
"Tuan, sepertinya pihak kepolisian sudah menemukan tempat persembunyian Tuan Robert. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Tuan?" lapor George pada tuannya.
"Siapkan saja pengacara handal yang bisa memberikan pembelaan dan meringankan hukumannya!" perintah Leonard tegas.
"Kita tidak bisa melindungi Tuan Robert, walau bagaimanapun juga dia terbukti bersalah. Dua kali merencanakan pembunuhan, bukanlah kejahatan yang ringan. Kita tidak bisa melindungi dia. Sebaiknya siapkan pengacara!" imbuh Leonard sembari menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran.
"Baik, Tuan. Saya akan menghubungi pengacara terbaik untuk mendampingi Tuan Robert," jawab George sebelum undur diri.
Setelah asisten pribadi itu keluar dari ruangannya, Leonard tampak memejamkan mata sembari tangannya memijat pelan pelipis.
"Hhh... maafkan aku, Ele! Aku tidak bisa melindungi ayah dan ibumu," gumam Leonard lirih.
"Semoga saja hukumannya tidak terlalu berat," lanjut Leonard sembari mengambil posisi duduk tegak.
Leonard pun keluar dari ruang kerjanya, dia ingin menemui istri dan anak-anaknya. Dia ingin mengubur semua keinginan untuk melihat kehancuran sang mertua. Semua itu dilakukan demi melihat sang istri tersenyum bahagia.
*
*
Sementara itu di Maitland, tampak Robert berlari dari dermaga menuju tempat tinggalnya. Dia merasa seperti ada yang mengikutinya beberapa hari ini.
__ADS_1
"Theresa, sepertinya polisi sudah menemukan tempat persembunyian kita. Sebaiknya kemasi semua barang-barang penting. Satu jam lagi kita akan pergi dari Maitland," ucap tuan Robert
Theresa dengan patuh mengerjakan semua yang diperintahkan oleh sang suami. Dia bergegas memasukkan semua barang penting milik mereka ke dalam koper.
Tuan Robert pun menyusul istrinya ke dalam kamar. Dia ingin memastikan, bahwa semua barang penting milik mereka tidak ada yang ketinggalan.
"Bagaimana sudah masuk semua ke dalam koper?" tanya tuan Robert saat istrinya selesai mengemas barang-barang mereka dalam koper.
"Sudah," jawab nyonya Theresa sendu, dia sudah merasa nyaman di tempat tinggalnya yang sekarang.
"Baiklah, kita akan segera meninggalkan tempat ini. Begitu temanku datang membawa mobilnya," ucap tuan Robert menenangkan sang istri.
Di kediaman tuan Robert Winston, pasangan suami istri yang tak lagi muda itu gelisah menunggu jemputan.
Sepuluh menit menunggu kembali, akhirnya mobil yang mereka tumpangi datang. Tuan Robert dan nyonya Theresa pun bergegas naik ke dalam mobil. Polisi yang mengintai pun memilih mengikuti mobil yang ditumpangi oleh tuan Robert dan nyonya Theresa.
Polisi mengikuti kemana arah mobil di depannya melaju. Ternyata mobil itu memasuki hutan lindung. Polisi pun membunyikan sirine mobil, untuk mengejar mereka.
Mendengar suara sirine ternyata tidak membuat sopir yang mengemudikan mobil tersebut berhenti. Dia malah menambah kecepatan. Sehingga terjadilah aksi kejar-kejaran, antara tuan Robert dan pihak kepolisian.
Setelah beberapa kali memberi peringatan, tapi tidak kunjung diindahkan. Akhirnya pihak kepolisian mengambjl tindakan. Dengan kecepatan penuh mobil patwal itu, menghadang perjalanan tuan Robert.
__ADS_1
Sempat terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Tuan Robert tetap tidak mau mengaku siapa jati dirinya. Akan tetapi para polisi itu tentu saja sudah mengetahui siapa jati diri orang di depannya itu. Aksi saling tarik pun tak terelakkan lagi.
*
*
*
Mampir yuk ke karya temenku, jangan lupa tinggalkan jejak ya 🤗
Judul : JERATAN ISTRI YANG TERHINA
Napen Siti Fatimah
Kisah pahit harus dialami gadis berusia 20 tahun yang tak lain gadis itu bernama Putri Varelina. Gadis malang yang lebih memilih persahabatan ketimbang cinta yang nantinya akan menghancurkan ketiga sahabat itu.
Hinga akhirnya hidupnya hancur lebur setelah ia dinodai oleh mantan kekasihnya yang kini berstatus Suami dari sepupunya sendiri. Mampukah ia bertahan mempertahankan janin yang kini menjadi calon anak dari Suami sepupunya sendiri. Dan mampukah ia berjuang bertahan dari hinaan dan siksaan batin yang dilakukan laki-laki itu yang dengan teganya tidak Sudi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut.
Bagaikan tertimpa seribu tangga. Ia juga harus menerima kepahitan hidup gimana ia terjebak dalam sebuah pernikahan yang dimana Pria yang ia nikahi adalah Suami dari sahabat terbaiknya sendiri. Kehancuran, kecewakan hinga dendam membuat sahabatnya berbalik menjadi membencinya bertekad untuk menghancurkan kebahagiaannya. Akankah persahabatan mereka yang dulunya terbilang akur akan berubah menjadi dendam?"
__ADS_1