
"Ayo, cepat sedikit!! Kamu mau kita makan jam berapa kalau kamu lama begini???," panggil Gale dari lantai satu rumah. Ia sudah terlalu lama menunggu Naava yang sedang bersiap-siap untuk makan malam mereka kali ini.
"Yess! Aku udah siap, bentar!," teriak Naava dari kamarnya.
"Kita hanya pergi makan, bukan mau pergi undangan! Jangan berias terlalu lama!!," bentak Gale lagi
"Iya, cerewet banget sih..," Naava mengumpat pelan sambil memasang jam tangan cokelat di pergelangannya. Ia merapikan rambutnya, sekali lagi Ia memastikan di cermin, tidak ada yang kurang lagi pada penampilannya. Gaun selutut pink berbunga, lipstik pink muda, rambut yang pirang bergelombang dibiarkan terurai dengan indahnya. Ia mengambil tasnya, mematikan lampu kamar, dan bergegas turun menemui Gale yang sudah bosan menunggu dua jam lebih, dari janji mereka berdua.
"Hei! Kamu tahu ini sudah jam ber...," kata Gale yang mulai marah, namun tiba-tiba terpana melihat keindahan sosok Naava dalam balutan Gaun berbunganya keluar dari dalam kamarnya. Ia melihat sosok Naava yang berbeda dari biasanya, wajah Naava yang putih bersinar, dan pipi merahnya, dan senyuman kecil dibibirnya yang berwarna pink, menambah manis penampilan Naava saat itu.
Gale tak kuasa melanjutkan kata-kata untuk melampiaskan rasa marahnya pada Naava. Ia kalah dengan pesona Naava. Ia benar-benar terpesona melihat penampilan Naava malam ini.
"Apa aku sudah cantik?," tanya Naava menghampiri Gale dengan gerakan memutar untuk memperlihatkan gaunnya itu. Gale memandang Naava yang sedang menebarkan pesona dengan tampilannya yang memukau.
'Kenapa aura wanita ini tiba-tiba terpancar begitu merekah malam ini?'
'Dia cantik sekali...'
'Wajahnya bersinar layaknya malaikat tak bersayap'
'Siapa pria yang tidak jatuh hati melihatnya?'
Kata Gale, Ia terus memuji dalam hatinya.
"Iya.. kamu.. kamu..KE-LA-MA-AN!!!," kata Gale dingin, sembari langsung bergegas kedalam mobil. Ia tak kuasa memandang Naava terlalu lama. Tapi Ia sungguh menolak untuk memberi pujian langsung kepada Naava, harga dirinya terlalu tinggi untuk memuji seorang Naava. Lagian, dia sudah keburu badmood karena menunggu terlalu lama.
Naava segera memasuki mobil setelah berpamitan dengan Oma. Ia duduk di kursi depan mobil Gale, merapikan gaunnya yang terlipat.
"Ayo kita berangkat! ," kata Naava sambil tersenyum
"Bagaimana bisa kita pergi, kamu belum memasang seatbeltmu," jawab Gale yang langsung menarik seatbelt dari samping kursi Naava. Pergerakan Gale yang tiba-tiba mendekatkan tubuhnya pada Naava untuk menarik sabuk pengaman, membuat Naava kaget, sontak langsung menutup matanya. Ia terkejut, karena Gale dan dirinya saling bersentuhan satu sama lain. Terasa hembusan napas Gale melewati wajahnya yang membuat jantungnya berdegup sangat cepat. Ia menarik napas panjang, rasanya Ia semakin sulit bernapas saat dihadapkan dengan wajah Gale tepat dihadapannya.
"Sudah," kata Gale sambil menghidupkan mesin mobilnya. Naava perlahan membuka mata, dan mencoba bersikap tenang dengan apa yang baru saja dirasakannya saat itu. Gale menghidupkan musik untuk memberikan rasa relaks diantara mereka berdua.
***
Tepat pukul setengah delapan malam mereka tiba di restauran Belmondo, salah satu tempat bersejarah bagi Naava. Mengingat ditempat inilah pertama kali Gale menyatakan bahwa Ia akan menikahi Naava didepan Ajeng, mantan kekasih Gale. Walau setelah saat itu Naava tahu, bahwa tujuan Gale menyatakan hal itu adalah semata-mata hanya untuk membuat Ajeng cemburu bukan karena Ia benar-benar cinta pada Naava.
