Love And Medicine

Love And Medicine
Rasa Bersalah


__ADS_3

-TIK TOK TIK TOK-


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Hanya ada suara jarum jam dirumah sakit, yang memecah keheningan malam hari ini. Diruang ICU, terlihat Gale yang dari tadi mondar-mandir didepan pintu, sesekali Ia mengecek jam ditangannya, sesekali juga Ia mengusap-usap wajahnya, dari sana kelihatan rasa takut, cemas dan khawatir ada di dalam dirinya. Tampilannya sedikit kacau malam ini, tidak seperti Ia biasanya yang rapi, dan wangi. Sekarang, rambutnya yang berantakan, kemeja yang keluar asal-asalah, dengan tangan yang digulung, membuatnya kelihatan sangat kacau.


Sudah dua malam ia menunggu Ajeng di ruang ICU, sejak tiba di Yogyakarta dua hari yang lalu. Ia setia menunggu disana sampai-sampai dia lupa makan, mandi, dan lainnya.


Ia begitu khawatir dengan kondisi Ajeng, terlintas dibenakknya ini semua pasti tidak akan terjadi jika dia lebih sering mendengar keluh kesah Ajeng di telfon. Jika saja Ia mengangkat telfon malam itu, jika Ia lebih banyak menyisihkan waktu untuk menghibur Ajeng yang sedang frustasi ditinggal tunangannya, pasti Ajeng tidak akan bertindak sangat jauh seperti sekarang ini.


Ajeng yang belakangan ini sangat rapuh perasaannya, tak kuasa menahan kesedihannya sendiri. Ia tak punya teman untuk berkeluh kesah, untuk bercerita tentang rasa sedih dirinya karena patah hati setelah dicampakkan begitu saja oleh tunangannya yang sangat kurang ajar itu.


Disisi lain, jauh didalam lubuk hati Ajeng, Ia masih sangat mencintai Gale, Ia yang ingin kembali kepelukan Gale, karena itulah satu-satunya tempat dimana hatinya berada, dimana hatinya merasa aman dan nyaman, terpaksa Ia harus menahan diri untuk tidak sering-sering menghubungi Gale, karena setahu Ajeng, sejak pertemuan mereka terakhir di Belmondo, Gale sudah memiliki Naava, calon pendamping hidupnya.


Berkali-kali belakangan ini Ajeng yang mencoba menelfon Gale, sekedar ingin meluapkan rasa sepi dan sendirinya, Ia berharap Gale lah yang akan menumbuhkan semangat, rasa percaya diri, dan dapat mengembalikan kegembiraannya kembali. Namun, Ajeng tidak mendapat respon yang baik dari Gale sendiri, tidak seperti apa yang diharapkannya. Telfonnya jarang diangkat, bahkan sering kali Ia kesulitan menghubunginya karena handphone Gale sedang dalam keadaan mati.


Sungguh kali ini Ia berada diposisi yang sangat sulit, bahkan ibunya sendiri tidak dapat dijadikannya tempat untuk bersandar. Ibunya yang terus memaksa Ajeng untuk memperbaiki hubungan dengan memaafkan pria kurang ajar yang sudah menghamili anak orang itu. Ajeng sangat benci Robi, sangat kecewa dengan Ibu dan Ayahnya sendiri, Ia juga benci terhadap dirinya sendiri yang memutuskan hubungan dengan Gale dulu, Ia benci tidak bisa melawan dan mengambil keputusan untuk kebahagiaannya sendiri.


Ia yang dalam keadaan kalut, memutuskan untuk lompat dari jendela kamarnya waktu tengah malam, pikirnya singkat saat itu, untuk apa hidup lagi, jika tidak ada satu orang pun yang bisa mengerti dirinya. Untuk apa hidup jika seluruh hidupnya akan dihabiskan dengan penuh tekanan, menikah dengan pria tak bertanggungjawab! Untuk apa hidup jika Ia tidak bisa menikah dengan orang yang sangat Ia cintai, bahkan melihatnya menikah dengan orang lain. Ajeng sudah tak sanggup, Ia lompat dari lantai dua, pada malam itu, syukurnya segera diketahui oleh para abdi-abdi (penjaga keraton) yang jaga pada malam itu. Ajeng segera dilarikan kerumah sakit, dan di ICU ini lah sekarang Ia berada.


