Love After Parting

Love After Parting
LAP 22


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, baby Abraham menangis terus. Bahkan tangisnya membuat sakit telinga dan kepala tuan Robert. Sehingga lelaki paruh baya itupun tersulut emosinya.


Tuan Robert tidak jadi membawa keluarganya keluar Adelaide. Hal ini dikarenakan tidak mau ribet mengurus surat-surat baby Abraham. Mereka saat ini berada di Edithburgh dan akan melarikan diri ke Maitland. Edithburgh dan Maitland masih sama-sama di wilayah Adelaide.


Jarak Edithburgh cukup jauh dengan Maitland. Mereka menggunakan jalur darat dan itu membutuhkan waktu selama kurang lebih 18 jam perjalanan.


Pengakuan sopir truk membuat tuan Robert terpaksa membawa anak istrinya ke kampung nelayan di Maitland. Banyak warga setempat yang menjadi nelayan. Sehingga penyusupan mereka tidak akan terlacak. Begitulah pikiran tuan Robert.


Tuan Robert membawa keluarganya kabur karena tidak ingin anaknya bersatu kembali dengan Leonard. Kebencian tuan Robert pada menantunya itu sudah mendarah daging hingga ke urat-uratnya.


Tanpa dia tahu, orang-orang tuan Gladston sudah menanti di Maitland. Orang-orang William Gladston bisa mengetahui dengan mudah, kemana tujuan Robert Winston hanya dengan informasi dari orang bayaran. Orang-orang tersebut mengikuti seperti bayangan kemana pun tuan Robert pergi.


"Ayolah, Dad! Ijinkan aku ikut menjemput anak istriku," mohon Leonard.


"Kamu di sini saja! Lebih aman jika kamu tetap di rumah. Robert Winston orang yang nekat. Takutnya dia akan melukaimu atau bisa juga anak istrimu," jawab tuan William tegas. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada anak dan cucunya nanti.


"Aku bisa menjaga diri..."


"Kamu bisa jaga diri, tapi apakah kamu bisa menjaga anak istrimu nanti jika tiba-tiba dia menyerangmu dan anak istrimu sekaligus? Kamu jangan keras kepala! Jika kondisi benar-benar memungkinkan untuk ikut, kamu pasti ikut," potong tuan William cepat dan lantang tanpa mau mendengar alasan dari anaknya.

__ADS_1


Mendengar teriakan dari sang ayah, nyali Leonard pun menciut. Dia merasa menjadi orang tidak berguna. Keadaannya yang sudah cacat pasti selalu merepotkan orang lain.


"Ok, Dad. Aku akan menunggu mereka di sini," ucap Leonard akhirnya, dengan kepala tertunduk lesu.


Tuan William pergi hanya bersama orang-orang bayarannya. Dia tidak ingin anak istrinya celaka saat menjemput cucu dan menantunya.


"Daddy melarangmu ikut bukan karena tidak mau direpotkan dengan keadaan kamu. Semua itu hanya demi keselamatan keluarga Daddy. Jika ada salah satu dari kalian ada yang celaka, maka Daddy akan merasa sangat bersalah sekali. Daddy tidak mau menyesali semua yang terjadi. Oleh karena itu, Daddy tidak membawamu atau pun Mommy-mu. Daddy harap kamu mengerti!" tutur tuan William dengan bijak, keduanya saling memandang dan mengangguk.


*


*


"Mom, perutku kram. Sakiiitttt..." gumam Eleanor sambil memegangi perutnya.


Baby Abraham saat ini duduk di pangkuan sang pengasuh. Sedangkan Eleanor duduk bersandar pada ibunya sambil menahankan rasa sakit pada perutnya.


"Sabar, sebentar lagi kita sampai. Kamu bawa tidur saja!" sahut nyonya Theresa.


Eleanor pun memejamkan matanya, tetap masih bersandar di pundak sang ibu.

__ADS_1


"Robert, kita singgah ke rumah sakit atau klinik sebentar. Kita cek kandungan Eleanor," ucap nyonya Theresa pada suaminya.


"Glen, kamu dengar apa yang dikatakannya?" ujar tuan Robert pada sang sopir sekaligus bodyguardnya.


"Siap, Tuan. Saya mendengar," jawab sang sopir.


"Moommm... sakiiitttt..." rintih Eleanor.


Keringat dingin mulai membasahi keningnya.


*


*


*


Mampir yuk ke karya teman aku, jangan lupa singgah ya!


__ADS_1



__ADS_2