Ya, Naava sama sekali tidak memusingkan hal tersebut, yang terpenting saat ini ialah perasaannya yang sudah mulai terbuka untuk menyambut Gale. Begitupun sebaliknya yang dirasakan Naava tentang perasaan Gale. Naava merasa Gale pun sudah mulai menerima Naava dengan tingkah-tingkah manisnya sesekali pada Naava.
"Sini saya bantu," kata Gale menarik kursi, agar Naava bisa segera duduk. Malam itu Gale memang kelihatan berbeda, Ia lebih manis dibanding biasanya.
"Terima kasih," jawab Naava sambil tersenyum. Pelayan restaurant segera mendatangi mereka untuk mencatat menu mereka malam itu.
__ADS_1
"Aku paling suka steak tenderloin disini, kamu mau coba?," kata Naava pada Gale. Gale hanya mengangguk tanda setuju pada Naava. Ia baru pertama kali mencoba makan di sana, tidak salah membiarkan si tuan rumah menyuguhkan makanan yang recommended, pikir Gale.
"Vannila blue Ice, satu, mba," kata Gale memilih minuman sembari menunjukkan gambar di Menu pada pelayan restauran
" Dan Strawberry Milkshake," sambung Naava memilih minuman Favoritnya
"Baik mohon ditunggu pesanannya. Terimakasih," kata pelayan tersebut seusai mencatat menu pesanan Gale dan Naava.
"Eiya, ngomong-ngomong Gal, kamu kelihatan sibuk beberapa hari kemarin. Aku sampai segan minta bantuan untuk makalahku," kata Naava memulai pembicaraan
"Oh.. Itu.. Saya sedang ada tugas di Yogyakarta, jadi harus kembali kesana. Tapi pulang-pergi hari itu juga," jawab Gale singkat
"Pasti sangat penting ya, sehingga kamu harus terpaksa pulang pergi. Dan kamu juga pasti kelelahan sekali," kata Naava sembari menyeruput Strawberry milkshake yang baru diantar ke meja mereka
"Iya," kata Gale lagi singkat
"Oiya, by the way, apa sekarang kamu sudah mulai akan cerita?," tanya Naava pelan tapi pasti pada Gale
"Tentang?,"
"Tentang wanita yang kita jumpai kemarin, di restauran ini,"
"Oh.. Dia.. Kamu pasti tidak mau mendengar banyak cerita tentang Ajeng.."
"Dia mantan kekasihku," jawab Gale singkat. Mendengar itu Naava sontak berhenti dan meletakkan garpu yang ada ditangan kirinya.
Jantungnya berdetak kencang,
'Benar, seperti apa yang sudah kuduga' pikir Naava dalam hati. Ia tidak tahu akan berkata apa setelah ini, apa dia sanggup mendengar segala kisah yang terjadi antara Gale dan Naava, tentu tidak. Hatinya akan teriris-iria mendengar kisah mereka berdua. Disisi lain, Naava yang akan bertunangan dengan Gale, seharusnya Ia tahu sedikit tentang apa yang terjadi dengan masa lalu calon tunangannya itu.
"Oh, oke. Kenapa kamu terlihat sangat benci dengannya?," kata Naava mencoba tenang. Ia berusaha untuk menguatkan hatinya, dengan apapun nanti yang Ia dengar dari Gale
"Kami sudah berpacaran sangat lama, bahkan dari kecil kami sudah bersama. Ia memilih untuk setuju dijodohkan dengan rekanan orangtuanya dan meninggalkan saya," jawab Gale tenang, sambil menikmati potongan daging pertamanya
"Apa dia matre? Sehingga dia mau meninggalkan kamu?"
"Ajeng bukan seperti gadis biasanya, Naa. Ia sopan, hatinya lembut, dan penurut. Ia tak bisa menolak keinginan ayahnya. Meskipun hal itu menyakitinya" jawab Gale sambil tersenyum. Terasa sakit sedikit didada Naava mendengar kalimat pujian-pujian yang terlontar dari mulut Gale untuk Ajeng.
