
"Sejak kapan dia tinggal disana?," tanya Danang pada Naava. Membuyarkan lamunan Naava yang sedang melihat jalanan dari kaca jendela mobil Danang
"Oh, Gale? Udah dua hari..," jawab Naava tanpa melihat sedikitpun ke arah lawan bicaranya itu
"Terus, dia tinggal di rumah kamu?," tanya Danang lagi. Dari suaranya bertanya, tampak dia sedang takut akan kehadiran Gale di rumah Naava meski hanya dalam beberapa hari ini saja
"Iya, sebulan," jawab Naava singkat.
"Mana boleh seperti itu! Merepotkan saja. Aku akan bilang papa, untuk menyiapkan tempat tinggal selama dia mengajar disini. Jadi ngga perlu tinggal dirumah kamu," kata Danang buru-buru
"Ngga usah, Oma sudah setuju dia tinggal disini," jawab Naava lagi, sambil menoleh ke arah Danang
"Naa, plis, kamu harus hati-hati dengan dia. Dia itu player . Banyak cewe yang sudah jadi korbannya. Dikampus kita juga banyak yang tergila-gila sama dia. Kamu jangan mau kemakan omongan dia," kata Danang khawatir gadis yang masih Ia anggap kekasihnya itu berpaling darinya
"Berarti kalian berdua sama aja kan? Kamu gausah khawatir, dia juga bukan tipe aku," jawab Naava kesal, Ia menangkap sinyal kekhawatiran Danang kepadanya
"Naa.. Soal yang kemaren, aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf Naa, malam itu aku diajak Doni ke cafe tempat dia manggung. Aku mabuk, dan ga sadar akan apa yang aku lakuin. Plis kasih aku kesempatan kedua, sayang," kata Danang memelas kembali
"Terimakasih sudah jemput hari ini, mulai besok, kamu ga perlu repot-repot lagi seperti hari ini, Nang..," kata Naava kepada Danang di dalam mobil miliknya. Dibalas dengan diam oleh Danang yang tidak mau memperpanjang keributan diantara mereka
Naava sedang dalam keadaan bimbang. Danang orang yang Ia sayangi selama 4 tahun ini, sungguh membuat kesalahan yang besar kepadanya. Naava memang tidak bisa seutuhnya melupakan seluruh empat tahun yang Ia jalani selama ini dengan Danang. Sungguh empat tahun yang sangat istimewa dan bahagia.
Begitu jelas diingatannya, hari pertama Ia masuk kuliah, Naava begitu digemari oleh senior-senior pria di fakultas kedokteran kala itu. Banyak kakak kelas wanita yang cemburu, merasa tersaingi dan mencoba mengusik Naava dengan menebarkan fitnah-fitnah keji tentang dirinya. Seminggu lamanya Ia tidak masuk kuliah, merasa frustasi dengan kata-kata yang beredar di lingkungan kampusnya itu. Ia merasa stress harus kembali menjalani hari-hari di kampusnya sendiri.
Namun, disaat fitnah-fitnah beredar itu, ada seseorang yang datang setiap hari, tidak peduli tentang apa kata orang tentang dirinya, datang setiap hari kerumahnya hanya untuk mengantar cokelat dan bunga, menanyakan kabar Naava, dan memberikan lelucon-lelucon garing untuk menghiburnya. Ya, dia adalah Danang.
Pria berkulit putih, tampan, yang menjadi Idola di angkatannya kala itu, dan juga anak seorang dekan Fakultas Kedokteran. Sosok Danang yang hangat, humble, dan sangat menghargai wanita sungguh susah untuk dilupakan oleh seorang Naava. Tak bisa dibayangkan perjuangan Danang untuk mendapatkan Naava. Ia bahkan dengan rela menunggu Naava mengerjakan laporannya sampai larut malam, mengantar Naava mengejar dosen kesana kemari agar Naava bisa mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan Spesialis Anestesinya ini.
Disaat Naava mendapat omongan yang tak baik dari seluruh mahasiswa di kampusnya, Danang yang tidak menghiraukan hal itu sama sekali malah bersikap santai.
Pernah sekali, Ia mengantri selama 5 jam hanya untuk mendapatkan tiket band The Gingger, favorit Naava. Saat itu Naava sedang sakit, dan Danang hadir dengan menunjukkan tiket itu dihadapan Naava, sontak membangkitkan semangat Naava untuk sehat kembali.
"Kamu harus sehat sayang, biar kita bisa nonton bareng, ya," kata Danang sambil membelai halus kepala Naava. Padahal Naava tahu, Danang bukan tipe orang yang suka berdiri menonton konser musik berjam-jam. Ia lebih gemar menonton film ataupun sekedar membaca buku.
__ADS_1
"Aku gatau gimana bilangnya ke kamu. Aku senang banget. Im loss of words, baby. Makasih banyak, sayang.. ," kata Naava pada Danang kala itu.
Begitu sayangnya Ia terhadap Naava.
