
Hari Minggu adalah hari yang paling digemari oleh Naava, mengingat pada hari ini sajalah ia dapat beristirahat dan berleha-leha di kamarnya yang super duper nyaman itu.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan dia masih saja terbaring ditempat tidurnya, menikmati alunan musik jazz kesukaannya yang terdengar sayup-sayup ditelinganya. Rasanya badannya sudah diberi lem yang banyak, sehingga menjadi lengket dan tidak lagi bisa bergerak dari tempat tidur.
Ia merasakan rambutnya seperti dibelai-belai dengan halus, dan Ia membayangkan wajah Gale yang putih dan tampan duduk berada dihadapannya, dan dengan lembut dan belaian halus membangunkannya dari tidurnya.
'Hah, sungguh ini mimpi yang paling indah dalam tidurku' pikir Naava
"HEH! MAU BANGUN JAM BERAPA LAGI?! AYO BANGUN!!," teriak Gale yang ternyata memang sudah duduk ditempat tidurnya untuk membangunkan Naava.
Namun tidak seperti keindahan yang ada di dalam mimpi, dimana Gale membangunkannya dengan lembut, kenyataannya Gale malah mendorong-dorong tubuh Naava dengan jarinya, agar Naava segera bangun disertai teriakan-teriakan khasnya.
"Issshh! Iya! Aku bangun! Rese banget sih kamu gangguin orang tidur!," ujar Naava kesal sambil menutup wajahnya kembali dengan selimut.
"Hey!! Aku bilang bangun!! Bandel banget sih!!," kata Gale yang menarik selimut Naava dengan kuat, tak sengaja membuat tubuhnya jatuh tepat ke atas tubuh Naava, dan membuat wajah mereka bertatapan dengan sangat dekat, sampai-sampai hidung mereka bersentuhan.
Naava melongo saat mendapati wajah Gale sekarang tepat dihadapannya, jantungnya serasa hampir copot.
"Maaf! Ayo cepat bangun! Ayah dan Ibu akan berkunjung sebentar lagi kesini. Mereka penerbangan pagi tadi dari Yogya," kata Gale gugup, segera bangkit dari tempat tidur Naava.
"Apa? Ayah dan Ibu mau datang??? Kamu kenapa ngga bangunin aku dari tadi sih???," kata Naava kesal, langsung buru-buru bangkit dan mengambil handuk untuk mandi dengan langkah yang masik terseok-seok.
"Haisshh! Perempuan apa yang baru bangun jam segini? Sudah cepat sana mandi!!," kata Gale menggerutu.
Naava segera bersiap-siap mandi, dan memakai baju terbaiknya untuk menyambut kedua calon mertuanya. Ia ingin memberi penampilannya yang terbaik didepan mereka.
Tidak lama Ia selesai membereskan penampilannya, oma sudah memanggil dari lantai satu.
"Naa.. Ayo, sini lihat siapa yang datang!!," panggil Oma
"Iya Omaa!," balas Naava dari kamarnya.
Naava turun ke lantai satu, diruang tamu sudah berkumpul Ayah, Ibu, Oma, dan Gale yang sudah asik mengobrol.
"Halo, anak ibu yang paling cantik, apa kabarnya?," kata Ibu berdiri menyambut Naava
"Ibu!! Naa kangen sekali sama Ibu!! Ibu sehat kan?," kata Naava sambil langsung memeluk Ibu dengan erat. Rasanya Ia rindu sekali dengan pelukan Ibu Gale yang hangat dan lembut itu.
"Ayah, bagaimana kabarnya? Selamat datang dirumah Naa, ya, Yah, Bu..," kata Naava sambil mencium tangan Ayah.
