
“ Na pergi dulu, Oma! Love you..!”
“Iya sayang.. Eh tempat minum mu ini jangan lupa! Dokumenmu juga masih di sofa depan, cium Oma duluuu..!!”
“Eh, iya.. Hahaha! Love you Oma! Gatau deh apa jadinya Na tanpa Oma,” kata Naava sambil memberikan kecupan kecil ke wajah Oma Widya.
Hari ini adalah hari pertama Naava masuk di Semester akhir kuliah nya. Naava Kencana, anak dari alm. dr. Galih Kencana dan almh dr. Rachma Suseno, kedua orang tuanya meninggal sejak Ia berumur 5 tahun disebabkan kecelakaan mobil sewaktu bertugas di Yogyakarta dahulu. Semenjak saat itu, Ia tinggal dan dibesarkan oleh Oma Widya- Ibu dari Ayahnya, dibesarkan oleh cinta sampai tumbuh dewasa seperti sekarang.
Ya, Naava tumbuh menjadi gadis yang cantik, rambut panjang yang tergerai kepirang-pirangan, turunan dari ayahnya, mata coklat ditambah bulu mata lentik khasnya, juga kulit putih bersih yang membuatnya menjadi idola dimata setiap kaum adam yang melihatnya.
Saat ini Naava mengikuti jejak ayah dan ibunya, mengambil jurusan kedokteran di Universitas Indonesia dan telah lulus dua tahun yang lalu. Saat ini Ia sedang melanjutkan kuliah sebagai Dokter Spesialis Anestesi, cita-citanya dari dahulu.
Hanya satu yang menjadi impian Naava sedari kecil. Bisa menjadi dokter seperti ayah dan ibunya, menolong orang lain yang sakit, mengabdikan dirinya kepada orang miskin yang tidak dapat membiayai diri untuk berobat, dan yang terutama, memberi kebahagian sebanyak-banyak yang bisa dia beri kepada Oma Widya.
Ya, Oma Widya. Satu-satunya orang didunia Ini yang Ia punya. Yang mengurus dirinya sedari kecil, rela memberikan potongan kue terakhir hanya untuknya, menyisikan uang belanja bulanan untuk mainannya, hingga sekarang menghantarkan dia sedikit lagi kepuncak kesuksesan sebagai seorang Dokter Spesialis. Seberharga itu Oma Widya dimata seorang Naava. Begitupun sebaliknya.
“ Na pergi dulu ya Oma sayang, jangan lupa minum obatnya. Nanti, mau dibeliin burjo atau pie susu?”
“Yang mana kamu inget aja, deh.. Paling nanti sampe rumah bilangnya Yah, lupa oma”, ujar Oma sambil menirukan gaya bicara Naava
“Hehe, Oma doain dong. Moga-moga kali ini ingat..”
“ Kamu mah selalu Oma doain..”
“Hehe, berarti Oma memang beneran Oma aku. Buktinya aku selalu didoain..”
“ Iya, Oma doain biar pikunnya cepat sembuh!”
“Yah, Oma kirain doain biar dapat cowo cakep hahahahaha…..,” Ucap Naava
“Dasar! Udah cepetan! Bisnya bentar lagi lewat! Ntar kamu ketinggalan lagi”
“Siap bosssss!”
***
__ADS_1
Naava mengambil dokumen yang tergeletak di sofa dan langsung buru-buru mengikat tali sepatu dan menutup pagar rumah. Ia sudah tidak sabar untuk memulai kembali kuliahnya setelah libur semester lalu. Ia sudah rindu dengan buku-buku kedokterannya, rindu suasana ruang kelas, rindu teman-teman se-gang, hah, rindu semuanya intinya.
“Awas kalian berdua yah, bakal aku peluk sepanjang hari! Gatau apa kangennya setengah mati!,” Ucap Naava dalam hati.
Betapa Ia rindu pada kedua sahabatnya, Alia dan Gina, yang selama musim liburan semester menghabiskan waktu mereka dengan sangat-teramat baik, tidak seperti Naava yang hanya dirumah sepanjang hari, kerjanya hanya membaca , mendengar musik, dan tidur.
Naava, Alia dan Gina bersahabat sejak kecil. Gina yang orangtuanya merupakan seorang pemilik perusahaan Kosmetik terkenal diIndonesia. Ia adalah putri semata wayang dikeluarganya yang bergelimangan harta.
Gina seorang yang cantik, centil tapi cerewet, perfectionist, dan yang terpenting kemanapun Ia pergi wajib memakai parfum Chanel favoritnya.
