Love After Parting

Love After Parting
CSP 12


__ADS_3

Setelah melayangkan gugatan cerai dan mengirimkan bukti perselingkuhan Leonard, Eleanor pergi meninggalkan Melbourne. Keliling Asia untuk tempat bersembunyi. Namun sayangnya, di usia kehamilannya yang ke tujuh dia ingin sekali kembali. Keinginan yang sangat kuat akhirnya mengantarkan dirinya kembali ke Melbourne.


Sekarang Leonard ingin kembali menikahinya. Sungguh rasanya tidak bisa percaya. Dulu saat perusahaan ayah Eleanor dalam keadaan baik-baik saja, dia tidak dianggap keberadaannya. Kini perusahaan sang ayah sedang mengalami masalah, apakah dia tidak akan semakin disiksa?


Pikiran Eleanor berkecamuk dengan mata berkaca-kaca. Diam tak bergeming, itulah Eleanor saat ini.


Melihat hal itu, Leonard pun tersadar. Kesalahannya di masa lalu belum termaafkan. Sehingga dia pun bangkit dari duduknya dan pindah duduk di samping Eleanor. Leonard meraih jemari tangan Eleanor, lalu menggenggamnya.


"Maaf... hanya itu yang bisa aku katakan. Aku tahu kesalahanku di masa lalu begitu besar. Sulit bagi kamu untuk memaafkanku. Sekali lagi, aku minta maaf," ucap Leonard seraya menempelkan punggung tangan Eleanor di pipinya.


Leonard harus meyakinkan pada mantan istrinya itu jika ingin kembali bersama.


"Tolong pikirkan Abraham jika kamu terlalu fokus pada perusahaan. Pikirkan juga jika kamu fokus pada Abraham, bagaimana dengan perusahaan. Jika kita menikah nanti, kamu cukup fokus pada Abraham dan aku. Aku yang akan menghandle perusahaan. Aku tidak akan mengambil alih hak milik perusahaan. Perusahaan itu akan tetap hak milik keluargamu."


"Baby Abraham masih sangat membutuhkan kamu di sampingnya. Memang ada dua orang yang mengasuhnya, akan tetapi akan lebih baik jika seorang anak dekat dengan ibunya. Dengan wanita yang melahirkannya. Akan lebih baik lagi jika langsung menyusu pada ibunya dari pada memakai botol." ucap Leonard masih menggenggam tangan Eleanor.


Eleanor pun memikirkan apa yang telah diucapkan oleh sang mantan suami. Ingin rasanya dia egois, bersikeras untuk sendiri. Namun, dia tidak mungkin mengorbankan salah satu harta berharga demi keegoisannya.


"Boleh aku meminta waktu untuk memikirkan jawabannya?" tawar Eleanor.

__ADS_1


"Sudah tidak ada waktu lagi, Ele! Perusahaan membutuhkan suntikan dana dengan segera. Terlambat sedikit saja, perusahaan itu akan menjadi kenangan. Aku mohon, demi keluargamu dan anak kita," desak Leonard.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Eleanor mengangguk dengan ragu. Melihat anggukan dari mantan istrinya, Leonard langsung menarik Eleanor masuk dalam dekapannya.


"Terima kasih. Aku akan berusaha membahagiakan kalian. Aku akan membantu WGC bangkit lagi. Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan kalian," ucap Leonard sembari mengelus rambut Eleanor.


"Aku akan menghubungi George untuk menyiapkan pernikahan kita besok," lanjut Leonard seraya melepaskan pelukannya.


*


George sibuk mempersiapkan pernikahan bos-nya, urusan dengan WGC telah selesai sehari sebelumnya. Sedangkan Leonard dan Eleanor sibuk mencari baju yang akan mereka kenakan untuk besok. Tidak hanya untuk mereka berdua saja, baju untuk baby Abraham pun mereka sediakan.


Sesuai dengan yang terdaftar di kantor pencatatan sipil, mereka telah hadir setengah jam sebelum acara pernikahan dilangsungkan.


Pagi ini Eleanor memakai dress selutut dan berlengan sampai siku. Dress sederhana tapi tampak cantik dan elegan di tubuh mungilnya.


Setelah menandatangani beberapa berkas, mereka dinyatakan sah menjadi pasangan suami istri secara negara. Mereka berfoto berdua sebagai bukti mereka telah sah menjadi suami istri.


Pernikahan itu disaksikan oleh pengacara dan asisten Leonard, serta para pekerja di rumah Eleanor. Merry dan Hanna. Tidak lupa dengan baby Abraham di gendongan sang pengasuh.

__ADS_1


Mereka langsung menuju sebuah restoran begitu selesai dengan urusan di kantor pencatatan sipil. Acara makan bersama sebagai wujud sukacita atas pernikahan Leonard dan Eleanor.


"Maaf, Tuan. Untuk acara pemberkatan dan pesta pernikahan kapan dilaksanakan? Saya tidak sabar menunggu undangan dari Tuan dan Nona," tanya sang pengacara yang akhirnya mendapat tatapan tajam dari asisten pribadi Leonard.


"Tidak perlu menunggu! Belum tentu Tuan akan mengundangmu," sahut George dengan dingin, sehingga menciutkan nyali sang pengacara.


"George!"


"I-iya, Tuan."


"Diamlah! Jika kalian berdua tidak bisa diam sebaiknya pergi saja!" titah sang penguasa.


*


*


Maaf jika ada yang protes karena mengulang beberapa bab cerita di buku sebelumnya. Saya up lagi, karena ada beberapa reader baru yang belum baca buku Cinta Sendiri. Selain itu sengaja membuka kembali memory para readers bagaimana sikap Leonard dulu pada Eleanor.


Maaf jika saya mengecewakan πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2