Love And Medicine

Love And Medicine
Hari-Hari Spesial


__ADS_3

Naava duduk didalam kamarnya. Merenungi kebodohan yang diperbuatnya.


'Apa sih yang kau pikirkan?'


'Kenapa sih kau begitu ceroboh?'


'Bodoh sekali kau, Naava!'


'Siapa dia ya?'


'Kenapa pesonanya begitu terpancar'


'Aku kan baru saja putus dengan Danang'


'Apa kata orang nanti?'


'Arggghh! Aku mesti sudah Gila! Cukup!!!'


Naava menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Dia mengambil handuk, diteguknya air putih dingin yang diambilnya dari dapur tadi. Sampai tidak berapa lama, tiba-tiba handphonenya berdering. Dilihatnya nama Danang muncul dilayar. 'Oke Danang, aku sedang kacau sekarang. Kau tidak perlu menambah kekacauan'. Kata Naava dalam hati. Namun lagi-lagi handphone berdering tak henti, membuat Naava mau tak mau harus mengangkatnya.


"Iya halo," kata Naava datar


"Na, kamu sakit? Suara kamu kok sendu gitu?," kata Danang mencoba perhatian.


"Iya," Naava mencoba mencari celah untuk segera mengakhiri pembicaraan.


"Kamu sakit apa sayang? Kamu mau makan apa, biar aku anter kesana sekarang ya," ucap Danang khawatir.


"Plis. Aku cuman perlu istirahat. Cukup kasih aku waktu sendiri aja ya. Terima kasih buat pengertiannya,"


"Oiya, dan satu lagi. Maaf, aku risih kamu panggil dengan sebutan Sayang" tambah Naava.


Lalu Ia segera memutus telfon, tanpa ingin mendengar balasan apapun dari Danang.


Naava bergegas mandi, dilanjutkan makan malam bersama Oma Widya dengan beberapa percakapan singkat sebelum tidur.


"Naa, gimana kuliah kamu hari ini?," tanya Oma dengan lembut.


"So far so good, Oma. Naa kedatangan dosen pengganti. Agak cerewet orangnya. Ketus banget sama mahasiswa," curhat Naava sambil menggulung-gulung mie yang ada dipiringnya, seperti tak berselera.


"Oh, gak ramah ya? Wajar, kan bapak-bapak dosen memang begitu, sayang," bela Oma


"Iya, yang ini beda, Oma. Dosennya itu masih muda banget, tapi gayanya selangit, Oma. Bicaranya ketus banget sama perempuan, kaya udah umur 50-an aja," jawab Naava kesal


"Yang sabar ya sayang, memang harus begitu menghadapi dosen. Namanya juga belajar,"


"Iya, Oma. Naa ngga bisa bayangin, gimana sosok perempuan yang bisa menjadi istri dari laki-laki seperti itu. Kasar, galak, bisa-bisa tak ada yang mau sama dia, ya, Oma? Hehe," kata Naava yang hanya dibalas senyuman oleh Oma Widya.

__ADS_1


"Oiya, Na, besok kita akan kedatangan tamu dari Yogya," kata Oma sambil menegak teh Jahe diatas meja


"Siapa, oma?"


"Kamu tunggu besok, ya. Ini kejutan," kata Oma membuat Naava penasaran.


"Haha, pake kejutan segala, Oma? Berarti spesial dong ya? Jadi ga sabar nih hehehe, yaudah, Naa tidur duluan yah Oma.. Hari ini rasanya badan Naa cape sekali..," kata Naava sambil meletakkan piring terakhir dari tempat pencucian piring. Ia memberikan kecupan selamat tidur kepada Oma Widya, dan setelah itu segera pergi tidur.


Ia rebahkan badannya ke atas tempat tidur miliknya, menengadah ke langit2 kamar, sambil memejamkan matanya, dan menikmati suara music the carpenter yang sayup-sayup menemani tidurnya..


"Why do stars fall down from the sky,


Everytime you walk by,


Just like me, they long to be


Close to you.."


Ia dalam sekejab tertidur pulas


***


KRIIINGGGGGGG


Jam Alarm di meja membangunkan Naava dari tidurnya yang lelap. Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Terdengar bunyi riuh didapur, menandakan Oma Widya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Naava segera mandi, hari ini Ia ingin tampil cantik secantik-cantiknya, ntah angin apa yang membuatnya lebih bersemangat pergi ke kampus. Ia memilih kemeja lengan 3/4 bermotif bunga merah muda, dan rok tutu selutut dengan warna senada. Tak seperti biasanya, ia mengenakan sedikit riasan diwajah, dan rambut ya tergerai indah ia tata rapi, ikut menambah kesempurnaannya hari ini.


"Siap Oma," Bergegas Naava turun dari lantai 2 kamarnya menuju dapur, disana sudah terhidang bubur ayam khas buatan Oma Widya, Susu Coklat kesukaan Naava, daaann... Oh No! Kenapa Manusia ini ada disini? Apa aku bermimpi? Tidak, ini tidak mungkin!


