Love After Parting

Love After Parting
LAP 50


__ADS_3

Air mata Eleanor mengalir saat mendengar ancaman dari sang suami. Ingin rasanya dia berlari memeluk sang suami, apa daya badannya tidak bisa digerakkan. Bahkan matanya susah sekali terbuka, hanya air mata yang menandakan dirinya mendengar suara Leonard.


Leonard meninggalkan ruangan Eleanor, dia tidak tahu harus berbuat apa. Semuanya telah dia lakukan, namun sepertinya Eleanor masih enggan membuka mata. Jika ancamannya tadi tidak juga membawa hasil, dia rela melepaskan Eleanor pergi untuk selamanya.


Leonard membanting pintu ruangan itu, sehingga membuat detak jantung Eleanor berdetak sangat cepat. Sebelumnya detak jantung Eleanor sangat lemah.


Tangan Eleanor mulai bergerak perlahan, namun pergerakan itu tidak diketahui siapa pun. Saat ini Eleanor ditinggal seorang diri di ruang rawat inap, dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.


Tak lama kemudian nyonya Elisabeth masuk karena khawatir. Apa yang dilakukan Leonard tadi merusak barang ataupun alat medis di ruangan itu. Teriakan Leonard yang menggelegar membuat nyonya Elisabeth tidak bisa berpikir jernih.


Melihat air mata yang keluar dari mata menantunya, nyonya Elisabeth langsung menekan tombol untuk memanggil perawat.


Perawat dan seorang dokter masuk dan memeriksa keadaan Eleanor secara teliti.


"Pancing lagi pasien dengan kata-kata tadi. Sepertinya pasien sudah mulai merespon, terbukti dari detak jantung yang sudah mulai normal seperti orang sehat pada umumnya. Padahal tadi pagi detak jantungnya masih lemah. Usahakan terus pasien merespon kata-kata kalian. Hal ini akan memulihkan kesadarannya," saran sang dokter sebelum meninggalkan ruangan itu.


Nyonya Elisabeth pun membisikkan kata-kata yang tadi diucapkan oleh Leonard.


"Ele, bangunlah! Jika kamu tidak ingin Leonard berpaling. Laki-laki tidak bisa menahan keinginannya terlalu lama. Oleh karena itu, sebelum Leonard mendapat penggantimu, cepatlah bangun. Aku pun tidak ingin punya menantu yang terbujur tidak bisa melakukan apapun."

__ADS_1


Tangan Eleanor kembali bergerak, hal itu dilihat oleh nyonya Elisabeth.


"Ayo bangun, Ele! Kamu tidak ingin anak-anakmu diasuh wanita lain 'kan?" Nyonya Elisabeth gencar memanasi Eleanor.


Jahat memang, tapi ini adalah jalan terakhir yang mereka lakukan untuk memulihkan kesadaran Eleanor.


Nyonya Theresa yang kebetulan mendengar ancaman besannya pun terbakar emosi.


"Apa kamu bilang tadi? Apa kamu ingin membuang anakku karena kondisinya yang seperti ini? Dasar tidak punya hati, anak dan orang tua sama saja!" cerca nyonya Theresa dengan emosi yang meluap-luap.


Kemarahan nyonya Theresa langsung membuat Eleanor membuka matanya perlahan. Eleanor akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.


"Terima kasih Tuhan, engkau telah mengembalikan Eleanor pada kami." Nyonya Elisabeth berulang kali mengucap syukur atas sadarnya Eleanor.


Sementara itu nyonya Theresa seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Keributan yang terjadi ternyata membangunkan sang anak. Mereka terlalu larut dalam kebahagiaan sehingga lupa menghubungi dokter ataupun menawarkan Eleanor minum.


Leonard tiba-tiba masuk dan melihat istrinya diapit oleh ibu dan mertuanya. Mata Eleanor dalam keadaan terbuka.


"Ele..." Air mata Leonard luruh melihat istrinya sudah membuka mata walaupun hanya terdiam.

__ADS_1


"Mom, biarkan Ele minum dulu!" ucap Leonard kemudian sembari membawa segelas air putih. Dengan telaten, Leonard memberi minum istrinya. Setelah itu dia memanggil dokter untuk melepas alat medis yang menempel di tubuh sang istri.


*


*


Eleanor sudah pulang ke rumah setelah seminggu tersadar dari koma. Kaki Eleanor belum bisa berjalan karena terlalu lama tidur.


"Apa betul kamu akan menikah lagi?" tanya Eleanor tiba-tiba.


Saat ini mereka sedang duduk-duduk di ruang keluarga, mengawasi anak-anak mereka yang sedang bermain.


"Hah? Siapa yang bilang, Honey?" Leonard terkejut mendengar pertanyaan sang istri.


"Kamu! Juga nyonya Elisabeth. Kamu akan mencari penggantiku karena aku terlalu lama koma," jawab Eleanor santai.


Leonard pun terdiam mengingat-ingat kapan dia mengucapkan itu. Setelah ingat, dia hanya tersenyum menunjukkan gigi putihnya.


"Ahh... itu tidak betul! Itu hanya bercanda, agar kamu terbangun dari tidur panjangmu. Jangan pikirkan itu lagi! Ok?"

__ADS_1


__ADS_2