Bahkan, sakin parahnya, Ia pernah sekali tidak mau pergi ke rumah sakit saat perutnya sakit- dan untuk kalian ketahui, setelah adegan pemaksaan dia dibawa kerumah sakit, ternyata dia harus dioperasi saat itu juga karena usus buntu- hanya karna stock Parfumnya habis, padahal disitu Ia sedang sekarat.
Katanya Ia akan malu bila diperiksa dokter jika dalam keadaan tidak wangi. Hah, ada-ada saja memang si Gina. Sakin ingin tampil sempurnanya dia, walau hampir mati sekalipun.
Gina yang memiliki orangtua kaya raya, kali ini memilih untuk menghabiskan liburannya dengan keliling Eropa, menjalani pusat-pusat berbelanja pakaian dengan brand ternama, memborong parfum Chanel segala edisi-karena memang itu favoritnya, dan hunting accesorries yang belum muncul di Indonesia. Pernah sekali Naava mendapat Video Call darinya hanya untuk menawarkan parfum untuk oleh-oleh.
“Naaa! Gue lagi di Prancis, lo mau parfum yang mana, biar gue beliin?,” saut Gina sayup-sayup dari Whatsapp
“Eh, Gi! Gimana kabar lo disana? Kangen banget tau sama lo,”
“Buru-buru banget sih lo. Gue baru aja mau kangen-kangenan. Lo disana udah jalan kemana aja?”
“L'Usine Mode & Maison, Marques Avenue Outlet Talange France, Nailloux Fashion Outlet Village France, banyak deh Na! Pokoknya suatu saat lo harus kesini juga..”
“Kok lo nyebutinnya tempat belanja semua? Ga ada gitu tempat wisata yang bagus disana?”
“Ada dong. Cuma guenya aja yang males, kesini kan Cuma buat belanja doang. Hahahaha..”
“Asem lu! Beliin apa aja deh, terserah. Gue ga ngerti yang gitu-gitu,” timpal Naava kesal
“Thanks by the way, beib. Pulang sehat-sehat ya lo Gi..,” Naava meluapkan rasa rindunya lagi.
Begitu cerita singkat tentang Gina.
Berbeda jauh dengan Alia, yang Ibunya seorang Penyanyi terkenal, bintang papan atas, menghabiskan waktu liburan dengan menemani sang Ibu konser tour keliling Indonesia.
__ADS_1
Ayah dan Ibu Alia sudah bercerai sejak Ia masih berusia 15 tahun. Saat itu ia sempat ingin bunuh diri ketika mendapati ayahnya selingkuh didalam rumah, bercumbu berduaan dengan sahabat dekat ibunya yang sudah ia anggap juga seperti ibunya sendiri.
Hancurnya hati Alia seakan bisa Ia obati dengan meminum sebotol racun serangga yang ia minum diam-diam di gedung olahraga lantai 5 sekolahnya. Untung Naava dan Gina mendapatinya, dan dengan segera membawanya kerumah sakit. Saat itu Alia sempat tidak sadarkan diri sebulan lamanya.
Alia sebenarnya adalah sosok yang hangat, mengayomi, meski dirinya sendiri juga yang paling rapuh diantara mereka bertiga. Naava dan Gina lah yang selama ini terus menjadi support systemnya, dikala ia terpuruk, begitu juga disaat-saat paling bahagianya.
“Li, lo lagi apa?”
“Baru mau cek out dari hotel, Na.. Besok Ibu manggung di Makassar. Kenapa?”
“Gila, kangen parah gue sama lo. Enak banget kalian, jalan-jalan terus”
“Yah namanya juga cair duit”
“Enak, udah dapet duit, bisa jalan-jalan lagi, dibayarin makan lagi sama promotor”
“Sini lo ikut nyanyi makanya kalo mau!”
“Mau! Tapi merekanya yang gamau denger, katanya suaraku terlalu merdu..”
“Ia terlalu merdu kalo di mute. Hahaha..”
“Kok lo jahat sih Li. Gue jadi laper..”
“Lah apa hubungannya coba gue jahat sama lo jadi laper?”
“Yah ga ada, gue laper aja tapi mager kemana-mana. Hahaha..”
“Yauda, bye. Gue mau take off dulu,” tutup Alia.
Dua jam kemudian ada abang-abang Grab yang nganter Pizza seabrek-abrek.
“Kata kaka yang ngirim buat mba Naa, biar ga bosen dirumah aja,”
Ah, Alia! Manis banget sih..
__ADS_1