Padahal kalau dipikir-pikir, begitu banyak mahasiswi yang menggilai sosok Danang, yang berparas tampan dan terkenal pintar itu. Danang tak menghiraukan satupun dari mereka, tatapannya hanya terpaku pada Naava seorang.
Rasa hangatnya pada Naava, bahkan pada Oma yang sudah Ia anggap seperti Omanya sendiri, membuat Naava akan susah untuk melupakan segala kenangan bersama Danang. Hanya karena suatu pelanggaran yang Ia anggap tak termaafkan, Naava merasa harus kuat untuk berpisah dengan Danang.
***
"I'm still loving you. No matter what," kata Danang akhirnya memecah keheningan mereka berdua
"Terima kasih, sudah mengantarku," kata Naava buru-buru keluar dari mobil. Ia tak sadar air mata yang jatuh membasahi pipinya, langsung buru-buru disekanya. Sungguh Ia masih tak ingin berpisah dari Danang, namun kenyataan tak berkata demikian.
Naava berjalan cepat meninggalkan Danang, lalu pergi memasuki kelas yang sudah ramai dihadiri para mahasiswa.
"Naa! Sini!," kata Alia melambaikan tangan ke arah Naava. Alia dan Gina sudah mengambil tempat duduk untuk mereka bertiga.
"Kenapa kelas belum mulai?," kata Naava pada Gina
"I dont know," Kata Naava sambil mengangkat bahu. Ia heran, pergi kemana si manusia aneh itu. Padahal, tadi Gale yang sibuk ingin mengantarnya ke kampus.
***
Gina, Alia, dan Naava memilih untuk nongkrong di salah satu tempat ngopi di PIM alias Pondok Indah Mall. Mereka memilih untuk menghabiskan hari ini dengan ngobrol santai, mumpung kelas ditiadakan karena Gale berhalangan hadir.
"Eh, liat deh di akun Instagram kampus, kita kan mau ngadain perayaan ulang tahun Fakultas Kedokteran. Diadakan di Hotel Sahid! Katanya sih bakalan diadakan Malam Keakraban dan Sejuta Pesona yang acaranya ada pesta dansa," kata Gina sembari menunjukkan foto di IG handphonenya
"Dan wajib membawa pasangan? What?," timpal Alia lagi
"Hah? Kapan acaranya?," tanya Naava sambil menyeruput Java coffee late favoritnya
" Tiga puluh Mei dua ribu sembilan belas. Minggu depan ya?," jawab Alia
__ADS_1
"Aku bakal pergi dengan siapa ya? Alex? Nico? Jimmy? Menurut kalian?," tanya Gina sambil tersenyum. Ia tahu, bakal banyak pria yang akan mengajaknya ke pesta dansa itu, dan Gina, tentunya hanya tinggal tunjuk jari untuk memilih salah satu dari mereka.
"Sama tiga-tiganya aja! Hahahaha," kata Naava dan Alia sambil tertawa melihat Gina yang kesal mendengar jawaban mereka berdua
"Lia, kamu bakal pergi sama Cakka?," tanya Gina penasaran
"Ya kalo jadwalnya sedang kosong, mungkin dia mau ikut," kata Alia yang memiliki kekasih seorang Event Organizer terkenal, yang suka mengadakan konser-konser dari band-band luar negeri.
"Katanya Super Junior mau ke Indo ya? Cakka yang nge-handle?," tanya Naava pada Alia
"Iya, kayanya dia bakal sibuk banget deh," jawab Alia sambil menikmati donut kacang dihadapannya
"Aku mauuu nonton, pliss!!," seru Naava pada Alia
"Tenang! Tiket kita bertiga udah Aman!," kata Alia pada Naava dan Gina
"Yeeeayy!," seru Gina dan Naava sontak memeluk Alia.
"Iyaa.. By the way, lo bakal pergi bareng siapa Naa?," tanya Alia pelan tanpa mau menyinggung perasaan sahabatnya yang baru putus
"Entah.. Sendiri may be?," jawab Naava santai, membuat kedua sahabatnya itu terdiam. Seperti kasihan memandangnya yang tiada pasangan
"Hey! Santai aja, lagian gue kan bisa gangguin lo semua yang pacar-pacaran. Haha," kata Naava lagi sambil tertawa kaku
"Kapanpun lo butuh, kita tetap selalu ada kok Na.. Dont worry, ya Na.. " kata Alia sambil merangkul Naava
"Eh, itu si Gale bukan sih?," kata Gina tiba-tiba menunjuk ke arah salah satu toko sepatu wanita
"Dimana ada kita, kok dia selalu muncul sih?," kata Alia lagi.
"Naa, lo kenapa sih?," tanya Gina heran pada Naava yang tunduk dan menutupi mukanya dengan tissue
"Jangan sampe dia tau gue disini! Dia bakal laporin gue ke Oma," kata Naava gugup yang ternyata terlambat.
__ADS_1
Gale tidak sengaja melihat kearahnya, lalu mereka saling bertatapan. OH TIDAAAKK!!