"Sehat, nduk.. Kamu bagaimana kabarnya? Kamu kelihatan sedikit kurus. Gale tidak menyusahkanmu kan?," kata Ayah sambil tersenyum
"Hahaha.. Tidak, Yah.. Dia banyak membantu Naa selama kuliah disini," kata Naava sambil tertawa kecil
"Oiya, ini, Ibu bawakan oleh-oleh bakpia susu Yogya, kesukaan kamu..," kata Ibu sambil memberikan sekotak bakpia ke tangan Naava
__ADS_1
"Ibu.. Matursuwun, njih, buu.. Repot-repot bawa oleh-oleh untuk Naa..," kata Naava sambil tersenyum
"Kenapa hanya untuk Naa? Untukku mana? Memangnya sekarang Naava yang jadi anak Ibu dan Ayah?," kata Gale bercanda
"Yah iya..Mulai sekarang Naa sudah jadi anak kami berdua, kamu mah lewat, hahahha," kata Ayah membalas Gale
"Jahat kalian berdua, haha," kata Gale pada Ayah dan Ibunya
"Oiya, Gale, ayo, ajak Ayahmu beristirahat dulu. Ia kelihatan sedikit cape di penerbangan tadi. Kalau ibu sih masih mau ngobrol dengan Naava," kata Ibu pada Gale
"Oke bu, ayo Yah..," kata Gale mengajak Ayah keruang tidur tamu.
***
Naava, Ibu dan Oma asik mengobrol dari topik yang satu ke topik yang lain. Berjam-jam mereka habiskan waktu untuk mengobrol.
"Naa.. Ajak ibu berkeliling rumah dong, Ibu kan ingin tau Gale tidur dimana hehe," kata Ibu pada Naava
"Ibu mau lihat kamar Naa dan Gale? Ayo, bu, Naa kasih lihat! Oma kami tinggal sebentar ya.." ajak Naava pada Ibu
Naava mengajak Ibu ke kamar Gale yang kosong. Disana tergantung jas dokternya dikursi, rak-rak buku tersusun rapi, foto-foto Ayah, Ibu dan Gale terpampang rapi di meja kerjanya.
Ibu mengambil satu foto keluarga mereka yang ada disana.
"Ha? Kenapa Ibu bilang begitu? Ngga kok, bu..," kata Naava mengelak
"Gale itu sifatnya sama percis dengan Ayahnya, keras, dingin, jutek dan galak. Dulu mah, kalau dihitung, ibu sudah beratus-ratus kali putus nyambung dengan Ayahnya itu hahaha," kata Ibu sambil tertawa mengenang nostalgianya
"Ha? Serius bu? Kok bisa, bu? Hahaha,"
"Iya, dulu, Ayah Gale suka sekali membentak-bentak Ibu! Sangat posesif orangnya, ibu tidak boleh bergaul dengan laki-laki lain, harus selalu dengar perkatanyaannya, tidak boleh dibantah. Daaaann.. Tidak romantis sama sekali!! Hahaha.. Padahal ibu kan iri dengan teman-teman ibu yang lain, yang selalu disayang-sayang oleh pacarnya jaman itu..," kata Ibu sambil tertawa
"Ya ampun, itu mah, Gale banget buuu!! Hahahahha," kata Naava tidak menyangka
"Iya, sama dengan anakku itu, si Gale! Dulu waktu dia kecil, Ibu bahkan tidak boleh menggendong anak lain, kalau tidak, Ia akan meraung raung sejadi-jadinya, bahkan pernah sampai mogok makan seharian karena cemburu.. Haha "
"Hahahah! Gale memang orangnya cemburuan, ya, bu?,"
"Sampai sekarang pun dia begitu kan? Haha.. Tapi, yang bikin Ibu ngga bisa berpaling dari ayah, yaitu, setia nya dan perhatiannya pada Ibu. Meski Ia tidak pernah menunjukkannya secara langsung, tapi Ibu tau sayangnya dia pada Ibu..," kata Ibu sambil tersenyum
"Gale selalu marah dan bentak-bentak Naa, bu. Sikapnya kepada Ajeng dahulu, ngga seperti sikapnya kepada Naa. Sampai sekarang, Naa belum bisa merasakan Gale cinta atau tidak pada Naa, bu..," kata Naava tertunduk sambil tersenyum pasrah.
