
"Oma," kata Gale sambil mendatangi Oma
"Ha, sayang! Kamu dari mana? Naava sedang dirawat dirumah sakit," jawab Oma kaget, sontak langsung membersihkan tangannya, dan mematikan sejenak kompor gas yang sedang menyala untuk berbicara pada Gale.
Oma yang ikut heran melihat perilaku Gale belakangan ini, sering pulang larut malam, ingin mendengarkan penjelasan dari Gale sendiri.
"Saya baru dari sana, Oma," kata Gale sambil tertunduk
"Oh, kamu sudah jumpa Naava?," tanya Oma
"Iya, Oma. Sepertinya dia marah pada saya," jawab Gale pelan
"Loh, kenapa marah? Naava itu hanya sedang sakit saja, sayang. Orang sakit biasanya lebih sensitif..," tanya Oma sambil merangkul Gale
"Tidak, ini murni salah saya. Saya datang dan membentak Naa," kata Gale pada Oma
"Kenapa bisa begitu Gale?," tanya Oma
"Saya kesal, Naa memilih Danang untuk menjaganya ketimbang saya,"
"Oh, mungkin Naava punya pertimbangan sendiri, sayang. Ia tahu kamu juga sedang lelah, tak mau merepotkan kamu," jawab Oma pada Gale
"Tapi saya kan tunangannya, Oma. Apa Danang lebih baik dalam menjaga Naa dibanding saya?," tanya Gale pelan. Tiba-tiba Ia merasa tidak percaya diri sekarang
"Sayang, coba kenal Naa lebih dekat. Dia sangat perhatian terhadap kamu, bahkan Ia lebih perhatian kepada kamu dibanding dirinya sendiri. Ia sayang padamu. Ia tak mau kamu repot mengurus dirinya..," jawab Oma lembut. Gale sontak mengangkat kepalanya, dan mengusap wajahnya seperti sangat menyesal dengan apa yang barusan dikatakan Oma ini
"Oma, saya harus mengaku sesuatu pada Oma. Tapi plis, jangan beritahu Naava,"
"Tentang apa itu?,"
"Saya pergi ke Yogya beberapa hari ini, Oma," jawab Gale memberanikan diri untuk berkata sejujurnya pada Oma. Oma terdiam mendengar Gale dengan seksama.
"Saya pergi menjumpai Ajeng, mantan kekasih saya, dia sedang hancur, tunangannya pergi meninggalkannya, dan saya rasa dia sangat membutuhkan saya," kata Gale lagi
"Ya, Oma paham, sayang," jawab Oma lembut. Oma yang sudah tahu mengenai Ajeng dari kedua orangtua Gale sebelumnya.
"Saya merasa bersalah Oma. Kalau saja saya tidak pergi, pasti Naa tidak akan sakit seperti sekarang ini. Harusnya minggu-minggu ini, saya ikut membantu dia menghadapi ujian semester. Ini semua salah saya," kata Gale pada Oma. Oma hanya tersenyum mendengar perkataan Gale
"Gale, sayang. Coba tanya hati kecilmu. Apa persaan bersalahmu semata-mata, karena tidak bisa membantu Naava menghadapi ujian, atau perasaan bersalah karena sudah meninggalkan Naava untuk Ajeng yang di Yogya?," tanya Oma pelan sambil mengelus tangan Gale. Gale tertunduk mendengar pertanyaan Oma
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Oma. Entah kenapa, saya merasa telah menghianati Naava," jawab Gale pelan
"Sebelumnya saya tidak terlalu mementingkan perjodohan ini, saya tidak menganggapnya terlalu serius. Saya pikir, tidak masalah jika suatu saat perjodohan ini dibatalkan saja, apabila saya bisa kembali bersama dengan Ajeng. Tapi kali ini aneh, selama di Yogya, pikiran saya hanya terpusat pada Naava, apa yang sedang dilakukannya, dia sedang bersama siapa.. Saya tidak mengerti dengan perasaan saya sendiri," jawab Gale menerangkan perasaannya sendiri yang tidak dapat ia mengerti.
"It's oke sayang. Semua butuh waktu. Kamu butuh waktu untu memahami perasaanmu sendiri. Apa kamu masih mencintai Ajeng, ataupun Apa kamu sudah mulai mencintai Naava. Oma tak bisa menjawabnya. Waktu yang akan menunjukkan, kepada siapa sebenarnya hatimu berlabuh," jawab Oma lembut
"Tetapi, saat kamu tahu jawabnya, lepaskanlah seseorang yang tidak dapat kamu cintai, jangan membuatnya jatuh cinta padamu terlalu dalam. Akan sakit baginya untuk bisa menerima..," jawab Oma sambil memegang lembut tangan Gale
"Iya, Oma. Terima kasih sudah mendengar, Oma," kata Gale sambil memeluk Oma
"Iya, sayang. Ayo, sekarang kamu mandi. Besok pagi-pagi kamu temani Oma ke rumah sakit, kita jemput Naava pulang, ya. Kamu tidak mau keduluan Danang kan?." kata Oma lembut sambil bercanda
"Siap, Oma.." jawab Gale sambil bersiap-siap untuk segera mandi dan beristirahat.
