Love After Parting

Love After Parting
Bonchap 1


__ADS_3

"Sayang, kamu sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Leo pada sang istri, Leonard mendekati sang istri kemudian meletakkan punggung tangannya ke dahi sang istri. Mengecek suhu tubuh.


"Tidak demam, tapi kenapa pucat sekali. Apa jangan-jangan?" gumam Leonard, kemudian melompat turun dari ranjang seketika.


Leonard keluar kamar kemudian menuju ruang kerjanya. Dia mengambil peralatan medis yang dia simpan di ruangan itu. Leonard segera kembali ke kamar untuk memeriksa wanita yang akan memberinya anak lagi.


Pagi ini wajah Eleanor terlihat sangat pucat, dia juga tidak beranjak dari peraduannya. Waktu sudah menunjukkan jam delapan pagi, akan tetapi Eleanor masih setia meringkuk di balik selimut tebalnya.


Sebulan sudah berlalu sejak mereka menghadiri undangan pesta pernikahan Tuan Oxy dan Anna Grace. Akhir-akhir ini Eleanor lebih manja dari pada biasanya. Bahkan dia sangat cemburu jika Leonard bekerja.


Leonard pun ingat jika bulan ini wanita yang mendampinginya dalam suka dan duka itu, belum mendapatkan masa periodenya. Leonard sangat yakin, jika kado ulang tahun hampir dua bulan yang lalu, telah menjadi Leonard junior atau Eleanor junior. Leonard sangat mengharapkan kehadiran seorang bayi perempuan, untuk melengkapi kebahagiaannya.


"Honey, ayo kita tes urine dulu. Dugaan sementara ini, ada Leonard junior di sini," ucap Leonard sambil mengusap perut rata sang istri, setelah memeriksa keadaan Eleanor.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Eleanor pun dengan patuh mengikuti perintah sang suami. Eleanor juga curia karena masa periodenya sudah terlambat lama sekali. Ditambah lagi dia sangat sensitif akhir-akhir ini.


Lima menit kemudian...


"Honey, kenapa dikunci pintu kamar mandinya? Aku juga ingin melihat hasil tespek itu. Ele, buka pintu!" teriak Leonard sembari menggedor pintu kamar mandi.


Eleanor tampak kesal di dalam kamar mandi, memandang alat tes kehamilan yang menunjukkan garis dua. Kedua anaknya belum juga berusia lima tahun, kenapa dia hamil lagi. Seharusnya mereka mendapatkan kasih sayang darinya secara penuh.


"Setiap tahun disuruh melahirkan, sudah seperti kucing saja aku ini," gumam Eleanor lirih.


"Kamu jahat, Le! Kenapa kamu buat aku hamil lagi? Padahal kamu tahu, berapa umur Alexi saat ini. Lebih kasihan lagi Abraham, di usianya yang baru tiga tahun memiliki dua orang adik!" teriak Eleanor sambil memukuli dada bidang sang suami.


Eleanor sangat marah mengetahui dia hamil lagi, di saat usia anak-anaknya masih kecil. Tidak hanya marah pada sang suami, dalam hati kecilnya dia sangat kasihan melihat sang buah hati yang lebih banyak bersama pengasuh.

__ADS_1


Eleanor terus memukul dengan membabi buta hingga lemas. Leonard sengaja membiarkan dadanya menjadi samsak tinju sang istri. Lama kelamaan pukulan itu melemah, berganti kepala Eleanor yang bersandar di dada bidang nan nyaman itu.


"Anak itu rejeki dari Tuhan, Honey. Kita seharusnya bersyukur karena kita diberikan lagi rejeki itu. Lihatlah di luar sana, banyak pasangan yang menginginkan memiliki keturunan tetapi tidak kunjung diberi. Sedangkan kita diberi kemudahan mendapatkan keturunan kenapa harus kesal?"


"Kita tidak perlu melakukan program hamil yang memakan biaya yang banyak. Seharusnya kita bersyukur dan bahagia menyambut kehadiran buah hati kita. Setelah ini lahir, aku janji akan memakai pengaman. Kita atur jarak kelahiran anak kita selanjutnya," jawab Leonard dengan penjelasan yang panjang.


Awalnya Eleanor diam mendengarkan ucapan sang suami dan membenarkan ucapan itu. Namun, begitu mendengar kelahiran anak selanjutnya. Eleanor meninju perut Leonard dengan sangat keras.


Bughh...


"Ahhh.... sakit, Honey! Kenapa kamu melakukan KDRT padaku? Apa salahku, Honey?" jerit Leonard kesakitan, sepertinya pukulan Eleanor kali ini menggunakan segenap tenaganya.


"Ini saja belum lahir, kenapa kamu bahas kelahiran anak selanjutnya? Kamu mau jadikan aku alat ternak penerusmu, hah!" jawab Eleanor dengan teriakan karena kesal.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Leonard langsung membungkam mulut sang istri dengan bibirnya. Awalnya hanya luma*Tan biasa, lama-lama menjadi menuntut. Bahkan Eleanor tidak segan untuk membalasnya. Akhirnya terjadilah pagi yang panas menyambut kehadiran penerus Gladston...


__ADS_2