Dikepala Naava, hanya terlintas
'Seorang Gale, yang keras dan kasar, bahkan bicara pelan saja padaku dia susah, boro-boro memujiku. Tapi kali ini dia terlihat sangat tulus memuji gadis bernama Ajeng ini. Pasti hatinya sangat melekat pada sosok seorang Ajeng. Tak salah dia teramat kecewa, saat Ajeng pergi darinya'
"Kenapa kamu tidak jumpai orangtuanya? Kamu seharusnya berusaha mempertahankan Ajeng," jawab Naava, tak sadar ia gemetar memegang garpu yang ada ditangannya. Ia cemburu, tapi bersikap seolah santai.
__ADS_1
"Saya sudah berbuat lebih dari usaha, Orangtuanya tetap tidak setuju, aku bukan dari keluarga kerajaan. Ajeng tidak mau ikut bersamaku, durhaka pada orangtua katanya," jawab Gale santai. Terasa raut wajahnya yang masih menyimpan kecewa teramat dalam atas keputusan Ajeng saat itu.
"Dia cantik ya, kalian berdua harusnya serasi. Upss!!! Maaf! Maaf! Aku tak sengaja," kata Naava, tak sengaja Ia menekan pisau untuk memotong daging steak terlalu kuat, sehingga potongan daging keluar dari piringnya. Ia merasa sakit dihatinya saat mengucapkan kata-kata barusan.
"Saya sudah terlalu nyaman dengannya. Tidak pernah lagi kujumpai gadis setenang dan dewasa dirinya. Dia bisa mendamaikan saya yang keras ini," kata Gale sambil tersenyum.
Sepertinya, setiap hal tentang Ajeng yang diceritakan Gale, membawa kenangan yang manis untuknya. Ia terus tersenyum saat menceritakan segala hal tentang Ajeng. Berbeda seperti saat mereka berdua berbicara, yang ada hanya adu mulut saja.
"Tapi sekarang dia hanya sepenggal kisah masa laluku saja," kata Gale lagi yang membuat perasaan Naava tenang.
"Kamu itu orang baik, seharusnya kamu juga bisa dapat pasangan sebaik dirimu. Aku percaya, suatu saat kamu juga akan mendapatkan kebahagiaan meski bukan dengan dia," kata Naava pelan sambil meneguk kembali minuman yang ada dihadapannya
"Sekarang saya sudah mulai menata hidup. Dijodohkan dengan kamu, saya rasa itu betul-betul ide yang buruk yang pernah saya jalani. Kamu sama sekali bukan tipe saya, Naa..," kata Gale sambil tersenyum lagi. Naava memandangnya serius, kenapa harus sekarang dia mengatakan ini, pikir Naava. Hanya menambah sakit hati.
"Tapi, saya heran, belakangan saya merasa sangat terbawa dengan diri kamu yang riang ini. Saya merasa nyaman, hati saya terasa semakin hari semakin baik jika bersama kamu. Ini terlihat bukan seperti diri saya sendiri.." sambung Gale pelan. Naava hanya terdiam mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Gale. Ia tertunduk malu, sambil tersenyum.
Naava yang ingin menyampaikan sesuatu, terpaksa terhenti mendengar bunyi handphone Gale yang tiba-tiba berbunyi.
Dilayar tertulis : Panggilan dari Ibu
Segera Gale angkat telfon dari Ibunya itu
"Halo, Njih, bu.." kata Gale menjawab telfon ibunya
"Apa? Kenapa dengan Ajeng????"
"Saya kesana sekarang! Penerbangan malam ini," kata Gale lalu memutuskan telfonnya.
"Naa, maaf saya harus ke Yogya sekarang. Penting, saya tidak bisa jelaskan sekarang. Saya akan panggilkan taksi untuk mengantar kamu pulang," kata Gale buru-buru.
'Kenapa harus ke Yogya malam ini?'
'Aku mendengar dia menyebut Ajeng ditelfon, apa ini semua tentangnya?'
'Semoga tidak ada hal yang buruk terjadi'
Ucap Naava dalam hati. Ia terlihat sangat kacau malam itu.
Gale segera memanggilkan taksi, untuk menghantarnya pulang karena Gale sangat terburu-buru.
"Kamu hati-hati," pesan Naava terakhir sebelum Gale menutup pintu taksi.
"Iya. Maaf saya tidak bisa mengantarmu pulang," jawab Gale pelan
__ADS_1
Taksi melaju dengan cepat ditengah jalanan di malam gerimis yang sepi. Hanya itu yang menemani Naava saat ini. Lagi-lagi, kenapa semua hal terasa lebih sedih disaat hujan turun?