Love After Parting

Love After Parting
LAP 16


__ADS_3

Eleanor mengerjapkan matanya berulangkali. Dia merasa sudah tidur terlalu lama. Tidak pernah tidur siang, sekalinya tidur sangat nyenyak. Hingga lupa waktu, sudah berapa lama tertidur.


Setelah kesadarannya pulih, Eleanor pun duduk bersandar di headboard ranjang.


"Aku dimana? Kenapa kamar ini tampak asing?" gumam Eleanor sambil menguap.


Eleanor merasa di tempat asing saat ini. Matanya pun memindai seluruh isi ruangan. Sepertinya dia mengenali kamar tersebut. Tetapi dia tidak percaya.


Saat ini dia berada di kota kecil, kota dimana ibunya berasal. Kota Adelaide, jarak perjalanan dari Melbourne ke kota ini membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam jika ditempuh menggunakan mobil.


Eleanor dibawa ke kota kecil ini menggunakan pesawat pribadi milik seorang teman Tuan Winston, untuk mempersingkat perjalanan. Tidak hanya Eleanor, baby Abraham dan pengasuhnya pun tak luput dibawa.


Eleanor keluar dari kamar itu, ternyata suasana di luar kamar pun sama. Hanya diterangi oleh cahaya yang minim. Hanya lampu kecil yang menyala di langit-langit bangunan.


"Leonard! Hanna! Mommy! Daddy!"


Berulang kali Eleanor memanggil nama-nama yang terlintas dalam otaknya. Namun, tidak ada satu orang pun yang menyahut panggilannya.


Eleanor terus berjalan dan akhirnya menemukan sebuah pintu. Dia pun membukanya. Ternyata sebuah kamar. Tampak olehnya sang baby sitter sedang terbaring memeluk baby Abraham. Keduanya tertidur pulas.


"Syukurlah kalian tidak apa-apa," ucap Eleanor sembari mendekati ranjang.

__ADS_1


Dikecupnya kening sang buah hati, kemudian membetulkan letak selimut.


"Kenapa kami bisa berada di sini?" gumam Eleanor penuh dengan tanda tanya.


"Dimana Mommy dan Daddy? Seingatku tadi siang berada di rumah Daddy, kenapa bisa berada di sini? Siapa yang membawa kami ke sini?"


"Ah, iya! Dimana ponselku?" gumam Eleanor sambil meraba kantong celana dan baju, mencari keberadaan gawainya.


"Tidak ada! Bagaimana ini? Aku harus segera mengabari Leonard agar dia tidak khawatir!" gumam Eleanor panik. Akhirnya dia pun membangunkan Hanna. Dia butuh jawaban sekarang.


"Hanna, bangun!" bisik Eleanor di telinga Hanna.


Sang pengasuh itu pun menggeliatkan tubuhnya. Kemudian membuka matanya.


"Tidak apa, tenanglah! Aku hanya ingin bertanya, kenapa kita berada di sini?" ujar Eleanor lembut, tak lupa senyum manisnya terukir di bibir.


"Tuan Winston yang membawa kita ke sini. Saya dipaksa! Bahkan ponsel saya pun akan disita saat akan berangkat ke sini. Saat ini kita berada di kota kecil yang dihuni para pelayan..."


"Seingatku, aku tadi tidur siang bersama baby Abraham. Kenapa bisa sampai di sini?"


"Nona ditidurkan di brankar, badan Nona ditutup dengan kain. Jadi petugas bandara tidak curiga karena orang-orang tuan Winston mengatakan jika Nona sakit keras. Sedangkan baby Abraham saya gendong dalam keadaan masih tidur. Lama Nona tidak sadarkan diri, membuat saya sangat khawatir."

__ADS_1


"Gawai Nona berada di tangan Tuan Winston. Mereka juga ingin merampas gawai saya, namun sudah saya sembunyikan. Apakah Nona ingin menghubungi Tuan Gladston?" cerita Hanna panjang dan lebar, cerita tersebut diakhiri dengan pertanyaan yang membuat Eleanor tidak bisa berkata-kata.


*Flashback beberapa jam yang lalu*


Gawai Eleanor disembunyikan oleh nyonya Theresa. Orang-orang suruhan tuan Robert Winston pun menggeledah tubuh dan tas Hanna untuk mengambil gawai baby sitter itu. Namun mereka tidak menemukan.


"Berikan ponselmu!" perintah salah seorang bodyguard bayaran tuan Robert Winston.


"Saya tidak diperbolehkan memegang ponsel saat bersama dengan baby Abraham. Jadi saya tinggalkan ponsel saya di kediaman Tuan Leonard Gladston," jawab Hanna dengan berani.


Tanpa mereka ketahui bahwa Hanna menyelipkan gawainya di tas bayi yang berisi perlengkapan baby Abraham. Gawai itu dimasukkan ke dalam diapers, sehingga tidak ada yang tahu.


Hanna memang sengaja menyimpan ponselnya di sana setiap kali diajak keluar rumah oleh Eleanor. Larangan menggunakan gawai saat bekerja membuat dia sering mencuri kesempatan untuk membuka gawainya. Ternyata kebiasaan itu yang akan menyelamatkan dirinya dan sang majikan.


Hanna dan baby Abraham diberikan satu kamar yang berbeda dengan Eleanor. Mereka menempati gubuk kecil di dekat pantai. Gubuk itu dijaga ketat oleh beberapa bodyguard bayaran tuan Robert Winston.


*Flash back off*


*


Sementara itu Leonard panik karena hingga malam hari istrinya belum juga pulang dan tidak bisa dihubungi. Akhirnya dia memutuskan untuk menjemput anak dan istrinya di rumah sang mertua.

__ADS_1


Leonard memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Perasaannya sungguh tidak tenang. Tanpa Leonard sadari ada sebuah truk besar dengan arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi. Dan kecelakaan itu pun tidak dapat dielakkan. Sebuah dentuman keras terdengar di telinga.


Ciiiitttt... Braakkkk...


__ADS_2