***


Sudah berjam-jam tidak ada yang keluar dari ruangan ICU itu. Gale yang sangat letih, menyandarkan badannya di pintu ruangan ICU dengan wajah tertunduk. Disampingnya duduk juga seorang wanita bule, paruh baya yang juga sedang cemas menunggu dikursi tunggu, Ia bersandar pada bahu lelaki sebelahnya, air mata tidak henti-hentinya jatuh dari kedua bola matanya itu, Ia menangis terus hingga sesegukan beberapa kali. Ya, dia adalah ibu kandung Ajeng. Ayahnya yang duduk disebelah Ibunya, hanya mengelus-elus pundaknya, sesekali menyeka air matanya, dan memeluknya.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, jika terjadi kenapa-kenapa dengan Ajeng!! Ini semua salahku!!! Kenapa aku mengenalkan dia dengan lelaki kurang ajar itu! Dia tidak lebih dari sampah!!," kata Ibu Ajeng kepada suaminya dengan penuh kekecewaan dan kemarahan. Sementara air mata terus mengalir, terlihat di pipinya yang basah oleh air mata. Terlihat betul penyesalan terhadap dirinya sendiri, karena sudah mengenalkan Ajeng pada Robi, lelaki yang sudah menipu putrinya itu.


"Kamu harus tenang! Semua akan baik-baik saja, bu. Dokter sedang berjuang untuk Ajeng, kita harus berdoa terus," kata Ayah Ajeng pada istrinya itu.


Sementara mereka berdua saling menguatkan satu dengan yang lainnya, Gale lebih memilih untuk tetap setia menunggu didepan pintu operasi, kali-kali dokter atau suster keluar dari ruangan itu, dia bisa segera mendapat kabar lebih dulu, pikirnya. Rasa takut yang ada dalam diri Gale sungguh-sungguh membuatnya seperti orang linglung.


"Keluarga Ajeng?," kata Dokter yang keluar dari ruang ICU tiba-tiba


"Saya!! Bagaimana, dok?," kata Gale merespon cepat kepada Dokter yang baru saja bertanya


"Kabar gembira, keadaan Ajeng sudah semakin membaik, pak. Ia sudah mulai siuman dan sudah dapat membuka matanya. Ia juga sempat memanggil beberapa nama secara terus menerus, dari tadi. Itu menandakan kondisi kepalanya yang sudah mulai membaik, pendarahan dikepalanya juga sudah berhenti," ucap Dokter kepada Gale


"Maaf, Pak. Untuk sementara biar kami merawatnya lebih dulu. Sampai kondisinya benar-benar baik, baru boleh menemui orang lain. Saya takut, pendarahan kepalanya masih berlanjut lagi, jika diajak berbicara dan berpikir terlalu keras. Kondisi psikisnya juga masih parah," jawab dokter kembali


"Baik dok, saya mengerti," Ujar Gale pada dokter itu.


"Oiya, Ajeng terus menerus menyebut nama seseorang dari tadi.Dia menyebut nama Ga... Gale.. Kalau saya tidak salah. Apa itu Bapak?," tanya Dokter kepada Gale


"Iya, dok. Itu saya, saya kekasih Ajeng," jawab Gale


"Sepertinya Ajeng sangat membutuhkan anda disaat-saat seperti ini, pak. Saya rasa, dua hari kedepan, Ia sudah bisa pindah keruangan rawat inap biasa. Pendarahannya mungkin akan cepat membaik, tapi tidak otomatis bisa menyembuhkan psikisnya. Sepertinya Ia mengalami duka yang mendalam, dan saya rasa bapak sangat bisa membantu kami untuk memperbaiki semangat dan kondisi kesehatan pikirannya. Pikiran yang sehat membuat badan pulih lebih cepat, pak," kata Dokter sambil menepuk punggung Gale

__ADS_1


"Iya, dok. Terimakasih banyak..," kata Gale lagi pada dokter yang segera pergi meninggalkan dirinya menelusuri lorong dirumah sakit itu.


***


Wajah Ibu Ajeng yang mulai sumringah, setelah mendengar apa kata dokter, segera memeluk Gale kuat.


"Ibu minta maaf, Gale. Ibu minta maaf kepada kalian berdua, tidak seharusnya Ibu memisahkan kalian," seru Ibunda Ajeng pada Gale sambil menangis memeluknya


"Jangan bilang begitu, bu. Semua sudah ada jalannya. Ini sudah takdir Gusti Allah pada kami berdua," jawab Gale pelan sambil mengelus pundak Ibunda Ajeng


"Saya manusia jahat. Saya tidak punya perasaan, saya layak mendapat hukuman," kata Ibunda Gale lagi


"Ibu, jangan berkata-kata lagi seperti itu. Yang penting kita lakukan saat ini hanya berdoa untuk kesembuhan Ajeng," kata Gale pada Ibunda Ajeng


"Ibu mohon, Gale. Ibu mohon, jangan tinggalkan Ajeng..," kata Ibunda Gale memelas pada Gale


Gale hanya terdiam. Ia dalam kondisi yang sulit saat ini, Ia yang masih sangat khawatir atas kondisi Ajeng, namun Ia juga harus tahu diri, Ia sudah berjanji pada untuk dijodohkan pada Naava yang Ia tahu, pasti sekarang sedang sibuk memikirkan dirinya.


'Mana yang harus kupilih'


pikir Gale dalam hati

__ADS_1


__ADS_2