Love And Medicine

Love And Medicine
Mencoba Bertahan


__ADS_3

“Terima kasih ya, Mang,” ucap Naava pada Mang Adi karena sudah menghantarkannya ke Rumah Sakit tadi. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Oma, Ibu dan Ayah Gale sepertinya juga sudah tertidur. Naava melangkahkan kakinya dengan berat kekamar tamu, tempat dimana Ia akan merebahkan sejenak badannya yang cukup letih itu.


Begitu banyak yang ada dibenakknya tentang perjalanannya ke Yogyakarta kali ini. Ia mencoba mengingat orang-orang baik yang ada disini, Ayah, Ibu, Gale, dan Ajeng. Tentang suasana nyaman yang Ia peroleh didalam keluarga kecil Gale, tentang cinta yang tulus dari Gale untuk Ajeng meski Ia sudah disakiti, tentang kisah Ajeng yang tetap ingin membahagiakan orang lain, meski dirinya sendiri terluka. Hah, begitu banyak cerita yang tertinggal disini. Tidak ingin rasanya Ia kembali begitu cepat meninggalkan semua kisah yang terjadi di Yogyakarta ini. Besok penerbangan ke Jakarta dijadwalkan take off pukul 10.00 wib, Ia harus segera istirahat dan melupakan segala kenangan pahit yang sudah Ia lihat dan dengar. Ia sudah memutuskan, untuk menghentikan perjodohan ini dan segera memberitahukan hal itu kepada Gale.


‘Gale harus bisa memilih tanpa perlu tekanan, tanpa perlu terbeban. Gale harus bisa memilih Ajeng, dimana hatinya berlabuh sejak lama. Aku bisa mengobati lukaku sendiri, lukaku tidak sebanding dengan luka bertubi-tubi yang dihadapi Ajeng’ ucap Naava dalam hati. Ia bergegas segera mandi, setidaknya bisa sedikit mengurangi penat yang dirasakan oleh dirinya. Seusai mandi, Ia segera menuju kamar tidur tamu, tempat Ia akan beristirahat dalam tidurnya. Tidak lama berbaring, dalam sekejab Ia pun langsung tertidur pulas.


***


Pagi ini Ia terbangun lebih cepat dari biasanya, Naava merasa sangat kehausan, kerongkongannya terasa kering. Ia berjalan sambil menutup mata menuju dapur rumah Gale, mencari-cari gelas dan mengambil air putih dari dispenser didekat lemari. Dia kaget, karena tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.


"Naa, bisa kita bicara sebentar? Semua tidak yang seperti kamu lihat, Naa,” ucap Gale yang tiba-tiba muncul dari belakang dan menarik tangannya


“Hah? Kamu? Kenapa tiba-tiba ada disini?," Tanya Naava kaget dengan kehadiran Gale didapur, pagi-pagi buta


“Jangan berpikir yang bukan-bukan, tadi malam tidak seperti yang kamu pikirkan,” kata Gale dengan tenang.


“Kamu kenapa bisa disini? Kamu harusnya di rumah sakit menjaga Ajeng!,” Tanya Naava bersikeras menanyakan hal itu pada Gale

__ADS_1


“Saya sudah izin pada Ajeng untuk pulang sebentar kerumah, Ibunya ada disana untuk menjaganya," kata Gale pada Naava. Ia masih tetap memegang tangan Naava kuat. Naava yang sudah berikrar didalam hatinya untuk membatalkan perjodohan ini, segera menghempaskan tangan Gale dan membuat Gale terkejut, Gale memandangnya dengan mata penuh tanya.


"Gale, maaf, saya tidak bisa melanjutkan semua ini," kata Naava pelan sambil tertunduk


"Naa, saya sudah jelaskan, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan," kata Gale memegang pundak Naava.