***
Gale memikirkan matang-matang perkataan Oma.
'Apa benar Naava yang sudah mulai menyayanginya?'
'Tapi mengapa Ia memilih Danang?'
'Tapi, bagaimana keadaannya ya?'
'Apa dia sudah sehat?'
'Apa Danang menjaganya dengan baik?'
Pikiran itu terus muncul di kepala Gale, membuatnya sulit untuk tidur. Ia mencari cara untuk menghilangkan rasa khawatirnya pada Naava ini. Ia keluar dari kamarnya, mendatangi kamar disebelahnya, kamar Naava. Kamar Naava tampak tak seperti biasanya. Lampu kamarnya mati, yang ada hanya sepi. Betapa Ia rindu suara musik jazz yang sering Naava putar setiap malam, betapa Ia rindu Naava yang suka mengusiknya setiap malam, menanyakan hal-hal yang tidak penting seperti gosip-gosip artis, atau menceritakan kembali cerita princess dari disney yang ditontonnya, atau sekedar mendengar lelucon-lelucon garing khas Naava.
Ia ambil ponsel dari kantongnya.
Lima panggilan tak terjawab : Ajeng
Gale menghiraukan notifikasi itu. Ia mencari sebuah kontak di handphonenya. Ini dia. Apa dia sudah tidur? Apa aku mengganggu istirahatnya? Aku tak bisa tidur jika tidak tahu kabar tentangnya
Tuut.. Tuut.. Tuut..
Nada panggilan terdengar dari handphone Gale. Sebenarnya Gale juga sudah psimis, Naava tidak akan mengangkat telfonnya, pasti dia sudah tidur atau dia masih marah? Tapi tiba-tiba ujung telfon disana tersambung
__ADS_1
"Halo," jawab Naava pelan, seperti tersentak dari tidurnya. Gale tidak menjawab apapun, dia hanya diam mendengar suara Naava. Sangat rindu Ia mendengar suara garing ini.
"Halo, Gale? Kenapa tidak dijawab?," kata Naava lagi pelan
"Naa, sudah tidur?," tanya Gale dingin. Ia sebenarnya gengsi untuk menanyakan kabar Naava, hanya dia betul-betul rindu saat itu
"Iya, aku baru tertidur tadi. Ada apa Gal? Tumben kamu menelfon malam-malam,"
"Hmm.. Aku minta maaf,"
"Soal yang tadi? Iya, aku tahu kau sedang emosi. Aku juga minta maaf tidak langsung memberitahu kalau aku sakit,"
"Kamu sudah makan?"
"Sudah tadi. Danang yang membantu menyuapi," jawab Naava pelan.
Mendengar itu terasa panas dan sesak dalam dada Gale, yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. 'Tenaaaang, tahan amarahmu, Gale, tahaaaan' Kata Gale dalam hati
"Oh bagus, kamu sudah baikan sekarang?," tanya Gale cepat-cepat, tidak mau membuang waktu dengan pembahasan Danang
"Sudah, kata dokter, besok aku sudah bisa pulang,"
"Saya dan Oma akan menjemput kamu besok,"
"Terimakasih sudah mau direpotkan, Gal,"
"Aku tidak suka kamu berkata seperti itu, kamu tunanganku, sudah kewajibanku seharusnya," jawab Gale membuat Naava terdiam.
Selama sepuluh menit tidak ada pembicaraan antara mereka berdua. Mereka hanya diam satu sama lain, namun telfon masih terus berjalan.
"I miss you, here. Kamu harus cepat sembuh.." kata Gale pelan. Tidak ada jawaban dari Naava. Naava kaget mendengar kata-kata ini meluncur dari mulut Gale.
Antara senang, dan terkejut perasaan Naava saat ini, mendengar kemajuan Gale yang mulai bisa bersikap lembut padanya dan terus terang dengan perasaannya.
"Ya, besok kamu jemput aku dari sini, ya..," jawab Naava pelan sambil tersenyum
"Iya. Kamu istirahat sekarang, good nite,"
"Nite," jawab Naava mematikan ponselnya. Malam itu, sehabis ia mematikan ponselnya, Ia merasa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Membuat rasa geli dan bahagia bercampur aduk saat ini. Sungguh pencapaian yang luar biasa, Gale dapat menyatakan perasaannya malam itu
__ADS_1
Dasar Pria Aneh, pikir Naava dalam hati. Ia tertidur ditemani senyuman di wajahnya.