
Naava terbangun dari istirahatnya yang panjang. Ia masih merasa pusing memikirkan percakapan antara Oma, Gale dan dirinya di dapur tadi. Begitu banyak pertanyaan yang timbul dalam dirinya tentang Gale.
Mengapa Ia bisa tiba-tiba setuju untuk dijodohkan dengan seorang Naava?
“Sayang, kamu sudah baikan?,” Tanya Oma lembut pada Naava
“Hmm, sedikit Oma,” jawab Naava lemah
“Apa Oma terlalu terburu-buru dengan keputusan ini, sayang?,” tanya Oma pelan pada Naava
“Maaf, Oma tidak bermaksud membuat kamu seperti ini. Jika kamu keberatan, Oma bisa sampaikan untuk perjodohan ini dibatalkan saja, sayang,” kata Oma sambil membelai halus rambut Naava.
Naava perlahan mengangkat tubuhnya, lalu duduk ditempat tidur, Ia membelai halus tangan Oma yang dingin.
“Boleh Oma jujur pada Naa?,” kata Naava pada Oma
“Ya,sayang.. Tentang apa?,” kata Oma pada Naava
“Kenapa semua serba terburu-buru? Kenapa Oma merencanakan itu tanpa bertanya dahulu pada Naa? Ini tidak seperti Oma yang biasa,” kata Naava kepada Oma yang menunduk.
Oma terdiam sejenak, tubuhnya bergetar, tak lama Ia meneteskan air mata.
“Apa Naa menyinggung perasaan Oma? Ah, Naava minta maaf, Oma. Harusnya Naa tak perlu bertanya, Harusnya Naa ikut saja apa kata Oma. Hanya Oma paling tahu yang terbaik untuk Naa dari dulu,” ucap Naava sambil mencium tangan Oma Widya. Naava tidak tahu harus berbuat apa, Ia hanya tidak mau melihat Oma sedih.
“Sayang, sepertinya Oma harus memberitahu kamu tentang ini. Oma baru periksa kedokter beberapa bulan lalu. Dada Oma belakangan sering terasa sesak secara tiba-tiba, kata mereka Oma mengalami penyempitan di daerah jantung,” kata Oma pelan, terasa tubuhnya bergetar saat berkata-kata. Naava shock langsung memeluk erat Oma, serasa tidak ingin kehilangan
“Yang terlintas dipikiran Oma hanya kamu, sayang. Siapa yang akan menemanimu kalau Oma sudah..,”
“Stop, Oma. Tolong, tolong jangan bilang apapun lagi. Oma harus sehat, Oma harus bahagia, Naa akan bahagia jika Oma bahagia,” seru Naava, air mata sudah mengalir deras dari kedua matanya. Ia peluk kembali Oma dengan kuat, tak pernah terlintas dipikiran Naava bagaimana Ia bisa hidup tanpa Oma.
“Hanya satu permintaan Oma, cobalah membuka hatimu kembali, sayang. Oma sudah mengenal Gale sejak kecil, orangtuanya sudah seperti anak Oma sendiri. Merekalah sahabat ayah dan ibumu dahulu, mereka jugalah yang membantu Oma untuk membiayai kehidupan kita, sekolahmu, semua pemberian Ayah dan Ibu Gale,” kata Oma, Naava terisak membayangkan segala ucapan Oma. Ia rindu akan Ayah dan Ibunya, satu-satunya yang Ia inginkan saat ini hanya membuat bahagia Oma Widya
“Naa akan coba, Oma. Naa akan mencoba membuka hati Naa. Entah itu dengan Gale, atau dengan siapapun. Kalau Naa bahagia, Oma juga ikut bahagia kan?,” Tanya Naava pada Oma
__ADS_1
“Pasti sayang,” seru Oma sambil mengusap kepala Naava dengan lembut
“Ayo, kita makan malam. Kamu pasti sudah lapar kan?,” Tanya Oma pada Naava
“Iya, Oma,” jawab Naava
***
Hari ini hari Minggu, jadwal Naava berolahraga berlari keliling komplek. Ia bangun lebih pagi hari itu, memakai pakaian olahraga, dan Voila! Ia sungguh terkejut saat keluar dari kamar, berpapasan dengan Gale
