Love After Parting

Love After Parting
LAP 23


__ADS_3

"Moommm... sakiiitttt..." rintih Eleanor.


"Bertahanlah, Ele! Tak lama lagi kita akan sampai," ujar nyonya Theresa mencoba menenangkan anaknya.


Sepuluh menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi memasuki area sebuah klinik kecil. Badan Eleanor sudah sangat lemas menahankan rasa sakitnya.


Klinik tersebut berada di pinggiran kota, tuan Robert sengaja memilih sebuah klinik kecil yang sepi. Hal ini ditujukan agar tidak ada yang mengenali mereka.


Eleanor langsung ditangani oleh seorang dokter jaga dan beberapa perawat. Kebetulan malam ini, ada dokter kandungan yang baru saja menolong orang melahirkan di klinik tersebut.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya nyonya Winston penuh kekhawatiran.


"Kondisinya kurang baik, janinnya lemah sekali. Pasien harus rawat inap untuk beberapa hari, hingga keadaannya stabil."


"Oh, iya Nyonya! Sebaiknya pasien menjalani bedrest selama satu bulan. Ini semua demi kebaikannya. Kondisi tubuh yang kurang sehat serta stress berat akan memicu kontraksi sehingga bayi akan lahir di usia yang masih sangat dini."


"Seandainya rawat jalan bagaimana, Dok?" sela tuan Robert Winston.


"Itu hanya saran dari saya, jika Nyonya dan Tuan memaksa untuk rawat jalan, kami tidak menjamin keselamatan pasien." Dokternya menjelaskan keadaan Eleanor pada tuan dan nyonya Winston.


"Demi keselamatan Ibu dan janinnya, lebih baik jika pasien rawat inap. Kalau perlu kami rujuk ke rumah sakit besar di kota," imbuh dokter lebih lanjut.


Tuan Robert dan nyonya Theresa saling pandang, keduanya saling meminta pendapat. Mana yang terbaik untuk anak mereka. Walaupun mereka tidak suka Eleanor rujuk kembali dengan Leonard, bukan berarti mereka menutup mata dengan keadaan sang anak. Apalagi saat ini Eleanor dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


*


*

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan keluarganya, Leonard nekat menyusul sang ayah dan orang-orang kepercayaannya. Leonard meminta pada asistennya untuk menyiapkan orang-orang pilihan untuk mendampinginya menghadapi tuan Robert.


Leonard menggunakan pesawat pribadinya menuju Maitland. Dia mendapat kabar jika saat ini anak istrinya dibawa ke sana. Dengan ditemani oleh orang-orang pilihan, Leonard bertolak dari Melbourne.


George dipercaya memegang kendali perusahaan seperti biasanya. Asisten pribadi itu sangat bisa diandalkan dalam mengurus beberapa perusahaan miliknya.


"Ele, Abrah... sebentar lagi kita akan bersama. Tunggu aku!" gumam Leonard penuh semangat.


"Tuan, silakan kenakan safety belt Anda. Pesawat sebentar lagi akan mendarat," ucap seorang pramugari mengingatkan tuannya.


Ucapan itu hanya dijawab dengan anggukan kepala saja.


Leonard segera memasang sabuk pengaman itu dan mengencangkannya. Rasanya sudah tidak sabar lagi bertemu anak dan istrinya. Dia tidak tahu jika saat ini sang istri dirawat di sebuah klinik di pinggir kota.


"Tuan!" sapa salah seorang yang ditugaskan untuk mencari informasi tentang anak dan istrinya. Selain itu dia juga membawa laporan tentang keadaan anak dan istrinya tersebut.


"Ada kabar apa hari ini?" tanya Leonard begitu sudah berada di dalam mobil.


"Kenapa Ele? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Leonard dengan dahi mengkerut dan alis saling bertaut.


"Nona sedang menjalani rawat inap di sebuah klinik kecil di pinggir kota, Tuan. Saya sudah check ke sana, ternyata benar pasien itu Nona. Dia harus menjalani rawat inap selama satu bulan. Nona tertekan selama disekap oleh Tuan Robert Winston. Dan itu sangat membahayakan janin dalam kandungan Eleanor." George menjelaskan penuh dengan hati-hati takut membuat tuannya khawatir.


"Percepat laju mobil ini! Kenapa tidak segera kamu beritahukan kepadaku kabar ini, hah?" teriak Leonard emosi.


*


*

__ADS_1


*


Hai semuanya, aku bawa rekomendasi lagi nih.


Judul : HASRAT CINTA PERTAMA


Nama pena : LYTIE


Blurb:


"Kita cerai!" ucap Dian sambil menyerahkan surat cerai yang sudah ditanda tangan olehnya ke Stefan.


"Kamu tidak perlu memberiku tunjangan dan semua uang ini kukembalikan padamu," lanjut Dian.


Dian membuka lebar tas koper dokumen yang berisi semua uang jajan yang diberikan oleh Stefan setiap bulan. Selama sebelas bulan ini Dian tidak pernah menggunakan satu rupiah pun.


Stefan mengambil pulpen dari atas meja dan menandatangani surat cerai itu tanpa ragu.


"Aku akan meninggalkan Mansion Bramasta," ujar Dian sambil berdiri dari atas kursi.


"Kenapa?" tanya Stefan sambil menatap tajam Dian.


"Belum satu tahun," batin Stefan.


"Karena hatimu bukan milikku. Aku mundur untuk merestui hubunganmu dan Gisel," jawab Dian sambil melangkahkan kaki meninggalkan Stefan.


Semua orang bersuka cita dengan kabar perceraian.  Dian hanyalah anak yatim piatu dan koki biasa, sangat tidak sepadan dengan Stefan, CEO muda Perusahaan Bramasta. Mereka semua tidak tahu Dian adalah pemilik Perusahaan Jayanata dan juga putri dari salah satu pengusaha sukses.

__ADS_1


Kecantikan, kecerdasan dan kehebatan Dian setelah bercerai membuat semua orang yang pernah menghinanya mati kutu. Bahkan Stefan baru menyadari dirinya sama sekali mengenal jelas siapa sebenarnya Dian, istri di atas kertas selama sebelas bulan ini.



__ADS_2