"Tolong, kita batalkan semua ini. Kamu dan Ajeng saling mencintai. Pergi dan kembali lah padanya," kata Naava menahan tangis. Ia mencoba menatap kuat mata Gale, Ia ingin mengisyaratkan bahwa Ia sudah cukup dengan semua ini. Rasa didalam dadanya sungguh sakit, ia coba sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan air mata didepan Gale. Ia tidak ingin Gale merasa kasihan kepadanya


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Saya dan Ajeng hanya..,"


"Saya berusaha untuk pura-pura tidak peka dengan perasaan kalian satu sama lain!! Tapi, lama kelamaan rasa ini menyiksa saya!! Saya tahu, disetiap sudut hati kamu hanya ada Ajeng!! Mata kamu berbicara, setiap kamu menceritakan hal-hal tentang Ajeng!! Cukup Gale! Saya berhenti, saya merasa sakit, karena saya mulai mencintai kamu!!," kata Naava sambil berderai air mata. Bibirnya bergetar mengucapkan kata demi kata yang spontan keluar dari mulutnya.


"Dan saya sudah cukup untuk itu semua, jadi tolong, saya tidak mau jatuh hati padamu terlalu jauh, semua begitu menyakitkan untuk saya, Gale..," kata Naava sambil menangis.


Gale secara spontan memeluknya dengan kedua tangannya. Ia tak mengucapkan sepatah katapun untuk Naava. Ia dekap Naava dalam pelukan, dirasakannya tubuh Naava yang bergetar karena menangis terisak. Mereka berdua berpelukan dalam diam, dalam hening. Gale tetap menunggu hingga Naava tenang.


"Kita akan tetap bersama, tolong jangan lagi ucapkan kata-kata itu. Saya tidak ingin berpisah dengan kamu. Percaya pada saya, Naa. Semua akan baik-baik saja..," ucap Gale sambil membelai rambut Naava yang terurai panjang. Naava hanya menangis dalam diam di pelukan Gale.

__ADS_1


"Tolong, jangan pernah menyerah untuk saya, Naa. Saya tahu, kamu punya hati yang lebih kuat daripada Ajeng. Saya tahu, bahkan dari hari pertama kita bertemu, kamu akan tetap mempertahankan saya apapun yang terjadi, dan saya juga langsung yakin bahwa kamu pasti juga akan jadi seseorang yang punya tempat tersendiri dihati saya," ucap Gale lagi. Ia memeluk Naava dengan lebih erat. Naava hanya menangis mendengar apa yang terucap dari bibir Gale.


"Sekarang, yang harus kamu lakukan hanya satu. Tunggu saya di Jakarta. Nanti, saat kondisi Ajeng sudah baikan, saya akan segera pulang ke Jakarta. Jangan ragu akan apapun, saya akan tetap bersama kamu, Naa," kata Gale pada Naava yang diam dalam dekapannya. Mereka kembali terdiam dalam pelukan, sampai Naava sudah merasa lebih tenang dari sebelumnya.


"Pesawat take off jam 10.00, Sekarang waktunya kamu bersiap-siap, saya akan antar kamu dan Oma ke Bandara," kata Gale sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Naava.


"Saya percaya kamu, Gal.. Saya akan menunggu kamu. Cepat kembali ya, rumah terasa sepi kalau tidak ada kamu disana," kata Naava sambil tersenyum.


"Iya, Naa, sekarang ayo, saya akan membantu kamu menyiapkan barang-barangmu," kata Gale pada Naava


***


Pesawat take off pada pukul 10.05 Wib, hanya telat lima menit dari yang dijadwalkan. Oma dan Naava kembali ke Jakarta. Dari Yogyakarta, Naava membawa sedikit demi sedikit jawaban tentang perasaan Gale selama ini. Hanya satu yang Ia simpan dalam hatinya, siapapun yang akan dipilih Gale kelak, yang Ia tahu, hatinya sudah Ia berikan untuk Gale. Gale yang keras dan jutek, Gale yang pemarah, Gale yang pendiam, Gale yang ternyata juga menyimpan rasa diam-diam pada dirinya.


'Selamat tinggal Yogyakarta, kota penuh kenangan. Suatu hari nanti, aku ingin untuk tinggal disini lebih lama lagi' ucap Naava dalam hati.


__ADS_1


__ADS_2