
"HEEYYY!!," kata Naava berdiri di pintu kamar Gale. Gale yang sedang membaca buku didalam kamar hanya diam, tidak menjawab apapun.
"Hey!! Kamu dengar ga sih????," teriak Naava kesal
"Hmm.. kenapa?," jawab Gale santai sambil meneruskan membaca
"Galee!! Kita lagi dirumah, bukan lagi ada dirumah sakit! Jadi kamu ngga usah sok-sok ngga kenal aku ya!!," kata Naava menutup buku yang sedang dibaca Gale
"Ah, iya, saya lupa! Haha maaf, saya sangat menikmati peran kita tak saling tegur, lebih asik, kamu berisik banget soalnya," kata Gale sambil tertawa kecil
"Ih, ngeselin banget sih kamu!," kata Naava cemberut
"Sekarang kenapa?," tanya Gale sambil merebahkan badannya ke kasur
"Kemarin apa maksud kamu bilang IQ ku rendah? aku sulit komunikasi? Kamu mau bilang aku idiot, yaaa?!,"
"Oh.. Itu. hahaha,"
"Kamu kok malah ketawa sih!!,"
"Iya, saya bilang itu, biar si Andri ga kerepotan ngajarin kamu yang bawel. Lebih baik saya peringati dia dari awal kan? haha,"
"Kamu ngeselin banget sih! Merusak citraku tauuuuu!!,"
"Citra? Sejak kapan kamu dapat piala Citra? Hahaha,"
"Ihh aku serius ini!!!,"
"Lah, tadi katanya kamu dapat piala citra, kan? Sekarang kamu jadi anggota Serius Band? Hahaha,"
"Susah emang ngomong sama orang sakit jiwa kaya kamu ya!! Stress!!,"
"Lah, siapa suruh mau ngobrol sama orang sakit jiwa haha"
"Okeee! Nanti kalau sampe ada yang naksir aku, baru kamu tau!! Intinya kita tetap pura-pura ga kenal! Byeeeee!!!," kata Nava kesal sambil pergi meninggalkan Gale
"Hahaha bye my sweetie pie!," kata Gale pelan
***
Keesokan paginya, Naava dan teman teman grup magangnya sudah siap sedia untuk memeriksa pasien yang datang. Ada beberapa yang menunggu di ruang gawat darurat (RGD), ada juga yang menunggu di Poli.
"Gimana nih kemarin yang dianter pulang? Cieeee Seneng dong ya," kata Naava mengganggu Gina
"Si Harry mah, ngantarnya ngga cuma sampe rumah, Naa. Ikut terus dia, sampe ke mimpi si Gina!!," kata Alia tertawa
"Ihhh.. kepo banget sih kalian tuh!! Hahaha. Pokoknya yaa, gue seneng banget semalam diantar sama Harry," kata Gina sambil tersenyum.
"Apa???? Lo dianter Harry? Keganjenan banget sih lo jadi cewe!," kata Naura yang tiba-tiba datang dengan Faraah, langsung melabrak Gina
__ADS_1
"Apaan sih lo, Ra?? Baru datang udah teriak-teriak!," kata Naava membela Gina
"Gara-gara temen lo ini, keganjenan minta dianter Harry!,"
"Eh, tunggu dulu! Emang lo siapa si Harry sih, Ra? Pacar bukan, kok jadi lo yang sibuk? Mau dia anter siapa aja kan hak dia sih!!," kata Alia berdiri berhadapan langsung dengan Naura
"Gue dan Harry bentar lagi pacaran! Jadi gausah ganggu-ganggu dia lagi ya lo!," kata Naura pada Gina
"Heh! Perempuan gatel! Suka-suka gue dong mau dekat ama siapa?? Gausah kepedean deh lo bakal jadi pacar si Harry!! Halu banget sih lo!," jawab Gina marah
"Eh, kenapa nih kalian kok berantem?," tiba-tiba Andri masuk ke Poli, dan melihat mereka semua.
"Ha? Engga dok, ini kita lagi diskusi obat untuk hipertensi aja," jawab Naava menutupi pertengkaran
"Oh, hipertensi. Makanya ngobrolnya kayak orang lagi naik darah ya? Hehe," kata Andri sambil tertawa
"Iya, dok, hehe,"
"Oh iya, tim kamu, siapa, namanya?,"
"Saya? Naura, dan Farrah dok,"
"Iya, Naura dan Farrah, tim kalian harusnya di Ruang Gawat Darurat, bukan? Kenapa ada disini?,"
"Eh, iya dok. Ini juga kita mau kesana, tadi kita lagi asik diskusi, permisi ya, dok," kata Farrah menarik tangan Naura
"Iya, iya," jawab Andri
"Gila ya dia," kata Gina pelan pada Naava
"Iya, stress," jawab Naava
"Stress kenapa, Naava?," tanya Andri yang mendengar pembicaraan mereka
"Eh, ngg, anu, bukan apa-apa, dok hehe,"
Saat mereka asik ngobrol, tiba-tiba seorang perawat datang dengan terengah-engah ke poli Jantung.
