
Eleanor kembali membuka matanya saat merasakan ada yang menyentuh pundaknya. Posisi Eleanor saat ini tidur miring sembari menyusui baby Abraham. Bayi itu belum mau melepaskan sumber penghidupannya, setelah semalaman dia tidak mendapatkan.
Eleanor menggerakkan tangannya yang bebas untuk menggapai tangan orang yang menyentuh lengannya.
"Hanna! Kaukah itu?" ucap Eleanor pelan takut baby Abraham akan terbangun jika dirinya bersuara kuat.
"Ini aku!" sahut Leonard tegas.
Eleanor pun terkejut, hingga dia memaksa memutar kepalanya agar bisa melihat wajah orang yang baru saja menyahut pertanyaan darinya.
"Le... kamukah itu?" tanya Eleanor seraya melepaskan pu7ing dari mulut baby Abraham.
Baby Abraham yang sudah merasa kenyang pun sudah terlelap, sehingga dengan mudah melepaskan sumber penghidupannya. Eleanor menepuk bo*Kong baby Abraham sebelum akhirnya duduk bersandar di headboard ranjang.
"Le..." Eleanor tidak bisa berkata-kata melihat kondisi sang suami. Tangannya membekap mulut agar tangisnya tidak pecah. Walaupun begitu, air mata terus bercucuran mengalir membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Mereka memang saling bertukar kabar, akan tetapi Eleanor tidak tahu jika keadaan suaminya separah itu. Kedua kaki Leonard tidak bisa menopang berat tubuhnya lagi. Butuh waktu yang cukup lama untuk seorang Leonard Gladston untuk bisa kembali berjalan.
Melihat istrinya menangis, Leonard pun mengulurkan tangannya. Ingin rasanya dia mendekap erat tubuh sang istri dan menenangkan. Keadaan dirinya yang terbatas hanya bisa mengulurkan tangan, mengusap lembut lengan Eleanor.
"Sshh... jangan menangis lagi! Kasihan debaynya, nanti dia juga akan ikut bersedih. Kamu mau anak kita ikut bersedih, hmm?" ucap Leonard mencoba menenangkan sang istri.
Eleanor tersenyum, hatinya tersentuh dengan perlakuan Leonard yang belum pernah dia dapatkan selama ini. Tangisnya pun reda mendapatkan perlakuan lembut dari sang suami. Seperti mendapat mood booster, wajah Eleanor yang awalnya pucat tiba-tiba menjadi cerah dan tampak sehat.
Nyonya Theresa terbangun karena mendengar suara obrolan Eleanor dengan Leonard. Pengantin baru rasa lama itu asik bercengkrama tanpa menyadari ada yang memperhatikan mereka.
"Eleanor! Kenapa kamu ijinkan laki-laki cacat ini datang ke sini? Apa kamu tidak ingat bagaimana dia dulu memperlakukan kamu, hah?" bentak nyonya Theresa, matanya menatap tajam pada anak dan menantunya itu.
Tak lama kemudian seorang dokter dan beberapa perawat datang ke ruangan itu dengan membawa kursi roda.
"Permisi, saya akan memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke rumah sakit pusat," kata sang dokter sambil berjalan mendekati Eleanor yang terbaring di atas brankar.
__ADS_1
Dokter tersebut dengan sigap memeriksa dan menanyakan keluhan apa saja yang dirasakan oleh Eleanor. Setelah itu, perawat mendekatkan kursi roda pada brankar.
"Kalian mau bawa kemana anakku?" teriak nyonya Theresa.
Mendengar suara teriakan nyonya Theresa, Hanna langsung masuk dan mendekati baby Abraham, lalu menggendongnya.
Perawat itu tidak mengindahkan teriakan nyonya Theresa. Hanya dokter itu yang masih berdiri di sana.
"Pasien kami rujuk ke rumah sakit pusat, Nyonya. Ini semua demi kebaikan bersama," jelas sang dokter pada nyonya Theresa.
Semua orang meninggalkan nyonya Theresa sendiri di ruangan itu. Nyonya Theresa langsung menghubungi suaminya, sembari mengikuti langkah kaki orang-orang yang membawa pergi Eleanor.
"Robert! Kamu harus segera ke rumah sakit. Laki-laki kepa*rat itu datang membawa anak dan cucuku. Cepat ke sini, sekarang!" teriak nyonya Theresa dalam saluran telepon.
Eleanor dimasukkan ke dalam mobil ambulance, diikuti oleh Leonard dan seorang bodyguardnya. Sedangkan Hanna menggendong baby Abraham naik ke mobil milik Leonard. Dalam mobil yang ditumpangi Hanna juga didampingi oleh dua orang bodyguard.
__ADS_1
Nyonya Theresa masih menunggu kedatangan sang suami dengan tangis histeris.
"Kembalikan anakku!" teriak nyonya Theresa.