Love And Medicine

Love And Medicine
Teman Kecil


__ADS_3

"Handan, Ana, setiap Ibu mengingat kalian, Ibu pasti teringat akan mereka, anak-anak Ibu yang sudah pergi menduluani Ibu," kata Oma sambil memeluk Ayah dan Ibu Gale sesampainya dirumah Gale dikota Yogyakarta. Ia teringat pada putri dan menantunya saat berjumpa kembali dengan mereka, yang merupakan sahabat dekat Ayah dan Ibu Gale sejak lama.


Ya, disinilah mereka berada saat ini, Oma dan Naava. Karena tragedi percobaan bunuh diri yang dilakukan Ajeng kemarin, yang membuatnya harus dirawat dirumah sakit, Ibu Gale memutuskan untuk mengundang Oma dan Naava untuk datang ke Yogyakarta. Ia bermaksud untuk mengenal Naava lebih dekat, calon menantunya itu. Sekaligus, Ia secara tidak langsung ingin memberitahu Naava, tentang kondisi Ajeng saat ini, agar Naava tidak salah memahami maksud dan tujuan Gale pulang ke Yogyakarta. Ibu Gale tidak ingin Naava berpikiran yang aneh-aneh dan salah sangka tentang hubungan Gale dan Ajeng saat ini. Ibu Gale ingin meyakinkan hati Naava bahwa mereka berdua sudah tidak terkait hubungan apa-apa lagi, Gale hanya ingin membantu Ajeng keluar dari keterpurukannya saat ini, dan murni hanya sebatas teman semata.


"Sayang, sini peluk ibu dulu. Ibu adalah Ibu Gale. Haduh, wajahmu persis Ibumu, cantik tenan.. Betapa ibu rindu dengan beliau," kata Ibu Gale membuka tangannya seperti ingin memeluk. Naava saat itu tanpa sungkan sungkan langsung memeluk Ibu Gale, Ia mendekap Naava dengan hangat. Sudah lama tidak Naava rasakan lagi pelukan dari sosok seorang Ibu, kali ini Ia mendapatkannya kembali.


Sosok Ibu Gale yang hangat, membuat Naava bisa merasakan kasih seorang Ibu yang tidak pernah lagi Ia dapatkan sejak kecil. Gale beruntung mendapatkan Ibu yang sangat sayang akan dirinya. 'Semoga jika aku menjadi istri Gale kelak, aku bisa memberikan kasih sayang yang sama seperti yang Ibu berikan pada Gale,' pikir Naava dalam hati sambil tersenyum memeluk Ibu.


"Terima kasih tante, tante sudah baik banget pada Naa dan Oma," kata Naava lembut


"Panggil Ibu saja, sayang. Ibu kan nanti jadi Ibu mertuamu juga, toh, ndok? haha..," kata Ibu Gale lembut sambil bercanda pada Naava.


"Iya, Naava sudah harus terbiasa memanggil Ayah dan Ibu pada kami berdua. Kita kan sudah akan menjadi keluarga," sambung Ayah Gale dengan suara beratnya itu.


"Baik, ayah, ibu," jawab Naava sambil tersenyum kecil.


"Oiya, bagaimana kondisi Ibu belakangan ini? Masih sering terasa sesak, bu?," tanya Ayah Gale pada Oma sambil memegang tangannya


"Tidak terlalu sering, Dan. Hanya Ibu belakangan sedikit lebih cepat lelah," jawab Oma


"Ibu harus tetap menjaga kesehatan, ya. Jangan terlalu cape, dan jangan lupa minum obat teratur," kata Ayah lagi


"Memang begini rasanya punya dokter pribadi, selalu ada yang mengawasi setiap waktu, sudah seperti polisi saja, haha," kata Oma pada Ayah Gale, mengundang gelak tawa seluruh orang yang ada diruang tamu itu, membuat suasana semakin nyaman bagi Naava. Mungkin ini rasanya punya keluarga yang lengkap, pikir Naava dalam hati.


Sebahagia ini rasanya, ada Ibu yang lembut dan penuh kasih sayang, Ayah yang tegas, namun penuh perhatian, juga Oma yang penyayang dan selalu ada untuk Naava, semuanya berkumpul dalam canda tawa, sungguh bahagia perasaan Naava saat ini. Ingin rasanya tinggal lebih lama disini, ujar Naava dalam hati.


"Oiya, Naa.. Ibu ingin menunjukkan sesuatu pada kamu. Ayo, ikut Ibu, sayang," ajak Ibu yang langsung menggandeng tangan Naava. Ia menuntun Naava ke lantai dua rumah yang besar itu. Ia membuka salah satu pintu kamar, didalam kamar itu terasa sangat sejuk. Bantal dan Sprei yang tersusun sangat rapi, buku-buku kedokteran tertata rapi dirak-rak buku, serta ada beberapa foto-foto terpajang didinding kamar itu.


"Ini kamar Gale.. Kamu tahu? Dia bisa menghabiskan seharian waktunya hanya untuk membaca dan menulis dikamar ini, Naa. Ayo, sini duduk," kata Ibu Gale menepuk tempat tidur, mengisyaratkan Naava untuk segera duduk disampingnya. Naava yang masih takjub karena terkagum akan kerapian kamar seorang lelaki itu segera duduk, sambil tetap memandangi foto-foto yang terpajang didinding-dinding kamar.

__ADS_1


"Ini foto-foto Gale sewaktu Ia kecil dulu. Lihat, ini dia sewaktu bermain ayunan! Kamu tahu sayang, Gale itu anaknya pendiam sedari kecil. Ia sangat susah untuk mendapatkan teman. Anak-anak lain tidak mau mengajaknya bermain, karena sikapnya yang pendiam itu," kata Ibu tersenyum sambil menunjukkan beberapa foto-foto lama Gale.


