaha mendapatkan cintamu. Apapun rela aku lakukan untukmu. Kalau bukan karena orang tuaku, aku akan memilih mundur..."
Air mata mengalir ke pipi putih Eleanor. Ingin rasanya dia menyerah dan meminta cerai dari Leonard. Akan tetapi mengingat kontrak kerjasama perusahaan keluarganya dengan orang tua Leonard, membuat dia mengurungkan niat.
Dalam perjanjian itu, kerjasama antara keluarga Gladston dan Winston akan berlangsung selamanya. Jika salah satunya berkhianat, maka perusahaan itu akan menjadi hak milik pihak yang dikhianati.
__ADS_1
Orang tua Eleanor memiliki hutang budi pada orang tua Leonard. Jika bukan karena balas budi dan terlanjur jatuh cinta pada pertemuan pertama mereka, sudah pasti Eleanor menolak perjodohan ini.
Eleanor yang mencintai Leonard hanya bisa menahan rasa sakit. Sakit karena mencintai sendiri. Salah siapa jika dia jatuh cinta pada laki-laki yang dijodohkan pada dirinya? Salah siapa juga jika sang suami sampai saat ini masih menyimpan rasa cinta pada masa lalunya?
Cinta tak pernah salah, dia datang dan pergi tanpa diminta. Sakit memang jika kita mencintai seseorang dengan sepenuh hati, tetapi tidak dihiraukan sama sekali oleh pasangan kita.
Keesokan paginya, seperti biasa Eleanor selalu menyiapkan sarapan dan segala kebutuhan sang suami. Walaupun keberadaannya di rumah itu tidak dianggap oleh suaminya, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Sarapan dulu, Le! Aku sudah menyiapkannya," ajak Eleanor pada lelaki yang telah dinikahinya selama setahun lebih.
"Aku buru-buru! Nanti aku makan di kantor saja, lain kali kamu tidak usah menyiapkan segala kebutuhanku atau menungguku pulang!" pamit Leonard tanpa melihat ke arah wanita cantik bertubuh tinggi semampai, yang telah tinggal bersamanya selama setahun terakhir.
"Aku masukkan ke kotak bekal ya?" tawar Eleanor menunjukkan perhatiannya.
"Tidak usah!" sahut Leonard cepat sambil berjalan menuju pintu utama.
"Tapi..."
"Jika aku bilang tidak, maka tidak! Jangan lagi menggangguku!" teriak Leonard dengan mata menatap tajam bak elang hendak menerkam mangsanya.
Eleanor terjengit kaget mendengar teriakan Leonard yang menggelegar memenuhi ruangan itu. Matanya pun mulai mengembun, titik air mata sudah mulai memenuhi rongga pelupuk matanya. Siap menetes dengan sekali kedip mata.
Leonard membanting pintu utama dengan sangat keras. Tak terasa air mata itupun akhirnya luluh tanpa bisa dibendung lagi.
__ADS_1
"Begitu bencinyakah dirimu padaku? Sehingga apapun yang aku lakukan tidak pernah benar menurut pandangan mata kamu," gumam Eleanor lirih dengan air mata mengalir di kedua pipinya.