“Kamu mau kemana?,” Tanya Gale sambil mengarakan matanya ke ujung kepala hingga kaki Naava
“Olahraga pagi. Baik buat kesehatan kita. Tiap minggu aku keliling komplek, mau ikut denganku?,” ajak Naava
“Tidak. Untuk apa olahraga, jika kau masih sering makan sembarangan,” jawab Gale singkat
“Kalau tidak mau yasudah! Ga usah berkomentar yang lain!,” kata Naava kesal
“Kamu pergi sendiri?,” Tanya Gale
“Iya,”
“Ya berarti kamu orang gilanya, haha,” kata Naava
“HEH! Apa maksudmu!,” kata Gale mengejar Naava yang sudah duluan berlari keluar dari rumah
“Daaaaaahhhhh! Bye!,” teriak Naava sambil mencibir dari lantai satu
Hampir setengah jam sudah mereka berlari kecil mengelilingi komplek. Mereka berlari seperti sepasang suami istri yang sedang berolahraga, Naava yang sesekali menjahili Gale, memberikan lelucon-lelucon garing, tertawa lepas melihat wajah Gale yang kesal akan tingkah usil Naava. Namun, masih setengah perjalanan, tiba-tiba hujan deras turun membasahi bumi.
Buru-buru Naava dan Gale mencari tempat berteduh, kebetulan di sudut perumahan ada minimarket, bisa menjadi tempat berteduh sementara, pikir Naava.
“Gila ya, padahal tadi cuaca cerah,” kata Naava sambil mengadahkan tangannya ke langit seperti menampung air hujan
__ADS_1
“Iya,” jawab Gale singkat. Ia mencoba mencari tempat untuk duduk mereka berdua
“Dari cerah, tiba-tiba hujan. Aneh, kaya kamu,” kata Naava spontan
“Maksud kamu?”
“Iya, terkadang aku merasa kamu yang galak, bisa tiba-tiba hangat, lalu berubah dingin kembali, aneh,” kata Naava sambil tersenyum
“Kamu juga,aneh. Suka tersenyum sendiri,” balas Gale pada Naava
“Berarti kita jodoh, sama-sama aneh, haha,” kata Naava yang tiba-tiba dia sadar akan lelucon yang barusan Ia buat membuat Gale menatapnya serius
“May be?,” kata Gale sambil mengangkat bahu
“Kamu tahu? Aku sangat benci hujan,” kata Naava tiba-tiba , mengalihkan pembicaraan mereka yang kaku
“Aneh, kenapa?”
“Wangi tanah saat hujan membuatku selalu ingat akan perpisahan dengan Ayah dan Ibuku. Setiap hujan, aku rindu mereka, tau kan rasanya rindu yang tak tersampaikan?,” Tanya Naava pada Gale
“Hmm,” gumam Gale tak tahu harus berkata apa
“Hujan juga mengingatkanku saat putus dengan Danang. Hatiku benar-benar hancur saat itu, waktu itu hujan sedan turun dan aku rindu orangtuaku, disaat itu juga hubunganku dan Danang harus berakhir,” kata Naava tersenyum
“Kamu masih mencintai, dia?,” Tanya Gale
“Aku sendiri tidak tahu, tapi hatiku masih sakit setiap berbicara tentangnya,” jawab Naava memegangi tubuhnya yang menggigil kedinginan
“Itu berarti kau masih menyimpan rasa. Saranku, kalau kau belum bisa menyelesaikan kisah masa lalumu, jangan coba memulai kisah dengan yang lain. Akan menyakitkan buat seseorang yang baru jika hanya dijadikan pelampiasan,” kata Gale nanar. Naava terdiam. Apa maksudnya kisah yang lain itu adalah kisah dengannya?
Gale membuka bajunya, menyelimutinya ke Naava yang kelihatan sangat kedinginan.
“Ayo, kita pulang, hujan sudah reda,” kata Gale sembari berjalan menelusuri jalanan
__ADS_1
***