"Gale kecil tampan, ya, bu?," kata Naava tersenyum sambil menikmati kenangan-kenangan masa kecil Gale melalui foto.


"Iya, dia sangat tampan dari kecil, sayang. Hanya Ia suka jutek pada orang, makanya gadis-gadis jera mendekatinya haha," kata Ibu sambil tertawa


"Ini siapa, bu? Cantik sekali..," tanya Naava pada Ibu. Ia menunjuk ke foto Gale dan seorang anak perempuan, sedang duduk sambil menikmati es krim.


"Itu Ajeng, sayang. Dia juga yang akan Ibu ceritakan pada Naava," jawab Ibu pelan sambil tersenyum


"Ajeng adalah satu-satunya anak yang mau bermain dengan Gale. Disaat semua anak tidak menyukai Gale, Ajeng malah hampir setiap hari datang untuk sekedar mengajak Gale bermain. Ia tidak perduli, kalau-kalau Gale suka membentaknya, Ia malah makin sering datang dan mengajaknya bercanda. Semakin hari Gale semakin nyaman dengan Ajeng, perhatian Ajeng pada Gale membuatnya sangat bergantung pada Ajeng," jelas Ibu pada Naava yang dengan diam menyimak penjelasan Ibu.


"Mereka berdua berkomitmen untuk menjadi sepasang kekasih,sampai akhirnya, ya kamu sudah tahu ceritanya kan? Ajeng dijodohkan oleh ayah dan ibunya. Namun, ternyata tunangannya itu berselingkuh dan menghamili orang lain," jelas Ibu pada Naava


"Ah, kasihan sekali Ajeng, bu. Naava tidak tahu bagaimana rasanya jika berada diposisi Ajeng," kata Naava terkejut dengan apa yang disampaikan Ibu.


"Dia tidak punya teman cerita lagi, sayang. Gale belakangan sibuk di Jakarta, Ia tidak punya tempat bertukar pikiran. Sehingga dia mengambil jalan pintas untuk keluar dari ini semua..,"


"Ia mencoba bunuh diri, Ia lompat dari lantai dua kamarnya. Syukurnya Ia masih tertolong, dan sekarang dibawa kerumah sakit," kata Ibu


"Tidak mungkin, bu," jawab Naava sambil menangis. Ia tentu dapat membayangkan sulitnya posisi Ajeng saat ini.


"Untuk itulah Gale pulang kesini. Ia mencoba untuk memperbaiki psikologi Ajeng, sayang. Kamu jangan khawatir ya, Ia hanya mencoba menolong Ajeng. Bukan untuk kembali kepadanya,"


"Naa paham,bu. Naa mengerti. Jika Naa dalam posisi Ajeng, orang yang paling Naa butuhkan pasti Gale," ucap Naava


"Ibu tahu, Naa pasti kecewa Gale masih sering menjumpai Ajeng. Tapi yakinlah, tempat dihati Gale hanya untuk Naa saja. Tempat Ajeng dihatinya sudah tergantikan oleh Naava. Ibu yakin itu..,"


"Iya, bu,"

__ADS_1


"Lihat saja ini, kemeja ini," kata ibu sambil menunjukkan kemeja putih kotor pada Naava


"Apa ini bu?" tanya Naava


"Ini kemeja pertama yang mendapat kenang-kenangan dari kamu. Kecap botol.. Ingat? Gale tidak mau ini dicuci, Ia mau menyimpannya, katanya lukisan di kemeja ini kamu yang bikin. Harus disimpan sebagai kenang-kenangan," kata Ibu sambil tersenyum


"Ha.. Itu Naa yang tidak sengaja menumpahkan kecap ke kemeja Gale, bu. Naa ngga menyangka, Gale menyimpannya," kata Naava pada Ibu. Masih jelas diingatan Naava, betapa bencinya Gale padanya saat itu. Tetapi, kenyataan dibelakang berbeda. Ia malah menyimpan kemeja ini rapat-rapat. Sungguh Gale yang tidak bisa tertebak.


"Nah, ibu yakin kamu sudah mengerti posisi Gale saat ini. Tidak perlu ada yang diragukan, kan?," kata Ibu sambil membelai rambut Naava.


"Ibu, boleh tidak Naava datang menjenguk Ajeng? Naava ingin memberi semangat padanya," kata Naava pada Ibu


"Tentu boleh, sayang. Mang Adi yang akan mengantar kamu nanti sore, ya?," kata Ibu


"Terimakasih ya, bu," kata Naava sambil memeluk Ibu Gale. Ia merasa sangat lega akan semua penjelasan yang Ia terima dari Ibu Gale. Setidaknya dia sudah ada petunjuk tentang bagaimana perasaan Gale kepada dirinya selama ini.


****


Perasaan Naava begitu kacau saat melihat Gale mencium Ajeng tadi. Ia tak kuasa menahan rasa kecewa dalam dirinya. Baru saja Ia mendengar, betapa Ajeng ingin Gale kembali kekehidupannya. Meski belum ada jawaban apapun dari Gale sendiri.


"Mang, kita pulang sekarang," kata Naava sambil berderai air mata.


'Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini'


'Baru saja aku mendapat petunjuk tentang perasaan Gale padaku, namun ini kenyataan yang harus kuhadapi'


'Aku tak tega melihat Ajeng yang sangat butuh Gale'


'Tapi aku sudah terlanjur mencintai Gale'

__ADS_1


'Sungguh aku tak kuat melihat mereka harus berpisah karena aku'


Ujar Naava dalam hati, malam itu pikirannya penuh kebimbangan. Haruskah Ia memutuskan perjodohan ini atau tetap bertahan untuk terus bersama Gale?


__ADS_2