Love After Parting

Love After Parting
LAP 26


__ADS_3

"Bo*doh! Kenapa tidak kamu tahan mereka tadi? Untuk apa aku menempatkan kamu di sini? Kalau hanya untuk melihat laki-laki ca*cat itu membawa kabur anak kita!" amuk tuan Robert pada istrinya.


"Kamu yang bo*doh! Kalau aku melawan mereka, sudah pasti saat ini aku sudah terbujur kaku di sini. Mana mungkin aku bisa melawan mereka? Aku seorang perempuan, sedangkan mereka laki-laki dengan jumlah yang banyak! Apa kamu pikir dia itu bo*doh?"


"Dia membawa para bodyguard untuk membawa Eleanor dan anaknya pergi dari sini. Tidak hanya tukang pukul, bahkan dia membawa dokter dan perawat dari rumah sakitnya. Bagaimana aku bisa melawan mereka, hah? Pikir, Robert! Jangan hanya bisa marah saja pandaimu!" sahut nyonya Theresa tidak mau disalahkan.


Sebenarnya dia ingin mempertahankan anaknya, akan tetapi melihat orang-orang yang mengelilingi Leonard membuat nyalinya menciut seketika.


Pasangan suami istri itu saling berdebat dan menyalahkan, tanpa ada yang mau mengalah sedikit pun. Tanpa mereka sadari, anak dan cucu mereka telah jauh meninggalkan Maitland, Adelaide menuju Melbourne.


Sementara itu, Leonard dan Eleanor beserta yang lainnya sudah berada di atas pesawat pribadi milik tuan William Gladston. Leonard tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Eleanor, sesekali sebelah tangannya mengusap perut sang istri.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Leonard sembari mengusap lembut perut sang istri. Eleanor hanya menjawab dengan anggukan dan senyum manis.


Saat ini keduanya sedang berada di dalam sebuah bilik menyerupai kamar. Eleanor duduk bersandar di headboard, sedangkan Leonard masih duduk di atas kursi roda menghadap ke ranjang.


"Syukurlah, aku takut terjadi sesuatu pada kalian. Saat mendengar kamu harus menjalani rawat inap dan bedrest selama satu bulan. Rasanya aku sebagai laki-laki sangat tidak berguna. Aku hanya seorang laki-laki ca*cat yang selalu menyusahkan," ucap Leonard sendu.


Eleanor tahu, suaminya itu pasti merasa tersinggung dengan kata-kata ibunya saat di rumah sakit tadi.


"Jangan seperti itu! Kamu pasti sembuh, kamu harus semangat untuk sembuh. Ada aku dan anak-anak yang membutuhkanmu..."

__ADS_1


"Apa aku masih bisa berjalan lagi? Lihatlah kedua kakiku, sangat susah digerakkan. Untuk berpindah tempat saja aku harus diangkat orang lain," potong Leonard sendu, ada gurat kesedihan di wajahnya.


"Kamu harus yakin bahwa kamu bisa berjalan lagi. Bisa mengajak anak-anak bermain bersama di taman seperti waktu itu," ujar Eleanor memberi semangat pada sang suami.


"Aku takut kamu akan meninggalkan aku sendiri," ucap Leonard dengan suara semakin melemah hampir tidak terdengar. Matanya sudah mulai berembun, mungkin tangisnya sebentar lagi akan pecah. Tetapi, dia tahan agar air mata itu tidak terjatuh.


"Kami tidak akan meninggalkanmu. Kami akan selalu berada di sampingmu. Mendukungmu agar cepat sembuh. Kita adalah satu. Tidak ada yang dapat memisahkan kita kecuali maut," jawab Eleanor sambil menggenggam tangan sang suami.


Eleanor mencondongkan tubuhnya mendekati sang suami agar bisa memeluknya.


"Kami akan tetap di sini, di sisimu. Karena tempat kami di sisimu. Kita mulai semua dari awal. Aku yakin pernikahan kita akan berhasil nantinya," ucap Eleanor menepuk pelan bahu suaminya.


"Terima kasih sudah mau menerima aku dengan segala kekuranganku. Aku akan berusaha membuka hati dan belajar mencintaimu," sahut Leonard dengan tangan mengusap lembut kepala sang istri.


*


*


Tuan Robert masih berada di Maitland. Dia tidak tahu harus bersembunyi di mana saat ini. Wajahnya sudah tersebar di mana-mana. Tuan Robert dan nyonya Theresa akhirnya menyamar dan membuat identitas palsu, agar bebas dari kejaran polisi.


"Robert, sampai kapan kita harus bersembunyi seperti ini? Uang kita sebentar lagi akan habis. Cepatlah cari pekerjaan! Aku tidak mau hidup susah," ucap nyonya Theresa.

__ADS_1


Saat ini mereka tinggal di sebuah desa nelayan. Mereka menempati rumah kosong yang tidak jauh dari pantai. Para bodyguard sudah tidak tampak lagi di sekitar mereka.


*


*


*


Hai semuanya, othor mau promo nih. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya🤗


Judul: APA SALAHKU TUAN?


Napen: Muda Anna


Blurb:


Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan, tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. Perlakuan suami sirinya selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya.


Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya, pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan.


Sayangnya takdir mempertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al?

__ADS_1



__ADS_2