Kaki Naava tersandung saat menuruni anak tangganya terakhir. dr Gale Pranatha Surya? Apakah ini sungguhan? Ayolah Naava.. Jangan bercanda, ini masih pagi.. Ucapnya dalam hati.


"Ayo duduk disini sayang, kita sudah kedatangan tamu spesial, ini dr. Gale Pranatha.." kata Oma yang langsung disambung oleh Naava.


"Surya.. Kenapa.. Kok bisa ada disini?," tanya Naava seakan tak percaya akan apa yang dilihatnya.


"Sini, beri salam dulu dong, Ia baru sampe semalam, mau kesini tapi kesasar menuju kerumah kita. Jadinya baru bisa sampe pagi ini..," kata Oma Widya


"Apa dia terbiasa begitu, Oma? Sering melamun dimanapun dan seperti tidak pernah diajar sopan santun saat bertemu orang!," kata Gale ketus.


"Hey! Apa maksud kamu?," tanya Naava kesal. Ada orang aneh yang tiba-tiba langsung mengomentarinya ini itu.


" Hey.. Hey.. Naa, ayo sini dulu, sama Gale. Dia ini anaknya dr. Handan dan dr. Ana, sahabat dekat mama dan papamu dulu. Dulu kalian berteman sangat baik, loh..," kata Oma sembari menarik tangan Naava untuk bersalaman.


"Saya Gale, kemarin kita sudah bertemu, maaf saya tidak menandai kamu..," kata Gale dingin dengan logat Jogjakarta sopan khasnya.


"Saya Naava, mahasiswa yang kemarin kamu bentak. Dan sekarang kamu komentari ini itu. Terima kasih loh ya. Selamat Datang di Jakarta..," kata Naava memperkenalkan diri dengan nada protes.


"Loh, loh, kok jadi kaku begini suasananya. Baru juga kenalan, ayo ayo, duduk dulu kita sarapan," kata Oma melerai. Gale kembali duduk di meja makan. Tepat dihadapannya, Naava dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Gale, bagaimana keadaan Ayah dan Ibumu? Sehat?," tanya Oma Widya


"Sehat, Oma. Oiya, Ibu dan Ayah titip salam buat Oma. Mereka juga ingin sekali berkunjung kesini, Oma," jawab Gale


"Wah, Oma juga kangen sekali dengan anak-anak Oma itu. Oiya, Gale, apa tas mu sudah diangkat semua kedalam rumah? Nanti biar Naava membantu mengangkat koper-kopermu ke kamar," kata Oma


"What? Kamar? Apa maksudnya Oma?," tanya Naava kaget


"Gale mendapat tugas untuk menggantikan dosen di kampusmu yang berhalangan selama sebulan ini, yah ayah dan ibunya sudah meminta izin biar ia tinggal disini saja," jelas Oma.


"Hahh?! Sebulaaaann?? Nooo!" kata Naava spontan.


"Loh kenapa reaksi kamu begitu, Naa? Gale kan juga bisa membantu kamu dalam belajar Anestesi nanti. Harusnya kamu bersyukur. Ayo, bantu Gale angkat barang-barang dulu" suruh Oma


"Iya Oma," jawab Naava dengan nada bermalas-malasan


"Boleh kamu bantu sekarang?," tanya Gale pada Naava


"Iya, terserah deh," kata Naava terpaksa.


***


" Koper aku cuma 3 kok, ga banyak," kata Gale pada Naava sambil menunjuk ke arah koper-koper milik Gale di dalam mobil


"Hah? Maksud kamu aku yang angkat, gitu?," tanya Naava dengan mata melotot.


" Yah iya, kan Oma yang bilang begitu. Tamu harusnya dilayani dengan baik,"


"Kamu ngeselin banget sih, ih!," kata Naava mengumpat kecil


"Maaf, kamu bilang apa?"


"Engga, udah lewat! Yang mana nih yang mau diangkat? Semua?"


"Ya iya, semua," kata Gale tenang melihat kegusaran yang ada di wajah Naava.


Naava tertatih-tatih mengangkat koper milik Gale ke lantai 2 rumahnya. Yang membuatnya tambah kacau, kamar tamu tempat Gale tidur selama sebulan ini berada percis di depan kamarnya. 'Bisa-bisa hidupku tak tenang tinggal dirumah sendiri' kata Naava dalam hati.


"Taruh disitu aja, terima kasih," kata Gale sambil menunjuk ke sudut kamarnya


"Iya sama-sama," jawab Naava kesal


"Eh, kamar mandi disini cuma satu?," tanya Gale


"Iya. Cuma ini. Kita pakenya gantian"


"Susah juga ya, dirumah ini tidak ada kamar yang punya toilet tersendiri?," tanya Gale lagi


"Nyusahin banget sih kamu! Gak ada! Kehotel aja sana," teriak Naava dengan raut muka kesal masuk ke kamarnya. Gale hanya tersenyum melihat ekspresi wajah lawan bicaranya itu. Ia merasa puas bisa membuat kesal Naava.

__ADS_1


***


__ADS_2