"Kenapa kamu bilang begitu, sayang?," kata Ibu mencoba duduk didekat Naava
"Dulu, setiap Ia berbicara tentang Ajeng, dia selalu berubah jadi sosok yang lembut, kelihatan sekali sayangnya Ia pada Ajeng. Naa belum bisa membuat Gale seperti itu pada Naa, bu..,"
__ADS_1
"Sabar sedikit lagi ya sayang?," kata Ibu memeluk tubuh Naava dengan tangannya.
"Naa rasa, Gale belum menaruh hati pada Naa, bu.. Cintanya masih pada Ajeng," kata Naava pelan, sambil menahankan sesak didadanya.
"Kita ngga tahu apa yang ada di hati seorang Gale, sayang. Gale itu penyimpan rahasia yang cukup handal..," kata Ibu sambil tersenyum
"Tapi bagaimana Naa tahu, Gale cinta pada Naa atau tidak bu? Gale tidak pernah bilang apapun pada Naa.. Ia hanya suka membentak Naa..," kata Naava sedih
"Naa, Gale itu sama percis seperti ayahnya. Dia bukan tipe laki-laki yang mudah memberitahu perasaannya. Ibu memang belum tau, bagaimana perasaan Gale pada Naa.. Tapi, ibu sudah merasakannya..," kata Ibu pada Naava
"Darimana ibu tahu?,"
"Dari perhatiannya pada Naa.. Setiap malam Ia telfon ibu, Ia minta ibu sering-sering menelfon Naa.. Tanya kabar Naa.. Karena Ia bilang, Naa itu kesepian dan tidak punya sosok seorang Ibu sebagai tempat curhatnya. Gale mau Ibu memberikan perhatian dan kasih sayang Ibu pada Naa, agar Naa ngga merasa kesepian, dan agar Naa mendapatkan kasih seorang ibu..,"
"Gale minta ibu begitu?,"
"Iya, sayang. Sosok Gale memang seperti itu, Ia tidak mau menunjukkan perhatiannya secara langsung, namun, ibu tahu, Ia benar-benar cinta pada kamu, sayang..,"
"Bu, Naa sangat sayang pada Gale. Semoga yang Ibu rasakan, bisa Naa rasakan juga ya bu..," kata Naava
"Ibu yakin, Gale sangat sayang pada Naa.. Ia bukan sosok yang cepat menaruh perhatian pada seseorang, kecuali orang itu benar-benar Ia sayangi..," kata Ibu membelai rambut Naava.
"Naa juga sangat sayang pada Ibu dan Ayah. Terutama Ibu, kehadiran Ibu dihidup Naa mengobati rasa rindu Naa pada Ibu kandung Naa sendiri. Terima kasih ya ibu sudah sayang pada Na," kata Naava memeluk Ibu dengan erat
"Ibu juga sangat sayang pada kamu, Na.. Ibu serasa punya anak perempuan, jadinya..," kata Ibu sambil tersenyum
"Jangan bosan-bosan dengerin cerita Naa ya, bu?," kata Naava
"Pastinya, sayang. Oiya, besok kan tanggal merah, gimana kalau kita jalan-jalan ke pantai, bareng Oma dan Gale?," kata Ibu memberikan ide
"Pantai? Naa mauuuuu buuuu!!!," kata Naava tersenyum dan memeluk ibu lebih erat.
Bersambung..
___________________________________________
Hello pembaca setia Love and Medicine tercinta! ❤
Jika kalian suka dengan kisah Gale dan Naava, please, jangan lupa untuk like, comment dan terutama vote, yah readers. 😊
Aku bakalan sedih kalau kalian suka, tapi ngga ngasih vote huhu.
Sekecil apapun dukungan kalian, sangat berarti untuk aku. Biar, novel ini bisa naik rangking, dan pembaca lain bisa ikut membaca kisah Gale dan Naava ini.
Terima kasih banyak yang sudah mau dukung aku yaaa. Itu bakal jadi semangatku untuk menulis kisah-kisah selanjutnya. Selamat membaca, dan love you all! 😊😊
__ADS_1