
Eleanor masih marah pada suaminya, saat ibunya datang untuk berkunjung.
Nyonya Theresa merasa heran melihat anak dan menantunya itu tidak seromantis biasanya. Seperti ada perang dingin antara Eleanor dan Leonard.
"Bagaimana keadaanmu, Ele?" tanya nyonya Theresa pada anak perempuan satu-satunya itu.
"Sudah baik, Mom. Hanya harus rajin belajar berjalan saja. Otot-otot kakiku sudah terlalu lama tidak digunakan jadi masih kaku. Kalau sering dilatih berjalan pasti segera normal kembali," sahut Eleanor dengan senyum dibuat semanis mungkin.
Eleanor tidak ingin ibunya tahu jika dirinya sedang melakukan perang dingin pada sang suami. Sedangkan Leonard memanfaatkan momen tersebut untuk bermanja-manja dengan istrinya. Leonard begitu merindukan sang istri, namun ancaman yang pernah terlontar saat koma masuk ke alam bawah sadar sang istri. Sehingga istrinya pun masih mengingat kata-kata itu.
Nyonya Theresa pun mendekati cucu-cucunya yang sedang bermain. Dia meninggalkan anak dan menantunya untuk berduaan. Dia tahu bagaimana keadaan Leonard selama Eleanor koma, sehingga memberi waktu agar keduanya kembali lengket seperti semula.
"Awas, minggir!" ucap Eleanor sembari menggeser kepala sang suami dari pangkuannya.
Leonard terkejut, di saat dirinya hampir terlelap tiba-tiba kepalanya bergeser. Namun begitu, dia tetap memejamkan mata pura-pura tertidur. Dia ingin tahu bagaimana sikap istrinya nanti.
"Menyebalkan sekali! Pantang ada celah sedikit, langsung nyosor," gerutu Eleanor. Akhirnya dia dengan perlahan memindahkan kepala lelaki belahan jiwanya secara perlahan. Seperti takut jika sang suami terbangun, jika dia mendorong lagi kepala yang di pangkuannya.
__ADS_1
Walaupun kesal, namun rasa cinta itu masih ada. Hanya rasa kesal saja, jika mengingat dia diancam dalam keadaan koma. Anehnya hanya ancaman dari Leonard saja yang dia ingat. Sedangkan ucapan sang mertua yang membangunkan dirinya tidak ingat sama sekali.
Eleanor membiarkan Leonard tertidur di karpet tebal yang terletak ruang keluarga. Mereka tadi ngobrol sambil bermain di atas karpet bersama nyonya Theresa dan anak-anak. Saat itulah Leonard yang kurang istirahat, merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.
*
*
Perang dingin itu berlangsung hingga beberapa hari. Walaupun Leonard sudah berulang kali menjelaskan, tetap saja Eleanor marah dan belum mau memaafkan.
Leonard pun memanggil kedua orang tuanya, untuk membantu menjelaskan pada Eleanor.
"Seandainya kamu melihat betapa besar rasa cintanya padamu. Mungkin kamu yang akan berterima kasih padanya. Berbagai usaha dilakukan agar kamu bangun. Hanya ancaman yang membangunkan kamu dari tidur panjangmu. Ternyata perjuangan cintanya masih diuji. Setelah kamu sadar, malah marah tidak jelas hanya karena masih mengingat ancaman itu."
"Tahukah kamu, ancaman itu keluar setelah dia frustasi dengan berbagai cara yang telah dilakukan. Dia sangat bahagia saat mengetahui kamu tersadar. Kamu tahu sendiri, bukan? Selama di rumah sakit bagaimana perlakuannya terhadapmu. Seharusnya itu menjadi pertimbanganmu sebelum menghukum anak kami!"
Nyonya Elisabeth sangat kecewa saat mendengar anaknya memohon bantuannya. Bantuan untuk menjelaskan pada menantunya, bahwa ancaman itu hanya sekedar saja. Bukan untuk direalisasikan.
__ADS_1
Nyonya Elisabeth dan tuan William meninggalkan rumah besar nan mewah itu, setelah tidak ada tanggapan apapun dari Eleanor.
Eleanor sangat bimbang mendengar kata-kata sang mertua. Terlihat sekali kekecewaan di mata nyonya Elisabeth dan tuan William. Sehingga Eleanor mengurung diri di kamar.
"Apakah aku salah? Aku hanya ingin suamiku tetap setia padaku. Aku tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali. Ada anak-anak yang harus aku jaga perasaannya..."
"Aku harus bagaimana? Aku hanya takut kalau Leonard akan kembali bermain perempuan seperti dulu lagi. Apakah aku terlalu egois?"
*
*
*
Sambil menunggu Eleanor dan Leonard up, silahkan mampir ke karya recehku yang lain ya. Tuhan, Izinkan Aku Bahagia ganti judul Senyum Shanum. Silahkan mampir dan tinggalkan jejaknya🤗
Aku juga bawa rekomendasi karya temenku nih, mampir ya.
__ADS_1