"Dok, tolong, segera ke RGD, ada pasien gagal jantung sepertinya," kata Santi, salah satu perawat disana.
"Baik, saya kesana. Kalian ikut saya," kata Andri pada Naava, Gina dan Alia
Diruangan RGD itu, ada seorang Nenek tua terbaring dengan mata tertutup ditempat tidur.
"Tolooong, tolong, tolong nenek saya dok!!," tiba-tiba seorang anak berumur sekitar tiga belas tahun masuk ke ruangan poli sambil menangis.
"Iya, kamu tenang dulu, tunggu diluar ya," kata Andri padanya. Lalu Ia segera memeriksa kondisi nenek tersebut
"Sinta, tolong siapkan ruangan operasi! Kita harus lakukan operasi jantung by pass segera, beliau gagal jantung," kata Andri buru-buru
__ADS_1
"Tapi dok, dokter Gale belum tiba, bagaimana untuk bius?," tanya Sinta lagi
"Naava, kamu spesialis anestesi 'kan? Ini pasien pertamamu! Kita tidak punya banyak waktu, cepat!," kata Andri pada Naava sambil berjalan cepat ke ruang operasi
"Siap, dok," jawab Naava cepat
****
Diruangan operasi itu, sudah hadir Naava sebagai dokter anestesi yang bertugas untuk membius pasien yang akan dioperasi, karena ada kemungkinan, pasien akan sadar ditengah-tengah operasi jika tidak dibius.
"Kamu siap? Saya akan mengawasi. Lakukan sebaik mungkin yang kamu bisa," kata Andri pada Naava
"Baik dok," kata Naava mengambil jarum suntik berisi obat anestesi, dan segera menyuntikkan ke tubuh nenek itu.
Jantungnya berdetak kencang,
'Ini pasien pertamaku, nyawanya berada ditangan kami berdua' ucap Naava dalam hati.
Pelan-pelan Ia suntikkan obat anestesi ke tubuh nenek itu, sepanjang melakukan tugasnya ia terua berdoa didalam hati. Ia terus berdoa sampai obat dijarum itu habis.
Selesai menyuntikkan anestesi, Andri langsung mengambil alih untuk melakukan operasi jantung.
"Pisau!," serunya pada perawat disana
"Gunting!," kata Andri lagi, seluruh perawat bekerja dengan cepat, karena tidak ada banyak waktu agar nenek ini bisa selamat.
Naava yang menyaksikan operasi itu, terus melihat ke layar monitor jantung, sambil berdoa. Semoga jantung nenek ini kembali normal.
'Ayo nek, nenek pasti bisa'
'Cucu mu menunggu diluar, nek!
'Berjuanglah, nek!'
*Ucap Naava terus dalam hati.
Tidak sadar, air mata keluar dari pipinya
Ia membayangkan satu hal, yaitu Oma Widya, yang punya penyakit yang sama.
Apakah seperti ini juga nanti yang akan dihadapi Oma?
______________________________________________
Hello readers*!
Berhubung Novel Love and Medicine sudah sampai di episode ke 26, pastinya readers semua sudah punya imajinasi sendiri tentang bagaimana visualisasi seorang Naava dan Gale, kan?
Nah, bagi saya penulisnya, saya juga punya visualisasi sendiri tentang sosok Naava dan Gale dimata saya. Dan saya ingin berbagi hal itu pada readers semua. Untuk itu, di bab 2, sudah saya tambahkan tentang visualisasi Naava dan Gale di akhir cerita ya.
__ADS_1
Silahkan menikmati visualisasi mereka dari versi saya, readers! Untuk karakter yang lain, seperti Ajeng, Danang, dan yang lain juga akan segera menyusul kok. Ditunggu ya. :)
Dan jangan lupa, untuk klik like, comment dan vote, agar saya lebih semangat lagi menulis bab-bab selanjutnya. Apapun bentuk dukungan kalian, sangat berarti sekali untuk saya. Terima kasih dan selamat membaca, readers ❤